JURNAL PETUALANGAN AGEN 005 SUROSENA: PRAHARA KSATRIA MATA-MATA MAJAPAHIT II

JURNAL PETUALANGAN AGEN 005 SUROSENA: PRAHARA KSATRIA MATA-MATA MAJAPAHIT II,  dari saduran buku Mata-mata Majapahit, alm CM Nas, by TB Arief Z.

TB Arief Z-art

Sampul komik Ksatria Surosena : PerjuanganJati diri , by TB Arief Z

Perbincangan siasat Mahapatih Aria Tadah dan Gajah Mada

“Para penyerang misterius ini berbahaya. Nampaknya ada pemimpin yang memerintahkannya. Tapi siapa?,” demikian tanya Aria Tadah.

” Hal itu juga yang sedang saya pertanyakan Romo,” Gajah Mada berkata.

“Yang penting kini bagaimana soal menempatkan Prabhu Jayanegara dan puteri Tribhuwana di perlindungan yang aman.”

” Saya ingin menengok ke Prabhu Jayanegara, terus terang saya juga belum pernah melihat Prabhu,” Gajah Mada berkata.

Gajah Mada menghampiri ke arah Prabhu Jayanegara.

Dan menemukan,,,sesosok bocah remaja yang bahkan tampak polos memandanginya.

Jayanegara nampak sebagai bocah remaja yang masih polos dan takut.

Gajah Mada dan Aria Tadah melanjutkan perbincangannya dengan serius di hutan itu.

” Rencana ini sangat riskan Mada, menempatkan Prabhu sebagai umpan,” tanya Aria Tadah.

” Bukan Prabhu sebenarnya Romo, tapi orang yang di samarkan sebagai Prabhu,” kata Gajah Mada.

” Misi ini juga untuk memancing siapa-siapa saja komplotan yang hendak membunuh Prabhu,” kata Gajah Mada.

” Kalau begitu, kita coba rencanamu, Mada,” kata Aria Tadah.

” Tapi Romo, saya juga perlu kewenangan untuk memimpin pasukan,” kata Gajah Mada.

“Sementara ini kau kuberi kedudukan sebagai senopati,” kata Aria Tadah.

Misi Gajah Mada

Gajah Mada memanggil anggotanya dari bhayangkari, Suta Caraka.

“Suta, kau kupanggil karena hendak ku percayakan misi khusus. Bila kau berhasil menuntaskan misi ini, maka bakal penghargaan besar di berikan padamu.”

” Misi apakah itu komandan ?,” tanya Suta Caraka.

” Misi penyelidikan, kau ku tugaskan untuk menyelidiki siapa-siapa pelaku komplotan yang sedang meresahkan masalah ketenteraman di negeri ini, dengan hendak membunuh Prabhu dan anggota keluarga kerajaan Majapahit,” kata Gajah Mada.

” Kau juga kutugaskan sebagai penjaga sampingan, untuk menjaga kedatangan kembali Prabhu melalui pelabuhan Badander (Surabaya),” kata Gajah Mada. ” Usahakan kamu melakukan tugasmu dengan penyamaran.”

” Siap Komandan,” kata Suta Caraka.

Suta Caraka kemudian berlalu dari tempat Gajah Mada.

Sesampai kudanya, dengan sigap ia melompat dan menunggangi kudanya.

Suta Caraka menghela kudanya melaju cepat, di persimpangan jalan membelok ke desa.

Surosena mampir ke klenteng

Dalam laju terbangnya yang sunyi, Surosena mendapati terdapatnya kericuhan di suatu bangunan.

Nampak sesosok perempuan dalam keadaan terikat meronta-ronta.

Surosena menyelundup turun di genteng klenteng.

Beberapa anggota di klenteng memegangi si sosok perempuan yang nampak seperti dari Cina.

Nampaknya laki-laki di klenteng juga kesulitan mengendalikan si perempuan Cina.

Surosena kemudian turun dari genting.

Rupanya melihat kedatangan tiba-tiba sosok Surosena membuat para penjaga klenteng kaget. Tapi Surosena dari jari-jemarinya telah mengeluarkan asap tidur. Membuat prajurit jadi klabakan dan tidak dapat melihat siapa sosok di balik asap.

Antara lemas kena asap tidur, Surosena menggebuk mereka, dan ambruk semua.

Puteri Cina yang ikutan lemas di bawanya terbang melompati klenteng.

Suta Caraka menemui Triwoh Kenikir

Tiba di suatu rumah gudang, Suta Caraka menghentikan kudanya.

Suta Caraka kemudian menyempatkan beristirahat di tempat itu, sebenarnya ia juga sambil menunggu seseorang yang ingin di jumpainya, hingga,,,,,.

Sampai menjelang malam harinya.

Suta enak-enakan berbaring di paha Triwoh Kenikir. Sambil menikmati rambutnya di usap-usap kekasihnya.

” Kakang Suta, kapan kamu akan melamarku, aku sudah bosan main sembunyi-sembunyi begini dari Romo,” kata Triwoh Kenikir. “Lagipula kamu sudah berjanji,” lanjut Triwoh Kenikir.

