JURNAL PETUALANGAN AGEN 005 SUROSENA : ROMANTIKA KESULTANAN JAWA KLASIK

TB Arief Z-art

Sampul ilustrasi petualangan agen 005 Surosena: Romantika kesultanan Jawa klasik, by TB Arief Z-art

TB Arief Z-art

Aksi figuran ilustrasi komik Romantika kesultanan Jawa klasik, by TB Arief Z-art

Sejak Majapahit dan Pajajaran transisi menjadi kesultanan-kesultanan di Jawa, sepak terjangnya pun bak lakon Bambang Wisanggeni di Jamus Kalimasada ceritanya Ki Sunan Kalijaga.

Adapun dari antara putera-puteranya Prabhu Kertabhumi ada juga jadi Dipati Bintara (Demak), Dipati Madiun, Dipati Sampang (Bondan Kejawan/ Lembu Peteng), juga kerabatan dengan Raja Bali. Adapun adik kerabatnya, Aria Damar (Swan Liong) di Palembang telah jadi Raja. Semula Aria Damar memberikan takhta kesultanan Palembang pada putera sulung angkatnya, Jimbun/ Raden Patah.

Tapi Raden Jimbun juga yang menolak, tapi menginginkan yang lebih besar, yakni takhta Majapahit, maka ia ke Jawa. Raden Jimbun yang walau berupa Tionghoa Jawa, tapi ayahnya Prabhu Majapahit, Kertabhumi.

Di masa menjadi Sultan Demak I, Raden Patah sebagai senopati bahkan pernah memimpin pasukan Demak memerangi sesama orang-orang Tionghoa pengkhianat di Semarang.

Bahkan sebagai Sultan turunan sulung Majapahit, beliau malahan lebih di segani ketimbang ayahnya Prabhu Kertabhumi. Tapi di antara orang-orang Demak pun kemudian terjadi permusuhan dan pralaya. Karena seperti di tiap keturunan ras bangsa apapun ada yang keturunan berlaku wajar ada juga yang durjana.

Ada film Kungfu, ada film Jaka Sembung, Sam Kwok perang sembilan pedang kerajaan di Tiongkok, Tsun-Zu Art of War, Bharatayudha, pralaya Israel Rahabeam vs Jerobeam, perang Nabi Muhammad SAW vs  Arab Jahiliyah, Perang Fidel Castro Che Guevarra dkk,  American civil war, dll.

Keturunan-keturunan Majapahit di Jawa meliputi kesultanan gunungsepuh Banten Darussalam, Cirebon, Mataram, Gresik dan kesultanan Surabaya.

Dari latar Raden Patah, putera sulungnya Kertabhumi termasuk sisa turunannya yang tertua kini tinggal kesultanan gunungsepuh Banten.

 Tapi lantaran sempat bermasalah internal antara kesultanan Banten dan Mataram akibat kasus Gresik, maka mengakibatkan kemerosotan pula di soal ekspedisi perluasan wilayah sebagai penerus ekspansi trah Majapahit jadi kesultanan.

Di kasus Gresik, seperti di temukan di sejarah, waktu itu kesultanan Banten cuma berposisi sebagai pasukan yang ikut menjaga haknya kerabatanya kesultanan Gresik. Bersama dengan pasukan Bali, Bugis, Jatim.

Tapi Mataram yang hendak melakukan ekspedisi menduduki kesultanan Gresik. Dan di soal ini juga soal internal penduduk Jawa.

Di mana di babakannya juga pasukan Banten, Bugis dan Bali, mundur begitu saja dari Gresik, begitu Sultan agung Mataram memberi isyarat bendera putih tanda mengajak damai. Dan di Babad Mataram juga di sebut, Sultan Agung sempat menyebut pada pasukan Banten sebagai pasukan Bang Wetan, atau pasukan Abangnya dari Majapahit.

Ingat kisah ini, hingga muncul permainan tradisional anak-anak, main benteng-bentengan. Atau permainan galasin yang juga berasal dari Jawa.

Bahkan waktu pasukan Surosowan sudah memenangkan perang di sungai Musi terhadap armada Palembang, jadi gagal menguasai keraton karena juga di perkuat prajurit-prajurit bayaran dari Mataram.

