Lukisan masjid Banten, by TB Arief Z

English: A green version of http://commons.wik...

English: A green version of http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Allah-eser2.jpg (Photo credit: Wikipedia)

TB Arief Z-art

” Old Masjid ageng Banten,” , by TB Arief Z. Acrylic painting on canvas 120 X 90 cm

TB Arief Z-art

Old Masjid ageng Banten,by TB Arief Z painting efek Adobe Photoshop CS 6

TB Arief Z-art

Old Masjid ageng Banten, by TB Arief Z painting efek Adobe photoshop CS 6hujan rough pastel

Masjid ageng Banten di dirikan bersamaan di dirikannya istana Surosowan dan kasultanan Banten Darussalam di abad 15 m., di area Banten lama kini.

Setelah dengan pasukan Demak, Panglima Fatahilah atas anjuran Ki Sunan Gunung Jati di kirim untuk membantu misi putera sulungnya, Maulana Hasanuddin.

Fatahilah berhasil merebut kota Banten dari penguasaan orang-orang bawahan kerajaan Pajajaran Hindu Raja Surawisesa II. Kemudian  kekuasaan kota Banten di kembalikan lagi pada hak cucu Dipati pesisir Banten, Sang Surosowan pada Maulana Hasanuddin, sekalian di tahbiskan menjadi Sultan Banten Darussalam.

Jas merah ini kemudian juga turut menjadi bagian dari hak asal-usul istimewa kedaerahan di UUD 45, pasal 18, BAB Otonomi Daerah, berhubungan hak otonomi, kewenangan istimewanya Sultan Banten melalui hak waris, dari keturunan keluarga putera mahkotanya, mestinya.

Di kitab Duriyyatun nasihin, juga tersebut, bahwa urusan agama dan kekholifahan (termasuk kholifah Sultan) sebaiknya jangan di campur adukkan.

Kemudian dalam pembuatan UUD 45, Pancasila sebagai ideologi dasar negara kesatuan Republik Indonesia juga telah di sisipkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Di mana di gabung dengan konsep Pak Karno, dengan bentuk negara Indonesia sebagai juga bentuk negara sosio-nasional.

Di mana memang, dalam realitas jaman, UUD 45 dan Pancasila juga sempat di bubuhi butiran-butiran tambahan, di masa orde baru untuk kesesuaiannya menanggulangi masalah modern. Itu pun butiran-butirannya masih berusaha di persingkat, supaya juga sesuai dengan nilai-nilai penting yang di butuhkan untuk menunjang rakyat dan negara Indonesia.

Di kamus juga di sebut, sosial juga berarti lapisan kemasyarakatan atau lapisan kerakyatan.

Dan sosial ini bukan berarti sama benar dengan terjemahan komunisme, bahwa semua rakyat benar-benar di sama ratakan dengan hak-haknya. Seperti masih memandang hak istimewa raja, termasuk seperti di cantuman sila 5 Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seperti Fidel Castro pun pernah mengatakan bahwa ia tidak setuju di sebut beraliran komunisme, tapi sebagai makhluk sosial.

Di mana dengan terdapatnya realitas di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia terdapat kebhinekaan beragama Islam, Kristen protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Yang telah di sahkannya sejak masa awal berdirinya negara NKRI, cuma 5 agama-agama tersebut yang di akui di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan di Qur’an surat An-Nisa’ : 58, ALLOH SWT., juga berfirman,” Wahai orang-orang beriman jika kamu hendak menetapkan hukum, amanatnya dengan adil.” Dan dari ayat ini hubungan makna soal amanatnya urusan kekholifahan / pemerintahan.

Di urusan agama soal ibadah. Di mana di kedua bidang ini, urusan kekholifahan dan agama/ ibadah, bahkan menurut anjuran ajaran Islam pun perlu pembagian staf-staf bidang khususnya.

Dan Nabi SAW., juga bersabda,” Tiada agama tanpa akal sehat.”

Bahkan di Qs Al-Alaq, ayat 1, ayat dari ALLOH SWT., yang di sampaikan pertama melalui Malaikat Jibril pada Nabi Muhammad SAW., isinya,” Bacalah dengan nama Robb-mu yang menciptakanmu dari segumpal daging.”

Di mana dari ayat ini, bahkan dari ALLOH SWT., sudah memberitahu juga kodratnya manusia yang hanya terbuat dari tanah, dan terdiri dari daging juga. Kodratnya sebagai insan manusiawi, berbeda dengan Malaikat, tanpa punya syahwat karena tercipta dari unsur cahaya (Nur) dan sudah di ciptakan sedari mula sebagai Makhluk ALLOH sekedar ibadah, tapi tanpa bersyahwat, bisa terbang.

Dan Nabi Muhammad SAW., pun di temukan di siroh, berjalan hingga masuk ke pasar-pasar. Menunjukkan realistisnya sebagai manusia.

Nabi Muhammad SAW., juga bersabda,” Jangan pandang siapa, tapi pandanglah apa kebenaran yang di sampaikannya.”

Dan agama untuk bekal iman dan Takwa, di mana di Quran, ALLOH SWT., juga berfirman, “Berlaku adil termasuk mendekati Takwa kepada-Ku (ALLOH SWT).” Dan di Qs Al-Maidah :5, ” Wahai orang-orang beriman bertolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa. Dan janganlah kamu bertolong menolong dalam kejahatan dan keingkaran (dari amanat ALLOH).”

Sultanate Surosowan art-history doc

Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawawi

Syekh Nawawi ialah termasuk kerabat sepupunya Sultan ageng Tirtayasa (Abdul Fattah Ahmad Kenari). Di masanya abad 17 m., Syekh Nawawi juga di angkat menjadi Guru besar di Mekah. Termasuk keluarga Surosowan, istana kasultanan Banten Darussalam.