” Nantilah Kenikir, aku janji akan datang melamar pada ayahmu,,,tapi aku masih ada tugas yang mesti di lakukan, ” kata Suta Caraka.

” Sampai kapan Kakang?,” tanya Triwoh Kenikir.

” Entahlah Kenikir,,,sebagai prajurit aku juga sibuk, masih ada tugas yang perlu ku kerjakan,” kata Suta Caraka.

” Tapi aku berjanji akan datang melamar ke ayahmu,” lanjut Suta Caraka.

Suta Caraka senang juga pada Triwoh Kenikir. Mungkin ia termasuk pria beruntung di dunia, gadis kekasih idamannya yang bahkan menyatakan padanya untuk di pinang menikah. Kejadian yang mungkin hanya mudah terjadi di jaman dulu dengan pengertian perempuan seperti demikian. Padahal Triwoh Kenikir termasuk gadis kembang di desanya.

Hubungan memadu kasih antara Suta Caraka dan Triwoh Kenikir masih di jaganya dalam batas kewajaran.

Tapi Suta Caraka juga terbeban di benaknya untuk melaksanakan tugasnya sebagai bhayangkari dari Gajah Mada.

Keonaran di malam hari

Tiba-tiba saja terdengar kegaduhan di luar.

Suta Caraka beranjak bangkit. Sambil berkata,”,,,kamu di sini saja Kenikir.”

Suta Caraka pelan-pelan membuka pintu.

Nampak sedang terjadi perkelahian. Sekelompok orang tengah mengeroyok seorang perempuan.

Perkelahian itu nampak sengit dan berbahaya, karena menggunakan senjata tajam.

Walau sekelompok orang bertopeng menyerang dengan senjata, tapi masih bisa di sambangi si perempuan.

“Heyy, kau jangan diam saja, bantu aku,” kata si perempuan.

” Tangkap ini,” kemudian Suta Caraka mengirimkan pedangnya.

Si perempuan Cina menangkap pedang pemberian Suta Caraka.

Kemudian bergerak meliuk-liuk indah, serangan kelompok bertopeng di tangkisnya. Jurus yang nampak hebat.

Suta Caraka kemudian ikut terjun ke kancah pertarungan.

Dua dari si penyerang bertopeng sempat kena di gebuknya.

Kelompok bertopeng kemudian memberi isyarat. Dan segera melesat kabur.

” Kenapa gerombolan itu menyerangmu Nisanak?,” tanya Suta Caraka.

” Mereka orang-orang dari klenteng. Orang-orang Tartar (Mongol) yang telah menculikku dari Tiongkok. Mereka membawaku kemari untuk di jadikan pemuas orang-orang Tartar di klenteng,” kata si perempuan.

” Terimakasih telah menolongku,” kata si perempuan. Suta Caraka menyambung,” Omong-omong kita belum berkenalan.”

” Namaku Suta,” Suta Caraka menyampaikan tangannya. ” Liong Giok Pin, tapi kau bisa memanggilku Giok Pin,” kata si perempuan.

Suta Caraka mengajak Liong Giok Pin masuk ke dalam gudang. Di dalam, Kenikir nampak mengernyitkan dahi.

Suta Caraka di tarik lengannya oleh Triwoh Kenikir.

” Kenapa kau ajak ia kemari Kakang ?” kata Triwoh Kenikir.

” Tapi ia membutuhkan perlindungan Kenikir,,,” kata Suta Caraka sambil memandangi dengan senyum geli.

” Kenapa kau memandangiku seperti itu Kakang,,,” kata Kemangi. ” Wah, kamu nampaknya cemburu,” kata Suta Caraka geli.

” Tolonglah Kenikir, ia butuh pertolongan, dan kamu yang bisa ku harapkan bisa ikut menolong,” Suta Caraka merayu Triwoh Kenikir.

Berganti Liong Giok Pin berkata,” Sudahlah aku akan pergi dari sini. Tidak usah merepotkan.”

” Tunggu dulu Giok Pin, aku akan mengantarmu,” kata Suta Caraka.

Kemudian Suta Caraka berbalik lagi pada Triwoh Kenikir, ” Sabarlah Kenikir, Kakang akan melamarmu bila tugas sudah selesai. Janji.”

“Dan aku minta tolong padamu untuk menyampaikan pesanku pada Gajah Mada.” Kemudian Suta Caraka menyampaikan pesannya melalui Triwoh Kenikir.

Kemangi hanya diam menatap Suta Caraka. Suta Caraka kemudian mencium keningnya. “Tunggu aku Kenikir.”

Suta Caraka kemudian berlalu pergi dengan Giok Pin.

Perjalanan Triwoh Kenikir

Di pagi harinya Triwoh Kenikir memacu kudanya. Nampak tangkas sekali Triwoh Kenikir mengendarai kudanya. Hebatnya perempuan Jawa dulu.

Tapi, di tengah perjalanan tiba-tiba ia mendapati di kuntit sekelompok orang yang juga mengejarnya dengan kuda.

