JURNAL PETUALANGAN AGEN 005 SUROSENA. KONTROVERSI LANJUTAN KIBUL KORUPSI TERORISME – II

TB Arief Z-art

“Dark ages rakyat cecak vs buaya korupsi,” by TB Arief Z. Acrylic painting on canvas 100 X 120 cm . Efek Adobe psd Cs6

EHUD OLMERT DARI PERWAKILAN ISRAEL MENGAJUKAN GUGATANNYA WARGA ISRAEL YANG MASIH TERDAPAT DI WILAYAH PALESTINA TERUSIK OLEH GERILYAWAN

ISRAEL MENUNTUT PEJABAT HAMAS DI TIADAKAN DI PEMERINTAHAN PALESTINA

PENANGKAPAN PEJABAT HAMAS OLEH FATAH

MASALAH INTERNAL KAPITAL MAFIA KORUPSI DAN MARKUS BERBEKING PARPOL- ORMAS-NII-FPI-JAMAAH ISLAM- LABEL ISLAM BAWAHAN HABIB ARAB DI NEGARA MERDEKA INDONESIA

MASA-MASA MEMBOSANKAN DAN DI JEJALI BANYAK KEMUAKAN PERBUATAN USIKAN BUSUK MENDOMINASI MEDIA TELEVISI DAN RADIO INDONESIA

KUNJUNGAN KEHORMATAN PANGERAN CHARLES KE SRI SULTAN HB X SEBAGAI PEWARIS SULTAN MATARAM TERKUAT DAN PANJENENGAN, SEMENTARA HADININGRAT KERATON KASEPUHAN KOTA GEDE DI JAKARTA MASIH DALAM KEADAAN MISKIN

BANYAK KESAKSIAN MELIHAT HANTU-HANTU, SILUMAN NAGA, DAN MENEMUKAN KERIS MAJAPAHIT KUNO YANG MEMBUAT KERASUKAN

GEMPA BUMI DI JAKARTA, BANDUNG

GUNUNG BERAPI PALING AKTIF DI DUNIA, MERAPI MELETUSKAN LAGI WEDUS GEMBEL

SUROSENA MENGELUARKAN RENUNGAN TELEPATIS KENAPA DI MASA BERTAHTA SULTAN HB X PUN MERAPI MASIH TERUS MELETUS, TAPI DI MASA PANEMBAHAN SENOPATI SUTAWIJAYA MELETUSNYA KENA KE SULTAN PAJANG ADIWIJAYA TAPI MENAMENGI SUTAWIJAYA DAN MATARAMNYA. DAN RENUNGAN APAKAH TURUNAN SULUNG SUTAWIJAYA SEBENARNYA KAKEK NENEKNYA DARI AYAH-IBUNYA?


KEMARIN KECEWA DAPAT JATAH GHONIMAH DAN HAK KEISTIMEWAAN NYATA TIDAK ADIL SEBAGAI SESAMA HADININGRAT MATARAM PERBANDINGAN DI JAKARTA DAN SRI SULTAN HB X, DAN KETIKA TERJADI BENCANA MERAPI JADI IBA PADA YOGYAKARTA

Syarif Arifin berjalan ke toko buku Yos, untuk melihat-lihat kemungkinan mendapatkan sumber sejarah baru bakal bahan komiknya. Dan menemukan buku Babad Mataram, tulisan Dr. Purwadi M. Hum dari Yogyakarta.

Sepulang ke rumah sambil memboyong buku Babad Mataram. Sambil melalui jalan kuningan dengan ingatan nostalgianya telah bertahun-tahun lalu ia sepulang kuliahnya selalu melintasi jalan yang sama.

Dan pernah sehabis acara di kampusnya, hingga pulang larut malam, kehabisan buskota kopaja di halte pasar rumput.

Maka ia terpaksa berjalan dari pasar rumput hingga melintasi kuningan. Untungnya bertemu juga dengan 2 pekerja bangunan yang juga baru pulang. Hingga melintasi jalan kuningan pertigaan kolam pengolahan air PAM, berpisah dengan 2 pekerja bangunan yang jalan terus ke gang arah Setiabudi.

Dan  Syarif Arifin mesti berjalan sendirian lagi, hingga berpapasan dengan patung Banaspati kecil. Kemudian sambil melihatnya ada rasa merinding juga karena nampak sangat gelap. Untungnya telah menyeberang tidak papasan dengan patung Naga Antaboga.

Kali itu walau pulang waktu sore sekitar pk 14.00 WIB sudah macet di jalan Kuningan, beda dengan dulu baru sekitaran pk 17.00 WIB baru macet. Nampak kemacetan di Jakarta makin meningkat.

Situasi lalu-lintas Jakarta makin macet membuat selipan di otaknya makin malas keluar rumah.

Di petanahan, Kebumen, di kebunnya makin jarang petani generasi muda. Bahkan anak lurah yang sudah tua di sana sudah bertahun-tahun kerja di Jakarta.

