JURNAL PETUALANGAN AGEN SIPIL-005 SUROSENA-KONTROVERSI MASA KORUPSI DAN MUNCULNYA TANDA AKHIR JAMAN-VI

JURNAL PETUALANGAN AGEN sIPIL-005 SUROSENA & METAMORFOSIS-KONTROVERSI MASA KORUPSI DAN MUNCULNYA TANDA AKHIR JAMAN-VI. 

Ilustrasi jurnal komik agen sipil-005 Surosena, by TB Arief Z-flamming art.

By TB Arief Z-art

desain cover surosena, Kontroversi masa korupsi, by TB Arief Z

TB Arief Z-art

Anak-anak fakir miskin busung lapar. (2012) By TB Arief Z. (Ide : Mas Poncoth). Sketsa pensil di atas kertas Arjo Wiggins

Kejahatan kemanusiaan Traficking, pemerkosaan, homoseksuil, pelecehan anak di bawah umur.

Aneh-aneh saja kejadian akhir-akhir ini. Misalkan di soal perdagangan manusia (traficking), pelecehan anak di bawah umur, hingga pernikahan bocah.

http://news.detik.com/read/2013/01/30/122528/2156218/10/bocah-dinikahi-pria-beristri-di-bali-polisi-duga-ada-unsur-bujuk-rayu

http://news.detik.com/read/2013/01/29/165020/2155429/10/astaga-dinikahi-pria-beristri-bocah-13-tahun-hamil-6-bulan?nd771104bcj

Kejadian pernikahan dengan bocah di bawah umur, mengingatkan soal kejadian pernikahan pengusaha kaya Pudji dengan anak perempuan usia 12 tahun. Dengan dalih Nabi SAW., pun melakukan pernikahan dengan Aisyah di usia sekitaran 9 tahun.

Tapi, di Islam juga ada risalah, kajian bersumber hikmat ilmu pengetahuan agama Islam. Dan Nabi SAW., juga mengatakan Tiada agama tanpa akal sehat.

Di siroh Nabawiyah Nabi SAW., di titipkan Aisyah pada usia 9 tahun, memang buat di nikahi, tapi di awalnya juga menunggu, hingga Aisyah berusia dewasa.

Kata dokter juga berhubungan dengan standar kesehatan rahim dan organ perempuan.

Dan hal lain adalah karena sayidina Abu Bakar ra., yang mempercayakan puterinya pada sesosok manusia Nabi istimewa, Nabi Muhammad SAw.

Dan di tafsir lain, berdasar ayat Qur’an, menurut tafsir Al-Azhar dari Kiai Buya Hamka, ayat Qur’an tersebut menjelaskan pemberitahuan ALLOH SWT., bahwa hal-hal menikahi perempuan di bawah umur, poligami hingga 10 isteri, hanya di berikan ALLOH SWT., hak istimewanya khusus hanya buat Nabi Muhammad SAW.

Dan memang berdasar hadits, Nabi Muhammad SAW., sejak isteri pertama, Siti Khodijah ra., yang paling di cintainya, hingga mangkatnya hanya bermonogami.

Setelah Siti Khodijah ra., wafat itu pun karena setelah turun ayat Qur’an dari firman ALLOH SWT., di mana umat Islam masa itu mengalami penderitaan teramat sangat, di embargo ekonomi, di usir dari rumahnya, di tindas bahkan di tanah airnya, hingga membuat Nabi SAW., menikahi anak perempuan hingga janda untuk melindunginya.

Karena orang kafir Quraisy masih segan pada keluarga Nabi Muhammad SAW. Tapi, itu pun ada hak khusus dari ALLOH SWT., cuma buat Nabi Muhammad SAW.

Ada pun umat Islam selain Nabi SAW., cuma boleh misalkan poligami sebatas 4, itu pun mesti dengan berlaku adil pada isterinya.

Dan dengan hikmat berlaku adil, berarti juga pertimbangan keseimbangan jumlah penduduk antar lelaki dan perempuan, mana yang monogami dan poligami.

Dan dengan hubungan hikmat, Tiada agama tanpa akal sehat, dan hadits Nabi SAW.,Perempuan itu bengkok tulangnya, juga dengan hadits berhubungan penjagaan rahim perempuan, maka juga di sesuaikan dengan usia si perempuan dan laki-laki di soal menikah.

Di jaman orde baru, Presiden Soeharto pernah canangkan program KB, dan usia pernikahan relatif wajar minimal di usia 25 tahun ke atas. Dan canangan ini juga sempat di jadikan tolok ukur fiqih konvensional modern di realita konvensional modern.

Dan dari hadits Nabi SAW., juga membolehkan perempuan yang sudah berusia tua/ lanjut usia, boleh memilih tidak menikah. Tapi usia baligh yang menolak menikah antar lawan jenis termasuk di haramkan agama.

Bahkan perempuan di anjurkan Nabi SAW., untuk bersedekah. Nabi SAW., juga bersabda, Sombong itu haram hukumnya.

Di Qur’an surat an-Nur tercantum ayat firman ALLOH,” Dan nikahkanlah pemuda-pemudi yang masih melajang di antaramu.”

