Sudut kota Jakarta sebagai sumber ekspresi. By Tubagus Arief Z.M.P

Surosowan-Tb Arief Z-art
Jayakarta Freedom self defense. By Tb Arief Z. Akrilik on canvas 100 X 80 cm. (2010). Step-1
Surosowan Tb Arief Z-art
Jayakarta Freedom self defense efek dekoratif adobe psd CS6. by Tb Arief Z.(2012)
Surosowan Tubagus Arief Z-art
macan-ali-by Tubagus Arief Z-art
Surosowan-art doc
Monumen kakek buyut, Sultan Ageng Tirtayasa-Abdul Fattah Ahmad Kenari

Peristiwa Jakarta di bom Belanda, akibat Sultan Tirtayasa dengan Belanda menangkap perwira tinggi J.P.Coen yang punya pasukan Belanda di abad 16 m.

Pasukan Mataram dan Banten memenggal oknum Belanda J.P Coen di perang Batavia hingga muncul cerita hantu tanpa kepala gentayangan penasaran di sekitar situs pelabuhan benteng Belanda dulu dekat museum Bahari, situs kota tua Jakarta.

Surosowan-art doc
Monumen Sultan Ageng Tirtayasa
Surosowan-art doc
The last Surosowan Sultanate Banten Darussalam throne family
Surosowan-art doc
Satria piningit Surosena Arifin S.Sn FSRD IKJ bin Tirtayasa: ‘was here’ di puing2 istana Surosowan
Surosowan-art doc
Fico Fathan, adik / anak kemenakan (2011)
Surosowan-art doc
kaos lukisan motor jagur,(2012) By Tb Arief Z. Ukuran Xl. Price : Rp 80.000
Surosowan-art doc
sketsa macan jagur/ macan tutul (leopard/jaguar). By Tb Arief Z (1999)

Jakarta kota kelahiran

Kota Jakarta ialah kota kelahiranku. Keluarga sebenarnya termasuk warga urban sejak awal orde baru 1965 pindah ke Jakarta, tapi urban Sunda dan Jawa, masih pribumi Jawa di Jakarta. Tapi, dari latar keluarga juga masih bangsawan Surosowan kesultanan Banten Darussalam, bahkan turunan Ratu terakhir Sultana Banten Darussalam dari Ibu, dan dari Bapak hadiningrat Mataram Ngayogyakarta.

kaos museum fatahilah kota tua Jakarta. By Tb Arief Z-art. Ukuran XL. Sablon DTG. Price : Rp 80.000
kaos museum fatahilah kota tua Jakarta. By Tb Arief Z-art. Ukuran XL. Sablon DTG. Price : Rp 80.000

Jadi, sebenarnya jika di bilang warga urban, mungkin kurang tepat juga, lantaran dari ayah dan Ibu masih keluarga Sunda-Jawa, jadinya masih termasuk bumiputera lokal Jawa, dan Sedayu-Jakarta. Bahkan menemukan pula masih punya kerabat warga Jakarta sejak masa pemerintahan Hindia, seperti di Petojo, dulunya dekat pusat markas polisi militer Belanda.

Di mana keluarga kerabat di Jakarta atau Batavia dulu, juga sekekeluargaan dari kakek buyut yang sama, Pangeran Banten, Mohammad Damien.

Pangeran Mohammad Damien juga cucu buyut dari Sultana Ratu Kahinten, Sultana terakhir Banten Darussalam, setelah Sultan Mohammad Rafiuddin yang di tangkap Daendels dan di buang ke penjara di Surabaya, akibat kasus penentangan pekerja paksa dan penjarahannya Daendels di proyek jalan raya Anyer-Panarukan, di Jawa.

Memang menurut pemberitahuan dari Ibu, sejak keturunannya Ratu Kahinten ini, menikah dengan pria hingga perempuan muslim Belanda, hingga berketurunan Pangeran putera mahkota Banten indo Belanda, Pangeran Mohammad Damien.

Di masa peralihan kekuasaan dari kolonial VOC dan Gubernur Jenderal ke pemerintahan Hindia, Pangeran Mohammad Damien yang juga peranakan Belanda turut mendapatkan keistimewaan dari Belanda.

Dekat istana merdeka kini, dulunya juga sempat jadi residen pemerintah Hindia Belanda. Jaman pemerintah Hindia Belanda, orang-orang Banten termasuk keluarga Surosowan dan Jayakarta juga ada yang menjadi pegawai pemerintah Hindia. Dulu bosnya pejabat tinggi Belanda.

Di mana bahkan kakek uyut Mohammad Damien di angkat jadi pegawai tinggi, Bupati dan tuan tanah kaya yang bahkan hingga memiliki tanah luas, hingga meliputi segenap kawasan jalan pasir kudajaya, perkebunan, yang juga terletak di kabupaten Ciomas, Bogor. Ciomas juga nama situs kawasan Banten lama, di mana terdapat Masjid ageng Banten dan situs istana Surosowan dulu.