Triwoh Kenikir terus memacu kudanya sekencangnya.

Hingga menuju persimpangan jalan, ia melompat dan hinggap di dahan pohon.

Kelompok pengejar jadi bingung di persimpangan kemana kiranya Triwoh Kenikir membelok.

Kelompok itu memutuskan di bagi 2, satu mengejar ke arah kiri, satu mengejar ke arah kanan.

Baru kelompok satu berangkat ke arah lain, salah satu pengejar di gebuk Triwoh Kenikir, dan langsung jatuh mendarat ke tanah.

Temannya mengarah pada Triwoh Kenikir. Tapi juga ambruk di hadapi Triwoh Kenikir.

Triwoh Kenikir kemudian berganti naik kuda si pengejar. Dan melanjutkan perjalanan.

Sesampai di tempat, Triwoh Kenikir sempat mendapatkan hadangan dari prajurit jaga.

Triwoh Kenikir berkata,” Saya hendak menemui Gajah Mada.”

” Darimana kamu bisa tahu tempat ini,,,” kata prajurit jaga. ” Tapi saya ingin menyampaikan pesan penting pada Gajah Mada,” kata Triwoh Kenikir.

Tapi sekumpulan prajurit jaga di sekitar tetap menatap tajam dan mengepung Triwoh Kenikir.

Ketika prajurit mulai bergerak hendak menangkap Triwoh Kenikir, lengannya di putar dan jatuh.

Triwoh Kenikir kemudian melipat kainnya. Hingga di baliknya nampak mengenakan celana silat Jawa.

Para prajurit kemudian menyerangnya bersamaan, tapi serangan mereka bisa di tepis Triwoh Kenikir. Di antaranya jatuh, dan di antaranya di pelintir tangannya, sambil Triwoh Kenikir mengatakan sekali lagi, ” Saya datang kesini hanya untuk menyampaikan pesan pada Gajah Mada.”

Prajurit-prajurit sekali lagi mengerubungi Triwoh Kenikir.

” Sudahlah, biarkan ia masuk!,” terdengar suara memerintah prajurit, rupanya Gajah Mada.

Triwoh Kenikir kemudian melangkah ke tempat, sambil di persilahkan Gajah Mada.

” Silahkan duduk,” kata Gajah Mada.

” ,,,rupanya Suta telah mengajarimu,” sambung Gajah Mada.

” Pesan apa yang di sampaikannya ?.” tanya Gajah Mada.

” Katanya ia hendak menyelidiki sesuatu, berhubungan dengan klenteng orang-orang Tartar. Dan ia sedang mengamankan perempuan bernama Liong Giok Pin,”kata Triwoh Kenikir.

” Katakan padanya, untuk melaporkan hasil penyelidikannya padaku. Dan jangan melupakan tugasnya yang telah ke titipkan padanya,” kata Gajah Mada.

“Akan kusampaikan padanya, Komandan,” kata Triwoh Kenikir.

Kelompok prajurit bayaran Naratama

Di Jawa dulu, terdapat juga kelompok prajurit bayaran. Di antaranya keluarga Naratama.

Yang paling mahir memanah adalah Wilis Naratama, yang juga putera tengah di antara regu Naratama 4 bersaudara.

Wilis juga menggunakan busur istimewa.

Sulungnya ialah Angrok Naratama, bertubuh paling besar.

Angrok mengingatkan Wilis, ” Sudah nampakkah kedatangan Prabhu ?, siagakan dirimu Wilis, atau kita tidak dapat mengambil upah bonus.”

” Terlalu banyak kerumunan orang, sulit melihat Prabhu,” kata Wilis.

“Terus pasang matamu Wilis,,,” kata Angrok. Angrok juga menyuruh kedua saudaranya yang lain ikut mengawasi sekitar.

Beberapa waktu kemudian, mulai terdengar keriuhan. Naratama bersaudara melongok ke arah keriuhan itu.

” Cepat Wilis, siapkan bidikanmu !,”  Angrok menyerukan Wilis.

“Terlalu jauh aku susah mengarahkan panahku, bisa-bisa persembunyian kita yang ketahuan,,,” kata Wilis.

“Tunggu sampai ia mendekat,,,”

Di iring-iringan, nampak sesosok seperti Prabhu Jayanegara berjubah keemasannya, naik kuda dan di kawal rombongannya.

“Itu dia Wilis, aku yakin itu Jayanegara yang mengenakan jubah emas. Cepat bidik dia,” seru Angrok.

Wilis bersiap-siap menarik busurnya,,,,,,,dan semakin dekat ke jangkauan, maka melesatlah anak panahnya.

Anak panah yang mampir membuat kuda tunggangannya kaget. Panah cuma menyerempet bagian tubuh kuda. Tapi justru membuat kuda tunggangan Prabhu berlari kencang meninggalkan rombongan.

Suta Caraka segera memacu kudanya, untuk mengejar Sang Prabhu.

” Bodoh kamu Wilis, sekarang kita mesti lekas kabur dari sini!,” kata Angrok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s