Nabi SAW., juga bersabda,” Mata pemuda itu nakal, maka segeralah nikahkan para pemuda dengan pemudi yang melajang di antaramu.”

Tapi, ironisnya kini karena di antara orang-orang tua lelaki korupsi, justru lelaki tua juga yang malah jadi bandot tua menikahi perempuan-perempuan muda tapi sudah menikah sebelumnya, bahkan hingga menceraikan isteri pertamanya di ganti bini muda.

Sementara ketidakadilan buat para pemuda lajang belum menikah tidak di urusi, termasuk dengan jatah ekonominya. Kezoliman.

Koruptor banyak bermunculan, tapi walau pemuda punya hak istimewa sebagai keluarga putera mahkota seperti di kesultanan gunungsepuh Banten pun di lewatkan jatah fa’i ghonimahnya. Kontroversial.

Dengan maraknya para pelaku koruptor, hingga belum tersentuhnya di sanksi pengadilan, tingkat kejahatan juga marak meningkat di masa kini, termasuk kejahatan meningkat di pelaku perkosaan, seperti di angkot, di desa, di mana-mana, hingga ke perdagangan manusia (ilegal traficking).  Bermunculan tanda-tanda masa Jahiliyah modern. Bahkan TKI yang bekerja di mancanegara pun kerap kali turut jadi korban penganiayaan hingga perkosaan di tempat bekerjanya, oleh majikannya, atau lantaran kena di tipu malah terjebak di jadikan masuk ke pelacuran.

Bahkan selebritis, atau model cantik dari barat pernah juga mengaku kalau dirinya pernah di jebak ketika datang ke tempatnya Sultan Brunai Darussalam. Kesultanan yang bahkan lahirnya jauh lebih muda dari kesultanan gunungsepuh Banten Darussalam. Tapi tidak adilnya Sultan Brunai yang termasuk Sultan terkaya di dunia kini.

Memang aneh juga di masa kini, keluarga putera mahkota yang berhak sebagai pewaris takhta kesultanan gunung sepuh Darussalam seperti Surosowan Banten yang miskin, tapi yang dholim malahan yang jadi kaya.

Seperti lagu cucak rawa, yang tua, sepuh malah yang miskin dan perawan. Dan memang tradisinya, keluarga gunungsepuh Surosowan di didik sejak masa kecilnya berkenalan dengan kemiskinan juga, supaya pada pertumbuhan ke dewasanya juga ikut mempengaruhi kebijakan dan kematangan usianya. Sesuai dengan nama Mbah gunungsepuhnya, Sabakingkin yang di ambil dari cerita wayang Bharata, Sabhaparwa cerita mengenai masa penyamaran 12 tahun Pandawa.

Tapi terus-terusan menyamar tidak di kembalikan ke takhta dengan keistimewaan jatah ekonomi kecewa tidak adil juga buat keluarga gunungsepuh Surosowan Banten. Situasinya di realita kini bukan lagi hanya menyamar/ saru miskin tapi betulan jadi miskin.

Entah sampai kapan dari masa Sabhaparwa pembuangan 12 tahun Pandawa kembali memperoleh hak kerajaannya di Ngastina, meliputi Mandraka atau Trenggilingwesinya kerajaan Arjuna. Sedangkan Kurawa dengan kedurjanaannya terus melintasi dari jaman dulu hingga kemudian.

Padahal menurut cerita wayang, salah satu solusi berhubungan dengan kewenangan kepemimpinan di negara untuk turut partisipasi menentukan pemerintahan adalah juga dengan penempatan kembali  elemen kekuasaan yang baik , jurdil dan benar. Di mana termasuk melalui otonomi kerajaan.

Tapi, jika Rajanya juga condong ke seni, seperti Sultan HB II, mungkin juga kecondongan kerajaannya jadi kerajaan seni. Tapi di sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, Raja yang bisa melukis justru Raja di masa tidak melakukan penyimpangan seperti manipulasi pelaku korupsi. Contohnya Sultan HB II.

Miris juga ketika seperti nampak di tayangan berita, TKI sudah mau di perkosa, membela diri malahan kena sanksi hukuman mati melalui pengadilan di Arab Saudi. Atau ketika TKI pulang kembali dalam keadaan berbadan dua, di hamili majikannya di Arab, atau mendapatkan amplop gaji uang palsu.

Sementara Palestina yang tertindas di negaranya sendiri pun di acuhkan oleh para Pemimpin di Timur tengah, bahkan oleh Raja Arab Saudi enggan membelanya, padahal Palestina lebih dekat ke Timur Tengah. Tapi ribut memanas-manasinya hingga ke Indonesia.

Sementara di Indonesia juga para pemimpin elitnya malah korupsi. Jadi dilema, kompleksitas masalah dan ketidakadilan internal.

Mungkin ada benarnya juga ucapan Ibu Megawati S, kenapa ada TKI mau kerja ke mancanegara, sedangkan jaminan kerjanya juga tidak aman.

Balik lagi ke pertanyaan, kenapa tidak benahi soal kelapanganan kerja di dalam negeri.

Padahal di dalam negeri pun, di jumpai fenomena seperti di desa-desa, para petani tinggal generasi tua, kerjanya mengurus sawah juga kekurangan petani dalam negeri. Tapi di segi lain, soal masalah kelangkaan pupuk juga jadi masalah. Penyebabnya juga dari pemerintah pusat.