Dan kakek buyut Pangeran Mohammad Damien di samping tuan tanah juga karena kena urusan ke sana kemari pula urusan memelihara tanah-tanah miliknya, juga hingga menikah beberapa kali, dan melakukan poligami hingga 3 isteri.

Menurut catatan sejarah dari Belanda, Belanda juga menyebut sebenarnya kolonial Belanda di Indonesia tidak sampai mencapai 3 abad, bahkan Belanda juga mengalami kerugian dan korban kehilangan banyak pasukan. Karena juga tidak mampu menahan dan kalah menghadapi pemberontakan-pemberontakan perlawanan dari bumiputera Indonesia.

Bahkan Belanda jadi ikutan mengajukan penduduk-penduduk di daerah untuk beragama Islam. Karena juga terpengaruh takut menghadapi perlawanan-perlawanan.

Dan buruknya peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda, dengan kekuasaan VOC dulu, juga menyelipkan sifat buruk, yaitu korupsi, katebelece, sanksi subversif semena-mena pengadilan tidak adil pada pribumi, kapitalisme dulunya barat, kemudian juga terselip ke elit bumiputera di tanah air.

Tb Arief Z-art
skandal korupsi Indonesia. By Tb Arief Z-art. (2010). Lukisan cat Mowilek dan pernis di kanvas liman Yogya, 100 X 120 cm. Price : Rp 1,5 juta

Di samping sejak abad 16m., sejak di rubah namanya menjadi Batavia hingga kembali ke Jakarta, Jakarta sudah berabad-abad jadi ibukota, wilayah pusat pemerintahan.

Tapi, kini sudah 60-an tahun Indonesia merdeka. Dulu sekedar jadi pegawai, ada pula keinginan lagi menjadi Sultan, wirausahawan, sesama bos. Kesetaraan manusia, sesuai dengan hak asasi manusia internasional.

Bahkan sejak kepindahan keluarga di tahun 1965, sudah seperti merasa sebagai warga lama dan orang Betawi di Jakarta.

Bagaimana tidak, sedangkan di sejarah terdapat babakan sejak masa Sultan Banten I, Maulana Hasanuddin, Jakarta sudah termasuk wilayah bawahan kesultanan Banten Darussalam, juga di perang Batavia, pasukan Mataram dan Banten pernah bersama-sama berjuang untuk mengenyahkan penjajahan Belanda di tanah air.

Memang jika di hubungkan dengan latar keluarga sendiri, Alhamdulillah mendapatkan rahmat sebagai golongan warga dan bumiputera berhak istimewa, karena golongan bangsawan kesultanan Banten dan hadiningrat Kota Gede, Ngayogyakarta.

Dulunya kota Jakarta bahkan masih di jaman orde baru, jumlah penduduknya masih imbang. Di jalan, kendaraan belum macet, tapi keberadaan kemegahan Jakarta sebagai ibukota masih nampak.

Antara jalan dengan kendaraan, rumah-rumah warga masih imbang jumlahnya. Bahkan kota Jakarta masih punya area-area empang, kebon, hingga sawah, dengan penggunaan istilah Jabodetabek.

Bahkan pernah wilayah Banten masih termasuk Propinsi DKI Jakarta, di mana baru masa pemerintahan Ibu Megawati S., menuntut menjadi Propinsi sendiri, Propinsi DI Banten.

Padahal justru keluarga sulung putera mahkotanya kesultanan Banten (dari Sultana Ratu terakhir, nenek buyut Ratu Kahinten abad 18 m) sebagai Raja hak otonomi penguasanya terdapatnya di Jakarta dan Bogor, hingga di kota Bandung. Di mana kenyataannya yang di Propinsi Banten tinggal keluarga adik-adik kekerabatannya.

Apalagi juga dengan kontroversi, justru Gubernur Propinsi DI Banten kini juga terindikasi korupsi, seperti pada Ratu Atut Chosiyah. Atau DPRD di Banten, dengan terdapatnya demonstrasi dari mahasiswa dan warga di Banten.

Tapi dulupun warga Jakarta juga pernah kontroversi dengan Gubernur DKI sebelumnya, misal pada Prof. Fauzi Bowo / Foke.

Di mana Foke juga di samping di sebut sebagai gubernur DKI yang sombong, juga terindikasi korupsi sejumlah proyek pembangunan. Bahkan oleh KPK sempat jadi buron karena tiba-tiba telah pergi ke Jerman, padahal sedang akan di selidiki KPK pada korupsinya dari dana bansos, sekitar 12 milyar rupiah.

Bahkan tetangga orang Sunda dari PKS yang juga lulusan dan pegawai di kantor pemerintah Jakarta pun sempat memberitahukan wanti-wanti jika memilih Foke, seperti ada apa-apanya.

Ketika menjadi Gubernur DKI, Foke pernah memberitahu soal proyeknya melebarkan kali juga pembersihan kali, yang paling menonjol di lakukannya di sekitar kali dekat kawasan Pasar rumput, Manggarai. Bahkan proyek juga termasuk dengan permintaan anggaran dari APBD DKI Jakarta.