Kesalahannya juga akibat Sultannya Banten yang melakukan penyusupan duluan ke istana Palembang, mestinya setelah kemenangan di sungai Musi di lakukan mengirim regu prajurit terlebih dulu.

Palembang sempat di serang pasukan gabungan Banten dan Demak, karena mungkin waktu itu menjadi kesultanan kaya dan ada arogansinya, terhadap abang-abang Majapahitnya dari Jawa.

Tapi, andaikata waktu itu kesultanan Banten dan Demak berhasil menguasai kesultanan Palembang, maka bagaimana nasib dan keberadaannya kesultanan Palembang ? Lantaran di perjanjiannya Raden Mas yang jadi Sultan Palembang.

Lantas Sultan Bantennya dapat apa. Ekspedisi itu seperti ekspedisi misi bunuh dirinya Sultan Banten yang nampak nekad tanpa perhitungan siasat. Ketimbang memburu dan menangkap mantan Mangkubhumi Rana Menggala yang korupsi.

Ada keanehan juga, padahal oknum yang paling di anggap sebagai musuh oleh Sultan Maulana Mohammad justru mantan Mangkubhuminya, Rana Menggala, si oknum pelaku korupsi.

Dan keanehannya setelah meraih kemenangan di sungai Musi, kenapa tidak ada dari pasukan Raden Mas dari Demak yang muncul untuk duluan menduduki istana Palembang. Padahal Raden Mas dan oknum Demak yang paling ambisi menduduki Palembang.

Di mana ironisnya setelah kegagalan misi merebut istana Palembang, bagaimana bisa kemudian Raden Mas dapat di kasih tempat di Ancol. Justru dari fenomena sejarah ini juga seperti kecurigaan penduduk Banten, tewasnya Sultan Banten Maulana Mohammad juga akibat konspirasi oknum orang-orang Demak. Yang di incar sebenarnya wilayah kesultanan Banten.

Dan bisa jadi antara oknum orang-orang Demak Raden Mas sekeluarganya dan Mangkubumi Rana Menggala juga telah melakukan konspirasi dan membuat rencana jebakan pada Sultan III Banten, Maulana Mohammad.

Apalagi sejak Maulana Mohammad berusia 5 tahun, pamannya yang juga Raden Demak, Dipati Jepara pernah melakukan pemberontakan pada kesultanan Banten,bahkan  untuk menuntut takhta Sultan Banten.

Di masa abad 16m., posisi orang-orang Demak mulai terbalik juga mulai di tekan oleh kesultanan-kesultanan di Jawa, oleh Mataram dan Surosowan/ Banten Darussalam.

Di mana kini pemilik saham terbesar di Ancol juga orang konglomerat Tionghoa.

Padahal kawasan pantai Ancol dulunya termasuk terdapat permukiman keluarga Pangeran Jayakarta dan Surosowan, dengan warga lokal Jakarta.

Di mana Ancol juga termasuk pelabuhannya milik kesultanan Banten, termasuk pelabuhan-pelabuhan seperti Sunda Kelapa, Banten, Anyer, Jepara.

Mangkatnya Sultan IV Banten, Abdul Mufakhir dan gapura Kenari.

Sejak masa Raja Mataram II, Hanyokrowati (Raden Mas Jolang), Mataram kerap kali mengalami gempuran dari Jawa Timur

Pengganti Hanyokrowati, putera keduanya Hanyokrokusumo (Panembahan Senopati Sultan Agung I Mataram), hendak menguasai Jatim dengan melalui pendudukan pada kesultanan Gresik

Misinya Panembahan Senopati Mataram, membuat kerabat-kerabat kesultanan Gresik di undang turut menjaga Giriprapen.

Pasukan Bang Wetan Banten, Bugis, Bali, di posisi netral kekerabatan, antara empati menjaga kekerabatan Giriprapen dan empati pada kerabatnya Mataram yang kerap di ganggu kelompok kerajaan dari Jawa Timur.

Sebetulnya fokus utamanya kesultanan Banten di masa Sultan ageng Tirtayasa, seperti Gowa juga Bali adalah soal mengusir penjajah Belanda di tanah air.  Juga Sultan agung Mataram.

Tapi Sultan agung Mataram juga punya masalah dengan orang-orang Jawa Timur. Lantaran sejak masa ayahandanya, Hanyokrowati orang-orang Jawa Timur yang di kuasai oleh Mataram sejak masa Panembahan Senopati Sutawijaya, memberontak.

