JURNAL PETUALANGAN AGEN 005 SUROSENA-PERJUANGAN HAK KEMERDEKAAN II

TB Arief Z-art

Jurnal petualangan agen 005, Surosena dan metamorfosis, by TB Arief Z

 

TB Arief Z-art

“Dark ages rakyat cecak vs buaya korupsi,” by TB Arief Z. Acrylic painting on canvas 100 X 120 cm .

 

Soal PKS menganggap partainya di kriminalisasi KPK dengan embelan kaitan zionisme, dengan pertanyaan sebaliknya jikalau PKS tidak sebagai partai yang jujur dan adil, hingga menyebabkannya dapat di cap buruk partai tidak jurdil, dan tidak lagi di percaya di pemilu 2014.
Walau dari orang-orang jaringan elit PKS menyuarakan demikian, seperti partainya di kriminalisasi KPK, tapi rakyat juga punya hak menilai secara jurdil di hak demokrasi terpimpinnya, jujur dan adil.
Justru dari penampakkan orang-orang jaringan elit PKS berbuat demikian jadinya malahan pula menampakkannya sebagai partai tidak jurdil dan berkurang di percaya massa.
Sekjen PKS juga sempat mengatakan, bagaimana mau menyuap, padahal anggota PKS juga kecewa iurannya kecil-kecil.
Tapi, dari pengamatan sejak masa kemarin, yang nampak di tayangan, contoh seperti Tifatul Sembiring ketika di wawancarai reporter televisi di rumahnya, nampak mewah, besar. Masakan iuran kecil tapi dari penampakkan rumahnya nampak kaya. Satu hal lagi temuan ketidakjujurannya PKS.
Atau bagaimana Hidayat Nurwahid, mantan ketua PKS bisa sempat mengikuti kampanye pilkada gubernur DKI 2012 silam, dari mana dananya iuran kecil anggota partai PKS bisa kampanye pilkada gubernur DKI Jakarta? Lagi-lagi temuan tanda ketidakjujuran PKS.
Bahkan di suatu masjid yang juga terdapat perguruan mahad/ universitas pendidikan agama Islam Al-Hikmah, yang sebenarnya juga pendiri awalnya masih nenek dan pamannya P.Jayakarta dari Surosena. Tadinya sejak dulu termasuk pendukung dan asal-mula berdirinya PKS.
Di sana teringat bersama kakak perempuannya ikut lomba cerdas cermat tingkat sekolah pendidikan agama Islam, tapi tak di duga menang pula, padahal kakaknya dari SMAN 82. Bahkan Surosena kecil tidak ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang cepat, cuman kakak perempuan dan teman perempuan sebayanya yang menjawab.
Kemudian komunitas masjid dan civitas akademi di sana juga sempat menempelkan kritiknya pada PKS, tertuju pada elit-elitnya, termasuk Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring sebagai penipu.
Bahkan foto-fotonya juga di gambari dengan spidol hitam di matanya, atau pada janggutnya di tuliskan jenggot palsu. Nampak sebagai coretan anak-anak di mading sekolah, tapi ini mading sekolah universitasnya civitas mahasiswa agama Islam.Walau di mahasiswa agama Islam, tapi di situ pula terletak kejujuran dari anak mahasiswa. Atau berbanding lagunya Ahmad Dani,,,seperti lirik yang tua korup,,,.
Yang bahkan studinya dengan menghafal ayat-ayat Qur’an, dan hadits, belajar bahasa Arab. Atau beradanya di kelas, atau di masjid, atau di kantin, atau di toko buku dan perlengkapan agama Islam.
Bagusnya, ketika ia mendatangi tokonya kampus agama Islam tersebut, di berinya oleh penjaganya Qur’an bersampul merah. Wah cocok. Dapat tanda umat Islam realisme. Atau Sarekat merah?
Civitas masjid dan kampus Islam itu memang ada mengenali sebagian dari warga di sekitar. Walau juga seolah tak kenal.  Tapi namanya orang masjid dan kampus juga orang di bidang pendidikan, yang juga mengenali karakter orang-orang, apalagi warga lama di sekitar.
Di masjid dan kampus Islam Al-Hikmah, civitas lama juga nampak ada penyesalan dan segannya pada Ustad lama dari paman Jayakarta yang dulu termasuk pendiri mula-mulanya tempat itu, tapi bahkan jasanya tidak di anggap. Dan sang Ustad tua sudah nampak enggan ke sana lagi, bahkan meninggalkan, dan bertempat di masjid sebelumnya yang juga terdapat sekolah yang juga hendak beliau kembangkan pula, bernama Masjid dan lembaga pendidikan At-Takwa, tapi baru sebatas TK, SD sampai SMA. Dan bergabungnya juga dengan Kiai-kiai dan orang-orang NU.
Yah, biar masih miskin, tapi berjaringannya dengan jaringan sepuh.
Kontroversi juga, Paman Kiai termasuk dinasti P.Jayakarta pula, termasuk dzuriyah, sampai tidak di hargai lagi dan tidak di anggap di tempat yang pernah di dirikannya. Ibaratnya seperti di durhakai anak-anak umat Islam, tapi sebenarnya bak Malin Kundang.
Sementara civitas Al-Hikmah dan PKS nampaknya berjaringannya juga dengan Muhammadiyah.
Di samping, memang kalo soal ibadah, enaknya dekat sama yang tua, karena orang tua fisiknya sudah lemah, maka ibadahnya juga tidak berpanjang-panjang berdiri, jika di banding tempat bermasjid dominan pemuda-pemudi.