Petani kini hidupnya masih perihatin juga, tapi orang dulu juga bilang bahwa justru petani dulu masih mending dengan petani sekarang soal penghasilannya. Di mana di realitanya memang petani-petani sebenarnya juga di kuasai orang-orang kota, termasuk orang-orang kota Jakarta, di mana sejak dulunya di kuasai para bangsawan yang kebetulan sudah jadi warga lama kota Jakarta.

Termasuk peranakan bangsawan Banten dan Mataram, yang juga masih bertahan sebagai pemilik lahan sawah dan kebun di Jawa.  Karena sistim feodal bumiputera Jawa memang demikian sejak dulunya.

Tapi, jika tidak demikian lantas siapa lagi yang mempertahankan pulau Jawa sebagai lahan agrikultur, petani sebagai soko guru bangsa sejak dulu. Di mana di ironitas kini juga lahan agrikultur di Jawa juga semakin berkurang, ada karena di jadikan penambahan jalan akibat kemacetan dan pertambahan pemilik kendaraan pribadi, ada karena di jadikan rumah-rumah baru penduduk.

Seperti di kawasan Jagakarsa misalkan dulu ada empang, kebun, kini tinggal jadi rumah-rumah, yang bahkan buat di kontrakkan buat warga urbanisasi baru ke Jakarta. Itu pun ada di dapatnya dengan cara mencurangi pemilik pembeli tanah sebelumnya yang juga dari warga lama Jakarta dulunya di pertahankan sebagai kebun, empang, parit, tapi malahan oleh penjualnya sesama orang Betawi mengkhianati sesama Betawi,  lantaran tidak puas dengan pembelian harga lama, tiba-tiba di serobot di jadikan rumah kontrakan bahkan untuk warga urbanisasi baru di mana penduduk DKI juga sudah padat. Ada human errornya juga, hingga tinggal di banding dengan masalah kini, munculnya banjir misalkan.

Padahal si orang Betawi penjualnya sudah di ijinkan misalkan jadi pekerja kebun, tinggal bagi hasil dengan keluarga pemilik yang telah membeli tanahnya di tahun 1970-an. Itulah human error. Dulu Betawi dengan Betawi perang internal lantaran pejuang gerilya lawan marsose, kini dengan human error internal juga.

Memang jual hasil kebun atau empang lebih kecil hasilnya dari ternak urbanisasi mengontrak rumah, ruko di Jakarta, tapi imbasnya menambah kepadatan penduduk di Jakarta, dan Jakarta juga makin berkurang drainase, sarana kebun, empang, ato juga akibat buatan gubernur DKI sebelumnya untuk ternak suara pemilihnya bahkan dari penggelapan urbanisasi di bakal pencalonan pilkada. Seperti temuan pada perbuatan gubernur DKI Foke. Jakarta ini rusak, akibat oknum orang-orang internal sesama Betawi juga.

Surosowan museographic art-doc

Sultan Banten Abdul Mufakhir sunatan/ khitanan, efek adobe psd CS 6, by TB Arief Z

Sunatan/khitanan anjuran Islam

Surosena teringat, waktu di usia remajanya, waktu masih sekolah di tingkat pelajar di SMPN 13, jl. Tirtayasa, Jaksel, persis bersebelahan PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) RI, ketika itu dengan sekeluarga ke Bogor untuk turut menyaksikan adik kemenakannya yang masih di usia balita khitanan.

Ada rasa seperti ngeri, miris, iba juga turut menyaksikan dekat adik sepupunya di khitan, tapi bagaimana lagi, sunah wajib agama Islam demikian. Adik sepupunya menangis bahkan sebelum akan di khitan hingga setelahnya.

Tapi beberapa tahun kemudian adik sepupunya yang dulu di lihatnya masih balita di khitan, ia saksikan telah menikah dengan pemuda baik bertanggungjawab dan seagama Islam pula, Alhamdulillah. Bahkan ia telah mendahuluinya menikah.

Memang pernah muncul lagu parodi Jawanya, cucak  (kadal) rawa,,,yang tua jadi perawan. Kemudian muncul juga peristiwa cecak vs Buaya, dari kutipan istilahnya mantan Komjen Susno Duadji di kasus KPK vs Koruptor.

Di sunah agama Islam, soal khitan di jaman modern mulai di percayakan pada dokter spesialis. Jika dulu ada juga menggunakan jasa tukang khitan, bangkong, tapi lantaran cara khitan tukang khitan bangkong juga di anggap mengerikan oleh massa, misal termasuk di soal sterilnya peralatan khitannya, kemudian massa jadi beralih dominan mempercayakan dokter spesialis.

Surosena juga ingat waktu kecilnya di khitan oleh Dokter bernama Pak Mantri, Dokter peranakan Sunda-Jawa juga lulusan UI, dan pernah jadi dokter spesialis berpengalaman di RS Cipto Mangunkusumo. Kemudian karena sudah berpengalaman mendirikan klinik sendiri di rumahnya, juga untuk dekat isteri dan anaknya.