Bahkan di masanya Hanyokrowati, Mataram nyaris di rebut oleh pemberontak.  Tapi Hanyokrowati bisa bangkit dan sempat mengepung dan mengembargo kota Surabaya yang waktu itu masih kerajaan Islam yang juga sesama turunan Majapahit.

Sejak Hanyokrokusumo di angkat sebagai Sultan Mataram, beliau punya misi untuk menuntaskan soal penguasaan Mataram di Jawa Timur.

Justru Jawa Timur adalah tempatnya orang-orang kuat Jawa, yang di dahulukannya untuk di taklukkan.

Tapi, untuk menguasai Jawa Timur, Sultan Hanyokrokusumo mesti menguasai gerbangnya terlebih dulu, yakni kesultanan Gresik.

Kesultanan Giriprapen pernah nyaris di taklukkan oleh kakeknya, Panembahan senopati Sutawijaya. Bahkan bukan nyaris, telah bisa di kuasai Mataram, tapi Raden Sutawijaya masih memandang pada Sunan Giriprapen II, sebagai Ulama sepuh dan kakak kerabatnya.

Lantaran mendengar rencana Sultan Hanyokrokusumo hendak menduduki kesultanan Gresik, Sultan Banten Tirtayasa mengirim pasukan dengan gabungan kerabatnya, Gowa/ Bugis, Bali dan Surabaya.

Kiriman pasukan Banten, Bugis dan Bali bisa jadi sekedar pasukan jaga di gerbang Jawa Timur, di Gresik yang juga kota tetangganya Surabaya.

Bahkan hingga jaman modern pun keluarga Surosowan juga masih punya kerabat, tapi bukan lagi di Gresik, melainkan di sebelahnya, kota Surabaya, kota Pahlawan 10 November 1945. Bahkan hingga jaman modern, 2 ujung kota-kota terbesar di Jawa adalah Jakarta dan Surabaya. Cuma mungkin bedanya, Jakarta lebih besar sebagai kota, tapi bumiputeranya mayoritas lebih besar orang Surabaya.

Di mana jajan bakso dan es susu soda pun lebih murah di Surabaya.

Bahkan orang-orang tua di Surabaya sempat mengeluh, lantaran jam belajar anak-anak siswanya justru lebih lama, dari sekitar pk 07.00 – 15.00 WIT. Tapi, soal frekuensi banyaknya tawuran pelajar masih,,,,Jakarta ironisnya.

Cuma di Surabaya juga khawatirnya di antara sudut kotanya juga terdapat tempat sindikat perdagangan manusia. Biasanya perempuan yang bahkan di sekap untuk di tempatkan ke pelacuran.

Sultan Hanyokrokusumo sempat gentar juga di masa awal menempatkan pasukan Mataram ke Gresik, justru melihat tandingannya berpasukan lebih banyak.

Mungkin prediksinya jika Mataram waktu itu langsung berhadapan dengan pasukan pertahanan Gresik awalnya, bisa kalah.

Tapi, bukan Senopati Mataram jika tidak bersiasat.

Senopati Hanyokrokusumo mengisyaratkan bendera putih, tanda mengajak damai.

Senopati Hanyokrokusumo memanggil pasukan Bang Wetan pada pasukan Banten.

Pasukan Banten yang memimpin pasukan Bugis dan Bali jadi bubar dari kesatuan barisan.

Tinggal pasukan Surabaya. Senopati Hanyokrokusumo juga tahu jikalau Dipati Surabaya gemar kawin. Maka ia mengirimkan puterinya dengan membawa bendera putih pada Dipati Surabaya.

Siasat senopati Hanyokrokusumo sebenarnya pura-pura menyerah, untuk memecah pasukan Bang Wetan yang kelewat banyak di banding pasukannya. Ia juga senang melihat hasil siasatnya membuktikan ketidakkompakannya pasukan Bang Wetan waktu itu.

Keuntungan buat senopati Hanyokrokusumo ialah, karena yang di hadapinya juga masih sekekerabatan, jadinya tidak punya rasa ketegasan.

Jika tidak memandang senopati Hanyokrokusumo masih kerabat, atau bukan kerabat, bisa saja pasukan Bang Wetan yang besar waktu itu mengabaikan saja isyarat bendera putihnya senopati dan misal langsung tegas menggempur pasukan Mataram waktu itu.