Tapi, nyatanya setelah masuk ke masa Gubernur DKI, Jokowi, tetap saja kawasan itu banjir, bahkan luapan banjir hingga ke Jakarta pusat, seperti di bundaran HI. Bahkan Wagub DKI, Ahok juga menemukan terdapatnya penggelembungan dana APBD buat sejumlah proyek pembangunan di DKI Jakarta. Bahkan hingga nampak mengomeli pada staf Dinas pembangunan di  pemda DKI Jakarta, seperti dengan melayangkan ucapan,,,kamu bisa ngitung gak sih,,,karena kesal merasa di kibuli. Juga mengibuli segenap warga DKI Jakarta, sejak lama dari APBD, dari uang pajak dari warga Jakarta.

Surosowan Tb Arief Z-art
Ketika banjir di sudut kota Jakarta. By Tb Arief Z. Lukisan Cat minyak di kanvas 100 X 120 cm. (2004)
Surosowan-art doc
fly over metamorfosis (2012). By Tb Arief Z.
Akrilik di kanvas 120 X 90 cm. Price : Rp 3 juta

Ibukota Jakarta di sebut kota tempat 80 % uang rupiah Indonesia beredar. Tapi Jakarta sebagai ibukota pemeritah pusat juga sebagai pusat komplotan Bigbos korupsi.

Tb Arief Z-art
The Battle at Jakarta unsatisfy (2012). By Tb Arief Z. Cat akrilik dan cat karet di kanvas 3 panel, @65 X 165 cm. Price : Rp 3 juta

Pertarungan Gatotokaca vs Antasena di babakan puncak pralaya Bharatayudha mungkin penggambaran persisnya juga di Jakarta.

Jakarta ada yang sebut sebagai ibukota, pusat pemerintahan, tempat pusat Perum Peruri juga tempat beredarnya 80 % uang rupiah Indonesia. Walau nyatanya di Jakarta pula  terdapat kesenjangan ekonomi dengan perbandingan antara sebagian warga, masih miskin, pengangguran, bahkan terdapat orang-orang tunawisma yang tinggalnya di kolong jembatan.

Bahkan seperti di cerita Mahabharata, Gatotkaca yang putera mahkotanya kerajaan Pringgandani-Jodipati pun turut gugur di pralaya Bharatayudha. Walau di pralaya sempat termasuk di antara ksatria yang sempat bisa terbang.

Dan cerita Bharatayudha juga cerita mawayangnya Indonesia.

Tapi yang menariknya di cerita Mahabharata atau babakan pralaya Bharatayudha, Gatotkaca dan Antasena yang di kubu Kurawa pun sama-sama gugur, dan menderita kekalahan.

Dan termasuk hikmat di ceritanya, bahkan walau berkekerabatan, tapi lantaran idealisme kekesatriaan, Pandawa berperang dengan Kurawa. Di mana juga menampakkan pendapat dari Pak Robert Mc Namarra ketika di tanya kenapa sampai terjadi perang.

Dan ia menjawab, mungkin sudah human nature pula.

Di samping, ada pula pepatah Amerika,There’s no peace without justice.

Tapi, pernah pula penyanyi country muda belia, Taylor Swift mengatakan, seperti,,,apa itu keadilan, tiada keadilan di bumi,,,

Maka teringat lagi ucapannya Pak Robert Mc Namarra, Bohong yang namanya perdamaian, perang bisa saja muncul lagi,,,,apalagi di bumi juga telah bermunculan kekisruhan-kekisruhan. Ketidakpuasan.

Tapi dunia ini juga pernah merasakan masa-masa tenteram, damai, justru di masa ketika kenyataannya condong rasa keadilan. Hak-hak telah di bayar adil.

Seperti contoh di masa akhir Nabi Muhammad SAW., kesultanan Banten Darussalam mula-mula. Di mana juga berdampingan dengan masa Panembahan Senopati Raja Sutawijaya. Waktu itu pun kesultanan Mataram, Cirebon, Banten pula tidak berlebih-lebihan. Seperti nampak juga di keraton mula-mulanya, di kedaton Kota Gede, Cirebon, Surosowan, dan Demak masa Raden Patah. Justru ketika kedaton kerajaan-kerajaan tidak berlebih-lebihan dan tenggang rasa dengan rakyat, masih di masa melakukan saweran lingkaran ekonomi kerakyatan, justru di masa demikian masa damainya, masa jayanya bersama-sama pula.

Tapi ketika mulai terjadi kesenjangan berlebihan, apalagi dengan korupsi elit, ketidakadilan nampak di sana-sini, bahkan mengabaikan rakyat mulai pula terjadi bibit-bibit pemberontakan yang memang hak demokrasinya rasa keadilan bersama dengan rakyat.

Jakarta menjadi kota terkemacetan di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s