Ingat juga menjelang akan di khitan, sempat merinding keringat dingin, bagaimana besok,,,. Tapi coba di beranikan saja, seperti menghadapi uji nyali juga.

Tapi, menjelang pagi, dengan di antar (alm) Bapaknya dengan senyum, bertemu juga dengan Pak Mantri yang juga senyum dan sudah jadi tetangga kenalan sejak lama. Bahkan isterinya yang juga orang Sunda, teman di kelompok PKK dengan Ibunya.

Waktu itu kelurahan masih terdapat persis di depan rumahnya. Makanya wilayah rumahnya di sebut juga lurah lama. Juga masih di pakai sebagai sebutan untuk transit pemberhentian bus metro mini yang melintas di jalur wilayah rumahnya, dengan sebutan pada keneknya, turun di lurah lama Bang. Abang keneknya sudah tau.

Pak Mantri justru karena memperlihatkan wajah dan sosoknya yang sudah lama di kenal baik, dengan senyum tapi profesional, kemudian memberikan semacam obat pengurang rasa sakit, atau mungkin dengan suntikan. Hingga rasanya seperti di gigit semut dengan terasa besi jarum yang dingin, mungkin juga sudah di sterilkan.

Kemudian Pak Mantri mengucap BismillaH, dan menyuruh Syarif kecil ikutan membaca surat Al-Fatihah.

Dan Alhamdulillah proses khitan telah usai. Pak Mantri juga sudah nampak lega dan tersenyum lagi.

Kemudian Syarif Arifin pun di bopong bapaknya. Bahkan dari rumah Pak Mantri hingga ke rumahnya.

Dengan kakak laki-laki ke-5nya, Syarif Arifin termasuk dari anggota keluarga Bapaknya yang di khitan oleh Dokter Pak Mantri. Tapi kakak-kakak pertama dan keduanya bersama dengan saudara sepupu dan saudara angkat (juga orang Jawa) dari pindahan pertama Bapak dan Ibu ke Jakarta di tampung keluarganya di Jl. Balitung, di Bogor di khitan oleh semacam tukang khitan, bangkong bahkan di usia yang lebih muda lagi.

Tapi, bedanya mereka tidak lagi di bopong, di khitan langsung di tempat tidur di kamar di rumah neneknya. Dan untungnya Alhamdulillah juga selamat proses khitannya.

Dan sudah masuk kejaman kakak ke-5 hingga Syarif Arifin melalui Ibu, soal khitanan lebih mempercayakan pada dokter spesialis.

Setelah tiba di rumah, masih mengenakan baju koko biru Mesir, dan sarung, teringat Syarif Arifin tiba-tiba datang hajat manusianya, kebelet kencing.

Sempat panik juga, sementara pembalut perban di organnya masih menempel. Ya sudahlah kencing saja.

Setelah kencing tak sengaja Syarif Arifin membasuhnya dengan air di bagian ujungnya. Tapi setelah keluar kamar mandi sempat kena omelan juga dari Ibunya, itu kan belum kering, jangan kena air dulu. Bahkan Ibu juga melarang pakai celana dalam.

Walau pun waktu itu latah juga, lantaran termasuk dari hadiah sunatan dapat kancut baru Rider yang sedang trend dan masih putih baru. Memang keunikan kancut rider adalah di bagian tengahnya ada sela-sela kiri-kanan bisa di buka. Dan karetnya juga tidak terlalu menempel pada pinggang. Di bagian bawahnya juga halus, jadinya tidak membuat bekas karet menekan di bagian selangkangan.

Mungkin sempak berkualitas terbaik hingga kini adalah rider buat laki-laki.

Lucunya, setelah leganya melalui khitanan, tiba-tiba tamu banyak berdatangan ke rumahnya. Termasuk kerabat, tetangga hingga Pak Mantri dan Bu Mantri ikut datang. Pak Mantri nampak dengan tersenyum ramahnya juga menanyai, Gak apa-apa kan.

Hingga adik Bapaknya, Omnya yang masih berdinas di AU dengan Tante, isterinya yang cantik ikut datang. Nampak serasi dulunya Om yang masih muda dan gagah bagaikan Raden Mataram perwira AU beristeri cantik pula. Omnya juga nampak tidak banyak bicara, berbeda dengan bapaknya yang bisa bercanda.

Tapi kebanggaan bapak sebagai penerusnya di militer ialah Omnya, bahkan juga sebagai kebanggaan hadiningrat Mataram di jaman orba yang juga tidak segenap kekeluargaan besar hadiningrat Mataram bisa masuk militer. Apalagi bapaknya juga menemukan di segenap anak-anak laki-lakinya tiada yang nampak berminat masuk ke militer.

Disamping Omnya, Tantenya adik bapak dengan suaminya yang orang Amerika, Om Wilson ternyata juga datang.

Apalagi saudara-saudara dari Bapak dan Ibu yang paling sering ketemu juga datang. Termasuk (alm) Pakde yang waktu itu baru mendirikan Masjid dan sekolah Islam Sunda Kelapa, di sekitar jl. Diponegoro, Jakpus.  Pakde juga di angkat sebagai Kepala Sekolah dan Dirutnya. Di Masjid dan sekolah Islam Sunda Kelapa juga nampak pohon Beringin yang besar.