Malamnya, ketika Dipati Surabaya hendak mendatangi hadiahnya, puteri Mataram yang cantik sebagai isteri barunya,,, sebelumnya mandi dan berdandan. Juga memakai wewangian.

Baru hendak menuju kamar peraduan dengan puterinya Hanyokrokusumo, tiba-tiba ia terkejut di hadang senopati di depannya.

Senopati langsung berduel satu lawan satu dengan Dipati Surabaya.

Dipati Surabaya yang kuat juga, sempat menyabetkan kerisnya ke Senopati, tapi tidak mempan.

Senopati membalikkan keris mengenai Dipati Surabaya. Dipati Surabaya pun ambruk terhunus kerisnya sendiri.

Senopati kemudian mendatangi kamar isterinya Dipati Surabaya, yang baru saja jadi janda muda.

Puteri Surabaya melemparkan senjatanya ke arah Senopati, tapi di tangkapnya. Kemudian Senopati menangkap tangan Janda Dipati Surabaya. Dan malam itu pun jadi malamnya Senopati di peraduan.

Senopati Sultan Mataram, mungkin di antara kekerabatan Majapahit, di sejarah ini yang memiliki ilmu kanuragan lebih tinggi. Walau adik dengan Sultan Banten, tapi seperti Yudistira beradik Arjuna di kekeluargaan Pandawa Majapahit. Makanya beliau di segani.

EKSPEDISI MATARAM KE PENGUASAAN DI GRESIK

Sultan agung keesokannya menghimpun kembali pasukan Mataram untuk menguasai Gresik.

KABURNYA SULTAN GIRIPRAPEN SYEKH AMONGROGO

SULTAN AGUNG MEMBINASAKAN KERAJAAN BLAMBANGAN

PERTEMUAN PASUKAN SULTAN BANTEN DAN MATARAM

Uniknya di catatan sejarah, walau Sultan agung Hanyokrokusumo ini pernah seperti kerabat liar menyambangi sesama kerabatnya Raja-raja di Jawa sesama turunan Majapahit, lantaran di musuhi dan sempat di serang keratonnya, tapi ketika bertemu dengan Sultan ageng Tirtayasa, jadinya berteman.

Malah juga nampak seperti Sultan agung menemukan sosok kakak tulen dan saudara dekatnya pada Sultan Tirtayasa. Lantaran juga Sultan Banten di antara kekerabatan Majapahit tidak pernah menyerangnya, bahkan sedari masa ayahnya Hanyokrowati.

Apalagi Sultan Tirtayasa dan Sultan Hanyokrokusumo punya kesamaan tujuan, yaitu melawan penjajah Belanda.

Keduanya juga sama tidak suka dengan Gubernur Jenderal VOC pertama berkedudukan di Batavia, yaitu Jan Pieter Zon Coen.

Pasukan penjajah Belanda sangat kejam juga waktu itu. Pasukan Mataram di antaranya di bunuh dengan keji.

Senopati Wirogunan gugur, sebagai penghargaan jasanya, di tempat di makamkannya menjadi wilayah di namai Ragunan, di Jakarta Selatan, berdekatan dengan jalan Jatipadang, Pejaten, dan Cilandak (komplek Marinir), ke Warung Buncit dekat Warung Jati (kini jl. Tendean), jl. Bangka (tua bangka), dan komplek CPM di jl. Brawijaya.

Dari jalan Wijaya, Tendean, terdapat jalan Wolter Monginsidi (Kapten Czi Harimau Malalayang Sulawesi), dan jl. Senopati. Dari perempatan Santa, dekat ke jalan Trunojoyo, Tirtayasa, Sunan Kalijaga dan Iskandarsyah. Adapun ke arah Blok P, dekat jl. Nipah yang juga terdapat peranakan Kalimantan di warga dulunya.

Adapun nama Cilandak bisa juga di hubungkan dengan hubungannya kesultanan Banten dengan kerajaan Landak di Kalimantan (kini kesultanan Syarif Pontianak). Di mana sejak masa Tarumanegara -Kutai juga telah terjadi hubungan dan lintas pelayaran.