English: Kaaba at the heart of Mecca. As the n...

English: Kaaba at the heart of Mecca. As the night goes on pilgrims visiting the Holy House. (Photo credit: Wikipedia)

Beliau juga menulis kajian ilmiah risalah agama Islam. Tulisan-tulisannya berjilid-jilid menjadi banyak buku risalah fiqih Islam. Buku-buku risalahnya di jadikan panduan fiqih Islam, dan terdapat di perpustakaan Mekah dan sekitar Timur tengah.

Dan ketika di Banten juga beliau menuliskan risalahnya. Dan terdapat pula di perpustakaan Banten.

Buku-bukunya bertuliskan huruf Arab.

Di antaranya Tafsir Syekh Nawawi. Di dalam bukunya tercantum kumpulan rangkuman dari ayat Qur’an, hadits-hadits Nabi Muhammad SAW., dari riwayat shohih 4 ulama besar madSzhab Sunnah, yakni Syekh Syafi’i,  Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan pendapat-pendapat Ulama, menjadi kumpulan risalah menjadi kitab fiqih Islam.

English: "Arabic Language" in the Ar...

English: “Arabic Language” in the Arabic Al-Bayan Script (Photo credit: Wikipedia)

Terdapat cerita lucu sekitar masa Syekh Nawawi ini, ketika di Banten, kedatangan orang Arab yang bertubuh tinggi besar hendak berguru dan mencari Syekh Nawawi.

Tadinya si orang Arab mengira Syekh Nawawi yang terkenal di Timur tengah ini orangnya bak orang Arab, tinggi dan besar.

Dan ia bertanya pada sosok yang nampak bertubuh pendek  di kalangan penduduk setempat, Bantet, dan pendek dari ukuran orang Arab itu.

Ia menanyakan apa si sosok pendek bantet itu kenal dengan yang namanya Syekh Nawawi. Ternyata yang di tanya menjawab ke arah tempat nantinya ada pengajian majelis ta’lim yang akan di ajarkan oleh Syekh Nawawi.

Si orang Arab kemudian menuju ke tempat yang di tunjuk. Dan setelah sampai, rupanya si sosok yang di tanyanya nampak sedang mengajar di majelis ta’lim.

Dari sejak masa Nabi Muhammad SAW., tidak sembarang Ulama di jadikan sebagai panduan fiqih (hukum) Islam. Bahkan Ustad-ustad kini mengajarkan, bahwa pendapat-pendapat Ulama dulu masih lebih di pegang sebagai panduan termasuk di fiqih, ketimbang kini.

Di antaranya Ulama-ulama besar seperti Bukhori, Muslim, Syafi’i,  Abu Hanifah, Maliki, Ahmad Hambali, Syekh Abdul Qodir Jaelani, termasuk Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawawi. Bahkan dari penelusuran sejarah, Syekh Nawawi termasuk Ulama terjenius di dunia (di samping Syekh Bukhori) dan terbanyak hafalan dan pengetahuannya soal agama Islam, bahkan ketimbang para Wali Songo.

Bahkan Syekh Bukhori yang di sebut sebagai Ulama terjenius di dunia, masih bertanya lagi pada sesama Ulama, umat Islam. Juga Syekh Syafi’i yang pernah mengatakan, Jangan percaya padaku tapi pada apa ajaran yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

Di mana di antara umat Islam, untuk mencapai tingkat Ulama, jika sudah menghafal Qur’an dan puluhan ribu hadits, baru di sebut Ulama, tata caranya dari jaman dulu. Kemudian Ulamanya pun bertugas mengkaji lagi sumber riwayat hadits-hadits, untuk mengecek keasliannya benar/ shohih atau hasan dari sabda dan yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW.

Tapi, karena termasuk pendukung kerabatnya, Sultan Tirtayasa di perang jihad melawan penjajah Belanda, Syekh Nawawi termasuk figur yang di jadikan  daftar buruan Belanda. Apalagi setelah Sultan Tirtayasa kalah perang melawan Belanda di perang Tirtayasa (Tartiassen di sebutan Belanda, karena pasukan Surosowan di masa Sultan Tirtayasa terkenal dengan keandalan bahaya senjata meriam-meriamnya, bahkan hingga muncul istilah Bantam di kamus Inggeris dan Belanda).

Akibatnya membuat Syekh Nawawi pindah dari Masjid Kasunyatan Banten.

Dalam pengungsiannya, di tempat baru, Syekh Nawawi masih menyibukkan menuliskan buku-buku kajiannya di pengetahuan agama Islam.

Bahasa Indonesia: Lambang Provinsi Banten

Bahasa Indonesia: Lambang Provinsi Banten (Photo credit: Wikipedia)

Di generasi modern kini, antara kekeluargaan besar Surosowan, walau mungkin hanya di temukan 1 yang berhasil menjadi penerus Ulama, walau tidak sejenius Syekh Nawawi, tapi di antara generasi Surosowan kebanyakan di bekali pendidikan agama Islam, sejak usia dininya. Bahkan di antaranya pula telah berkakek yang termasuk di antara Jas Merah founding father pendirian negara nasional kesatuan Republik Indonesia, melalui Barisan Sukarni founding father Proklamasi Kemerdekaan nasional NKRI. Atau di angkatan pejabat sepuh di masa orde lama.

Di mana di QS An-Nisa : 54 juga tercantum firman ALLOH, ” ALLOH sesungguhnya memberikan hak kekuasaan kerajaan besar pada keluarga Ibrohim (kini tinggal keluarga Nabi Muhammad SAW sisanya), dengan kitab dan hikmah.”

2 thoughts on “Lukisan masjid Banten, by TB Arief Z

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s