Kini di Masjid Sunda Kelapa juga terdapat kursus seni kaligrafi Islam, yang muncul sejak Syarif Arifin masuk studio lukis di FSRD IKJ, tahun 1995 sejak PDSR 1994.

Teringat juga perbincangan dengan Om dan Pakde, waktu di tanya kamu melukisnya aliran apa sih, dan Syarif menjawab, mungkin realisme. Tapi Om dan Pakdenya juga cenderung suka dengan seni kaligrafi. Pakde dengan Budenya yang kemudian juga membuat pesanan lukis potretnya dengan gaya realisme. Ingat juga Syarif Arifin sempat berucap soal Raden Saleh, atau Basuki Abdulah, hingga Dede Eri Supria.

Bahkan waktu ia membeli Qur’an kecil, di berinya yang berwarna sampul merah.

Ada saja hadiah sunatan yang di temui Syarif Arifin yang juga ikut menyempatkan minum Fanta. Tapi juga di larang banyak-banyak oleh Ibunya. Ada hadiah dari tas sekolah jenis, box alat tulis pensil, penghapus, busur, jangka dan penggaris kecil, hingga sekotak cerutu.

Bahkan Mamangnya, Mang Hasan puteranya Aki Harun (yang mantan tentara Jepang) datang sambil mengatakan, Selamat ya udah di khitan mah lega, kemudian memberi amplop isinya sejumlah uang. Mang Hasan sedang sukses sebagai pengusaha bengkel di Banten waktu itu.

Kebanyakan hadiah khitanannya adalah uang, dari kerabat dan tetangganya, bahkan berjumlah sekitar Rp 300.000an, di masa orde baru 1984 uang sejumlah itu termasuk besar nilainya. Tapi, oleh Ibunya uangnya di simpan untuk tabungan juga.

Ibu bersama kerabat, bahkan dengan Ibu-ibu PKK ikut sibuk mempersiapkan hidangan.  Sementara nampak (alm) Nenek ikut duduk di bangku merah muda sambil nampak serius dan tersenyum.

Demikianlah ingatan peristiwa sunatan/ khitanannya. Seminggu kemudian ia baru bisa mengenakan sempaknya, rider. Peristiwa khitanan yang semula di rasa tegang, tapi berakhir dengan selipan momen bahagia kumpul keluarga dan tetangga.

TB Arief Z-art

Jurnal petualangan agen 005, Surosena dan metamorfosis, by TB Arief Z

Ekonomi Syariah dan Ekonomi kerakyatan

Padahal menurut syari’ah terdapat hak fa’i istimewanya berdasar Qs Al-Anfal : 41, dan di UUD 45 pasal 18 BAB Otonomi Daerah.  UUD sejak berdirinya negara Indonesia. Dan UU lain ada yang baru di buat kini, tapi ironisnya baru cuma menguntungkan pejabat yang bahkan rawan celah korupsi menghasilkan ketidakadilan baru melalui pasal karet.

Dan sebagai Sultan berdasar hak asal-usul istimewa kedaerahan juga berdasar sejarah adatnya mesti mengumpulkan harta jika sudah meraih kekayaan, wajib pula membuat baitul mal. Rumah harta kesultanan, untuk juga menjalankan syariah ekonomi kerakyatan daerah di wilayah kesultanannya.

Apalagi saat ini juga rakyat sedang tidak percaya juga dengan pemerintah nasionalnya, lantaran di temukan banyak berbagai pelaku manipulasi korupsi.

Maka perlu juga siapkan cadangan lumbung otonomi daerah. Seperti warga petani menyiapkan cadangan lumbung masing-masing di rumah, tanah sawahnya.

Atau tiap RT menyiapkan cadangan lumbung ekonomi kewargaan RTnya seperti di masa kini melalui arisan RT, juga di bawah pengawasan tiap RW. Bagusnya rakyat dari bawah masih ada pergerakan organik yang positif.

Tapi justru dari pemerintah pusat, tingkat atas dominan manipulatif, menipu rakyat. Atau kemudian mengeluarkan penentuan  kenaikan baru tarif pajak.

Seolah peduli tapi kurang perduli dan menipu, bahkan menekan pada rakyat. Seolah pedulinya cuma ketika menjelang awal pemilu atau pilkada. Dan ketika sudah masuk di kekuasaan di antaranya termasuk berbuat korupsi untuk mempertahankan kedudukan kekuasaannya, yang bahkan diperolehnya dengan cara curang, atau tidak jurdil. Walau ketika berkuasa cenderung dominan memberi mudhorot (merugikan) ketimbang manfaat membekali buat penghidupan layak segenap rakyat.

Negara yang masih punya benteng adalah juga negara yang masih punya rakyat yang punya nurani rasa keadilan. Tapi agama juga mengajarkan sebaik-baik umat adalah juga yang punya pemimpin dan membentuk barisan yang kokoh.

Pemimpin bukan hanya status Kepala negara jika ia sudah tidak di percaya, tapi bisa juga Sultan-sultan dan Raja di tiap kedaerahan otonomi kerajaan, Gubernur, Kiai, para Ulama, RW, RT yang bisa di percaya rakyat, di samping masih punya rasa manusiawi/ perikemanusiaan dan rasa keadilan.