Pernah teringat, waktu sehabis lulus SMA, Surosena bingung mau kuliah di mana, kemudian sempat juga berbicara dengan adik dari sang Ustad tua yang juga paman kerabat Jayakarta, di mana beliau juga lulusan Sarjana IKIP  Rawamangun, jurusan guru. Ia juga sempat bilang sudah mendaftar di FSRD IKJ.  Waktu itu sempat ancer-ancer juga jika tak dapat di sana, maka pilihan alternatif adalah kuliah agama Islam. Tapi berat juga membayangkan, mesti tiap hari belajar menghafal Qur’an, belajar bahasa Arab, ada juga kekhawatirannya di situ pada beratnya.
Tapi, masuk mahad baru Islam juga tidak di kenai ujian tes masuk waktu itu, apalagi jika sudah ada kenalan lulusan lama pernah jadi guru, atau pendiri. Apalagi statusnya masih baru waktu itu, beda dengan kini statusnya makin naik, juga melalui lulusannya jadi kader PKS, masuk ke pemerintahan. Karena naik pamor, naik gengsi, status juga tambah beban syarat masuknya. Itulah termasuk cirinya sekolah.
Enaknya jika sudah tuntas lulus sekolah, tinggal termasuk jadi cerita kelinci, sudah ikut balapan, di tengah balapan tinggal tidur istirahat menunggu teman satwa kecilnya si kura-kura mengejarnya. Memberinya kesempatan.
Tapi di soal ekonomi juga perlu berbagi. Supaya adil bagian masing-masing sesuai memenuhi kebutuhannya masing-masing.
Kemudian ketika datang lagi ke sana, nampak Paman guru sedang menggambar ibu-ibu mengenakan kebaya sebagai poster untuk pendaftaran masuk di lembaga pendidikan At-Takwa. Paman guru juga kegiatannya sebagai guru pelajar SD hingga menengah di sana. Bahkan waktu SMA, pernah  pula ia ketitipan ikut jadi guru ekstrakurikuler les tambahan buat muridnya. Rupanya jadi guru itu susah juga, apalagi menghadapi anak-anak yang susah di tertibkan, atau menyimak pelajaran.
Tapi, jadi geer juga ketika pernah satu malam tidak masuk, kemudian sempat di tanya anak murid di kelas, kok tidak ngajar.  Sampai sekarang bingung juga pada dirinya yang padahal termasuk orang awam tapi bisa tiba-tiba diangkat jadi guru dadakan. Takdir ALLOH memang tak di nyana kadang-kadang.
Anak-anak murid senangnya di ajar olehnya karena juga di ajar menggambar ketimbang pelajaran les agama Islam.  Tapi mereka juga murid dari sekolah agama Islam. Tapi rupanya mereka juga jenuh, lantaran guru-guru les lainnya malahan tidak mengajarinya gambar.
Sedangkan di sekolah-sekolah hingga menengah pun di Jakarta tiada kejuruannya di menggambar, misal seperti SMSR di Yogya, Padang.
Tapi,karena mulai memasuki masa ujian kelulusan SMA, maka ia pun mengundurkan diri jadi guru.
Jika ingat masa itu, mungkin anak-anak siswanya di antaranya sudah lulus kuliah bahkan. Atau bisa juga sudah menikah berumahtangga di antaranya. Waktu memang cepat berlalu.
Guru muda di les pelajaran menggambar murid-murid sekolah agama Islam, terkejut juga di antara 200 mahasiswa pelamar ke FSRD IKJ, termasuk di antara 100 mahasiswa baru yang di terima di pendaftarannya ke Desain Grafis mulanya. Dari sempat jadi guru gambar anak-anak SD, jadi pelajar mahasiswa baru dari mula.
Bola dunia memang berputar, kadang di utara, kadang di selatan, barat, timur, tenggara.
Teringat waktu sempat mengajar anak-anak SD, ada di temukan sekelompok tidak menyimak, tapi bermain tebak-tebakan nama buah dari satu huruf. Mengingatkannnya pula waktu anak-anak belajar mengaji juga berbuat demikian. Dan ia malahan ikutan.
Kalo gurunya dulu juga masih muda, kalo melihat ada anak muridnya tidak menyimak papan tulis, kemudian mendatangi dan menyabet dengan seperti sabetan kayu tipis di bagian kaki. Teringat dulu kakak dan teman sebayanya yang biasanya kena di sabet, tapi karena ia masih siswa termuda di biarkan, jadi anak bawang.
Nyatanya masa kanak-kanaknya juga tidak jauh di libatkan ke pendidikan agama Islam.
Kaderisasi PKS, mulanya juga di ambil dari lulusan Sarjana LC dari Al-Hikmah. Pamornya PKS nampaknya ketika terjadi banjir di 2002, anggota-anggota dari PKS yang nampak banyak turun ke bawah menolong korban banjir. Kemudian nampak ketuanya waktu itu Hidayat Nurwahid mengatakan walau partai baru kami siap menolong rakyat khususnya di tingkat bawah.
Tapi itu dulu.
Ironisnya ketika PKS bahkan sebagai partai baru mengejutkan dengan perolehan suara pemilihnya. Kemudian mendapatkan kedudukan-kedudukan penting, bahkan ketuanya Hidayat Nurwahid sempat di angkat jadi Ketua MPR, PKS sejak itu juga mulai berubah jadi golongan kapital atau elit.
Kemudian ketika masuk ke masjid Al-Hikmah seperti ke kampung halaman civitas kuliahnya, nampak pula ketika ke masjid telah bermobil, bermotor bahkan baru, di dalam atau di sekitar masjid HPnya juga nampak baru. Keadaan di masjid Al-Hikmah jadi berubah dulu dengan kemudian, di mana juga terdapat kesenjangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s