Kawasan yang bahkan mengalahkan kawasan jalannya kediamannya para Presiden RI, Cendana atau Cikeas. Di mana Presiden maksimal di jaga paspampres hingga 5 atau 10 tahun.

Tapi kompleknya CPM (Polisi Militer) sejak puluhan tahun gubernurnya Ali Sadikin (dari Sumedang/Kawali), tidak berubah hingga kini selalu jadi pos jaga di samping jalan Bangka yang juga rumah-rumahnya keluarga P. Jayakarta dan Surosowan.

Teringat kata alm Pak Ali Sadikin sempat mengatakan beliau juga yang memberi nama jalan-jalan di Jakarta, sejak awal masa orde baru beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

PERANG BATAVIA

Sultan Tirtayasa bersuka cita mendengar kedatangan pasukan Mataram yang mulanya tiba dan bermarkas di sekitar Matraman kini (Jaktim).

Kedatangan Sultan Tirtayasa di sambut Pangeran Trunojoyo (I) dari Jawa Timur, yang juga senopati Mataram di sekitar Batavia (Jakarta).

Bahkan Sultan Tirtayasa ikut memberikan bantuan logistik pada pasukan Mataram.

Sudut sejarah ketika orang Indonesia bersatu melawan penjajah nampak lebih menarik.  Tapi penjajah bangsa sendiri seperti melalui korupsi juga mengusik rasa keadilan.

Pangeran Jayakarta / Wijayakrama II, telah menjalin kembali hubungan kekeluargaan dengan Sultan Tirtayasa.

Tapi ketika menghadapi pasukan Belanda pun melawan dengan sengit. Apalagi orang-orang Belanda juga persenjataannya lebih kuat.

Korban-korban berjatuhan dari Belanda dan lebih besarnya pada pasukan gabungan Mataram-Banten.

Ketika bertempur di lapangan, serdadu-serdadu Belanda yang mengalahkan prajurit Mataram-Banten, memperlakukannya dengan sadis. Untuk menggentarkan mental pasukan Mataram-Banten.

Tapi pasukan Belanda yang tadinya di terjunkan kelapangan lama kelamaan mundur bertahan di bentengnya di Sunda Kelapa.

J.P Coen yang mengawasi jalannya pertempuran dari menara pengintainya, diam-diam kagum dengan semangat pasukan Mataram yang teratur.

Adalah Pangeran Pekik senopati Mataram yang paling tangkas dan berani menerjang serdadu-serdadu Belanda. Hingga berada di garis paling depan medan pertempuran.

Bahkan Pangeran Pekik hingga melompati pagar benteng Sunda Kelapa demi menerobos pertahanan Belanda.

Bukan sembarang orang seperti Pangeran Pekik, lantaran ia juga memiliki ilmu kanuragan tinggi. Pangeran Pekik juga berasal dari Surabaya, dan di angkat sebagai putera oleh Sultan Agung.

Keberanian Pangeran Pekik juga membangkitkan semangat pasukan Mataram-Banten untuk terus maju membobol pertahanan Belanda.

Mungkin juga Pangeran Pekik kebal senjata, sempat di tembak tak mempan. Apalagi penerobosannya juga mulai di susul para prajurit andalan dari Mataram dan Banten. Prajurit Mataram dan Banten juga dulunya terdiri dari para pesilat, yang di antaranya juga punya ilmu kebal senjata.

Di dalam benteng, serdadu Belanda yang makin berkurang makin dalam kecemasan. Apalagi amunisinya mulai habis.

Tapi liciknya serdadu Belanda mengganti amunisinya dengan tinja kotoran mereka.

Begitu meriam dan bedil di nyalakan, di antara prajurit Mataram dan Banten jadi muntah-muntah dan jijik.

Diam-diam J.P.Coen kabur dari benteng Sunda Kelapa. Dengan cemas berharap segera datang kapal bantuan armada Belanda.

Pasukan Mataram dan Banten yang melihat posisi J.P.Coen di pelabuhan segera menangkapnya.

Tanpa basa-basi lagi, di penggal kepalanya, dan ambruklah J.P.Coen tanpa kepala.

Hingga kini juga beredar isu, terdapatnya hantu penasaran tanpa kepala, kadang nampak di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa.

Atau isu masih berkeliarannya hantu-hantu penasaran Belanda di sekitar mantan benteng Belanda di museum Bahari kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s