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin ada pertanggungjawabannya,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW.

Keadilan adalah hak-hak berdasar ayat Qur’an. Keadilan juga keseimbangan antara hak dan kewajiban kata alm Ustad Zaenuddin MZ.

Pernah juga Surosena teringat ucapan-ucapan yang pernah terdengarnya, ada cerita misalkan puteri bangsawan Solo di sebut merasa sombong-sombong karena puteri hadiningrat Solo.

Atau karena masih merasa putera mahkota, lantas di tanya soal bekerja dan soal status kewenangannya juga bisa memerintahkan penduduk melakukan pembayaran jizyah padanya selaku untuk mendirikan kembali kerajaannya, sesuai hak asal-usul istimewa kedaerahan.

Di Qs An-Nisa’ 54: tercantum bunyi ayat firman ALLOH SWT., ” Sesungguhnya ALLOH SWT memberikan kekuasaan kerajaan besar pada keluarga Ibrohim. ”

Dan di QS Al-Anfal : 41 tercantum bunyi ayat: Sesungguhnya harta anfal dan fa’i ghonimah di bumi itu Seperlima hak ALLOH, seperlima hak Nabi-nabiyalloh, seperlima hak Qorba (kerabat ) Rosul, seperlima hak anak yatim, seperlima hak fakir miskin dan ibnussabil (musafir yang sedang kekurangan bekal).

Seperlima hak ALLOH di artikan sebagai pemeliharaan tempat-tempat ibadah, misal seperti masjid dari sudut agama Islam.

Dengan keperluan wudhuk juga. Tapi ironisnya kini para pengurus masjid pun juga mengeluhkan karena ikut kena tarif bayar pajak air, yang bahkan juga naik tarifnya. Di samping pajak listrik.

Padahal soal ibadat mestinya turut di tanggung pemerintah, termasuk soal urusan pemeliharaan masjid-masjid. Tapi kini pun ada masjid-masjid yang di jadikan sasaran teroris. Dan ada pula yang bilang sebagai manipulasi dari Densus 88 antiteror kini.

Dan di jaman Nabi SAW., pun mendirikan masjid ada yang di ijinkan atau yang tidak di ijinkan beliau SAW. Maksudnya supaya masjid-masjid juga tempatnya sesuai area kebutuhan warga, juga tidak berlebihan. Karena juga berhubungan dengan efisiensi dan keseimbangan anggaran. Di mana rakyat sebagai manusia juga punya kebutuhan ekonomi yang perlu di tanggung juga.

Bahkan Kholifah Umar ra., pernah berkata,” Hingga kini aku terus terpikir setelah melihat keledai yang kurus kering menderita di gurun dekat Palestina.” Sampai satwa yang sengsara pun masih di pikirkan oleh Khalifah Umar ra.

Dan Kholifah Umar juga rajin melakukan pengintaian yang misinya untuk mengevaluasi kenyataan yang di alami rakyat, dan langsung bertindak menolong rakyat yang kesusahan. Bahkan ia memanggul sendiri karung ghonimah dari baitul mal, ketika menemukan sekeluarga fakir miskin.

Bahkan anaknya pun berbaju bertambalan padahal untuk di pakainya bersekolah. Tapi mengambil dari baitul mal pun di larang, walau buat anaknya Kholifah Umar ra., padahal sekedar untuk membeli pakaian pantas buat anaknya bersekolah.

Di bandingkan pemimpin khulafaur rasyidin amat jauh berbeda dengan pemimpin kini.

Seperti di ingatnya cerita dari Ibunya, mengenai kakek-neneknya pasangan Chaerul Saleh dan Siti Yohana Menara Saidah, pernah mengangkat 100 anak, di antaranya bahkan masih keponakan dan kemenakan dari Nenek Yo, di masa orde lama NKRI.

Ibu pernah mengatakan pada Surosena, kamu sanggup gak seperti Pak Lung, setiap hari makannya cuma pakai nasi dan sambel. Padahal Menteri.

Dan Surosena menjawab sebagai remaja modern tapi dari keluarga putera mahkota kesultanan Banten, yah kalau begitu saya gak mau jadi pejabat negara, mending jadi Raja aja, kan punya hak istimewa. Lagipula melukis juga butuh gizi cukup, berkilah.

Padahal di masukannya mendengar cerita mengenai kakeknya, begitu beratnya jadi pejabat negara, hingga sehari-hari makannya hanya pakai nasi dan sambal Padang yang memang enak juga.

Tapi jika melihat pejabat kini, beda sekali dengan yang di dengarnya dengan perbandingan dedikasi kakeknya menjadi pejabat negara. Sembarang rakyat juga bisa mencalonkan jadi pejabat, karena enak dan di manja sekali jadi pejabat kini.

Dulu, Nenek Yo/ Ibu Yo atau dengan Kakek Chaerul Saleh kadang memberikan uang pada segenap 100 anak angkatnya.

Kemudian setelah memberikan juga mengevaluasi dengan menanyakan kepada tiap anak, uangnya di gunakan untuk keperluan apa.

Ada yang ketika di tanya, ternyata buat keperluan tidak penting, sia-sia, sekedar asal belanja. Maka tidak lagi di berikan uang, atau di kurangi jatah pemberian uangnya.

Ada yang melakukannya penting, atau dengan menabung untuk keperluan, tetap di berikan uang saku lagi.

Dan mungkin pula di antara 100 anak angkat ada yang juga nakal dan berjudi. Biasanya anak lelaki di antara 100 anak angkat. Dan ibunya termasuk yang dekat dengan kedua orangtua baik itu.

Bahkan hingga lulus Diploma III di HI yang waktu itu BUMN bahkan melanjutkan regenerasi sebagai Master chef Sunda, hingga di angkat menjadi guru senior tata boga.

Intinya, Ibunya menggunakan uang untuk sekolah, hingga modalnya turut membantu suami ketika sedang di landa masalah kena PHK, jadi pengangguran di mana juga punya keperluan membiayai anak, modal menyekolahkan anak-anak, modal uangnya masih di gunakan di jalur manfaat atau keperluan wajar kebutuhan ekonomi.

Apalagi anak-anaknya sudah lulus sekolah semua.

Di masa kini anak-anaknya Ibu punya kebutuhan ekonomi buat di modal usaha, mengurus bahkan untuk mengembangkan tanah warisan berupa sawah, kebun, atau Surosena di misi usaha seni lukisnya.

Juga rakyat kini yang masih sebagian keperluan modalnya masih wajar.

Tapi, justru dari para koruptorlah, dari elit  penyia-nyia dan pemboros uang negara dan rakyat sebesarnya. Bahkan juga mencurangi pembayaran hak-hak rakyat mestinya, sesuai rasa keadilan.

Kholifah punya hak dan kewajiban, Raja juga punya hak istimewa dan kewajiban yang perlu di pandang imbang sesuai rasa keadilan. Seperti di jaman Nabi SAW hingga ke masa khulafaur Rasyidin, ada Kholifah ada pula Raja Mauquqis dan Raja Najasyi yang punya hak istimewa.

Di mana juga entah lebih jurdil dan lebih di rasa lebih sesuai bagi rakyat, kekholifahannya masa Nabi SAW., hingga ke khulafaur Rasyidin, atau para Raja Mauquqis dan Najasyi di semasanya.

Tapi dari sejarah masa tersebut, di dapat bahwa Nabi SAW., dan para khulafaur Rasyidin yang rela berkorban miskin, karena masih ada rakyat miskin, tapi juga memberikan salam sejahtera buat Raja-raja yang telah mengucapkan kalimat syahadatain. Di mana untungnya Raja Islam Mauquqis dan Najasyi juga tidak berlaku kapitalisme, sebagai Raja yang telah kaya juga bersedekah dan dermawan.

Cuma, memang jika melihat sejarah bagaimana kehidupannya Nabi SAW., para khulafaur rasyidin di hubungkan di masa modern ini, nampaknya sebagai golongan umat Islam super yang sukar di jangkau beratnya amal ibadahnya.

Maka membuat yang anak Sultan jadi membela dirinya sebagai anak Sultan dengan hak istimewanya, padahal untuk menghindar kena yang berat-berat seperti setiap yang di perbuat umat Islam super di jaman Nabi SAW., dan khulafaur Rasyidin.

Apalagi sejak melalui jaman kolonial/ klasik hingga ke modern, para Sultan yang sempat mengambil alih sebagai kekuasaan monarki kerajaan Islam absolut, juga malahan berakulturasi dengan barat, hingga penduduknya juga jadi ikutan, hingga memasuki jaman modern ke abad 20 kini. Di mana berkegiatan ibadahnya juga makin lama makin mengendur.

Tapi untungnya masih ada benteng iman sebagai modal istiqomah. Seperti kalau di kesultanan Banten mengutamakan pendirian bentengnya (benteng iman- Takwa/ rasa keadilan).

Tapi nyatanya, bentengnya pun kini sudah jadi sekedar sisa puing-puing. Akibat dihancurkan Belanda dan Inggeris tanpa di kompensasi layak dan tepat sasaran pada segenap keluarga kesultanan Banten.  Atau seperti tanda masuknya akulturasi Ghozwul fikri ke kesultanan Banten.

Jika di kasunyatan Demak rukun Ihsannya (rukun keikhlasannya / kesukarelaan), hingga menyambung ke pendirian NU, ponpes Jombang.

Nampaknya di fenomena modern ini masih ada orang-orang aneh. Nuansa modern, tapi juga muncul Jahiliyah modern.

Maka jadi membuat mawas juga.

Kerja percumah tidak dapatkan hasil, dengan kesenjangan update prasarana, maka gunakan hak otonomi wewenang jizyah kesultanan Banten buat dapat fasilitas dan kejurdilan jatah hak istimewa dan penghidupan layaknya mestinya

Salahuddin Al-Ayub pernah berkata sambil mengirimkan kudanya pada Raja Richard, Sampaikan salamku pada Raja Richard seorang Raja tidak pantas berjalan kaki di bawah bersama prajuritnya.  Raja mesti di kembalikan ke kedudukan istimewanya.

Itu ucapan Saladin sebenarnya bukan cuma buat jatah Raja Richard yang bahkan terjatuh dari kudanya akibat di masa Perang Salib hendak menjajah di Palestina. Apalagi buat seperti jatah Sultan Surosowan Banten yang jatuh miskin akibat kerajaannya di hancurkan penjajah Belanda dan Inggeris.

Richard yang Raja di posisi sebagai penjajah saja di kasih modal kuda oleh Salahudin. Kalau di tradisi prajurit Mamluk dulu, jika terjadi pertandingan, maka sebagai sesama peserta juga di fasilitasi senjata yang setara, imbang.

Bahkan Salahudin hingga membangun benteng yang tinggi di mana untuk sangat melindungi pada putera mahkota Mesir, di mana ia cuma sadar kedudukannya sebagai Sultan 1 Mamluk sementara, kemudian juga mengembalikan takhta pada putera mahkota Mesir.

Salahudin sadar kedudukannya sebagai Sultan cuma titipan, sebenarnya beliau sebagai Panglima, dan pamongnya putera mahkota Mesir, juga untuk memperkuatnya termasuk di fasilitasnya. Salahudin sebagai Panglima yang adil.

PERTEMUAN SUROSENA DENGAN LIGA JURDIL MERDEKA ( FAIR INDEPENDENCE LEAGUE).

Kemerdekaan adalah juga berarti kesukarelaan, tapi soal hak-hak mesti saling menghormati. Dan kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, tercantum di pembukaan UUD 45.

Termasuk hak otonomi atau wewenangnya Syarif Arifin, sebagai putera mahkota keluarga putera kesultanan Banten Darussalam atau dari istana Surosowan, juga berhak di hormati hak otonomi/wewenangnya meminta jizyah / pajak pada penduduk, untuk mencukupi kebutuhan prasarana dan bahagian ekonomi sejahtera, dan bahagian hak penghidupan layaknya sebagai Putera mahkota gunungsepuh kesultanan Banten Darussalam, atau hak fa’i (bahagian ghonimahnya) sebagai dzuriyah/ Qorba Rosul (keluarga Rosul SAW).

Seperti juga menghormati hak-hak fa’i atau bagian fakir miskin.  Termasuk di konsekuensi/ amanat ekonomi syari’ah. Dan amanat rasa keadilan.

Surosena mencoba terbang di hari yang mulai panas terik matahari.  Musim hujan kemarin dengan angin kencang membuatnya ngeri juga kemana-mana.

Nampak di jalan umum, masih terdapat aksi motor ugal-ugalan, suara bisingnya pun terdengar.

Pernah tetangganya, adiknya meninggal lantaran di tabrak motor. Tapi giliran ganti rugi ngabur. Nyawa korban tidak bisa di ganti dengan uang, tapi bahkan kesadaran mengambil pelajaran dari peristiwa lalu pun tiada. Masih saja ada pelaku pengendara motor ugal-ugalan, onar, biasanya anak-anak.

Tidak di Bandung yang pernah terdengar terdapat geng motor, di Jakarta juga ada.

Pernah Surosena ketika menjelang Subuh mendapati keriuhan, baru keluar rumah nampak motor sudah terbaring dengan pecahan kaca-kaca.  Dengan orang-orang sekitar ikut menggotong korban pengendara motor, dari rambutnya yang gondrong darahnya ikut melumuri ke tangan Surosena.

Jika melihat pengendara motor yang kebut-kebutan, ugal-ugalan dengan angkuh, Surosena teringat dengan wajah si korban pengendara yang pernah ikut di gotong dengan tangannya, nampak wajahnya memelas pucat pasi, darahnya mengucur banyak. Yang nampak di baliknya keadaannya sekarat.

Bahkan ia sempat berucap,” Terimakasih,” ketika telah sampai di gotong ke pembaringan di klinik tepat di dekat Surosena keluar rumah.

Tapi, usai sholat Subuh berbalik lagi ke klinik, si korban telah mangkat. Sementara sisa darahnya masih melekat di tangannya Surosena.

Pernah juga pengendara mobil, juga masih usia anak remaja bertabrakan lantaran mabuk. Kemudian di tangkap polisi.

Ketika melesat tiba-tiba menangkap sesosok juga nampak terbang.

Ia terus melesat hingga ke luar bumi.

Terbangnya hingga sampai di salah satu seperti planetoid di antara planet-planet tata surya.

Tapi, rupanya adalah planetoid di sulap jadi kapal antariksa, sama seperti planet satelit Jupiter.

” Saya Bee,” kata si sosok misterius tadi. Rupanya nampak berkostum seperti lebah.  Dan planetoid tadi mulai nampak bermotif seperti kantong madu. Bahkan terdapat sayapnya juga.

“Dari galaksi bimasakti kemungkinan terdapat kunci celah ke galaksi Batara ruci juga,” sambungnya.

Planetoid membuka pori-pori salah satu pintu poligon kantong madunya.

“Selamat datang ke liga Jurdil, agen Surosena,” sambut sesosok berbadan besar. “Saya Mada, ,,,Mada Mojo. ”

” Kami telah mendengar kau punya kontak dengan Taksaka Antaboga.”

” Coba kau lihat ke monitor ini Komander Sena,” lanjut Mada.

Wow, seperti satelit NASA dan Eropa, tebak Surosena.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s