Ingat dulu waktu kecil jika ke Jawa, orang-orang di Jawa memandang segan pada bapaknya yang mengemudikan kendaraan mobil Holden Kingswood station wagon yang langka di Indonesia.

Dengan logo Singa desain Belanda, dan bercat cokelat krem. Dulu dengan bapak dan sekeluarganya masih nampak bonafid orang ibukota metropolitan Jakarta ke Jawa, walau ke kota jadi nampak desanya Jakarta. Orang-orang Jawa nampak di sekitar seperti sudah segan, inilah bendoro sepuhnya, walau hanya melihat dari mobil Holden langkanya yang bahkan tidak kalah gaya dengan Mercedes baru pun di masa itu.

Sebenarnya di antara warga Jakarta sudah ada beberapa yang punya Holden, tapi jenisnya yang sedan, Holden Torana. Yang jenis station wagon Holden Kingswood, lebih jarang lagi, memang seperti kendaraan khusus warga istimewa lama di DKI Jakarta di 1980-an.

Tapi jika dari perusahaan tempat kerjanya, dulu bapaknya termasuk pegawai tingkat tinggi yang sempat dapat jatah mobil dinas dari perusahaan swasta. Mobil dinasnya, Toyota Corolla, 2 pintu, masih sedan Toyota Corola keluaran pertama.

Tapi, kini lapangan kerja makin sulit, penduduk makin padat di Jakarta, pelamar kerja juga makin banyak, hingga yang terjadi semakin sulit menciptakan keseimbangan gaji dan jatah sejahtera dari tempat bekerja di perusahaan.

Apalagi semakin memasuki jaman modern, syarat aplikasi modern juga bertambah, termasuk akibat di buat oleh orang-orang dari AS. Seperti aplikasi komputer, gadget, hingga Wacom yang tiapnya juga di jual berharga mahal mulanya.

Di mana juga besar di pengaruhi masalahnya di pengembangan kamera fotografi ke digital. Dulu kamera film harganya mahal, kini rolnya pun jarang lagi di jual, bahkan untuk mencetaknya. Membeli baru juga, di tengah masalah krisis finansial.

Jadi seperti di buat di hambat di konsumerisme update teknologi.

Update perubahan drastis, jikalau massanya juga sudah merata juga di update modal ekonomi sejahteranya, tiada masalah.

Tapi masalahnya belum imbang update pembagian modal ekonomi sejahtera merata ke segenap massa. Juga untuk pemerataan modal untuk daya belinya massa untuk mendapatkan prasarana penunjang kerjanya.

Apalagi di jaman kini yang sudah kadung seperti di Jakarta yang sangat padat kemacetan, membuat warga juga cenderung pilih alternatif sebagai pekerja rumahan.

Kemudian juga dengan munculnya istilah jual-beli kodok. Dan terdapatnya pengaruh kapitalisme bos-bos Cina, pada pekerja-pekerja Jawa pun di buat mencari pekerja dengan gaji semurah-murahnya.

Apalagi penduduk tambah padat yang juga melalui pertambahan arus urbanisasi ke Jakarta.

Dan apalagi pekerjaan di belakang meja di kantor, juga terdapat di adu tarif, atau dengan melakukan pelatihan pada pendatang baru kemudian di gaji lebih murah dan di adu dengan orang lama.

Dan imbas buruknya adalah efek mudhorot dari bertambah padatnya penduduk kota Jakarta akibat urbanisasi berlebihan.

Dan buat orang lama Jakarta yang juga dari Jawa, tadinya beruntung sempat punya tanah sawah, kebun, tapi tanahnya jadi kekurangan pekerja penggarap lahan investasinya di bidang agrokultur.

Lantaran pekerja generasi mudanya cenderung pindah ke Jakarta, dan bekerja sebagai pegawai, dan lebih mudah cari duit di Jakarta, di anggapannya.

Dan juga jadi tanggung untuk mengurus pemeliharaan bahkan ke pengembangan lahan harapan agrobisnisnya di wilayah desa di Jawa.

Lantaran kekurangan modal, karena tabungannya kurang, di sebabkan juga akibat munculnya kapitalisme Tionghoa, mancanegara asing, apalagi kini dengan maraknya korupsi, bahkan tidak bisa sama sekali memasuki lapangan kerja.

Jadinya seperti hidup tergantung, walau padahal juga bumiputera Jawa, di tanah airnya pulau Jawa.

Kemudian jika istirahatkan mobil misal di warung, Bapak kemudian ngobrol dengan orang setempat dengan melepas kerinduan berbahasa kampung halamannya, bahasa Jawa.

Dan orang Jawa yang di ajaknya ngobrol nampak senang ketemu bapak bahkan fasih berbahasa Jawa. Nampak sebagai orang Jawa yang sukses di Jakarta di tahun 1980-an, di mana masa itu orang yang hidup sejahtera di Jakarta bahkan punya mobil pribadi belum banyak.

Dan masih imbang orang kaya kebanyakannya masih hadiningrat Jawa di Jakarta.

Tapi ada yang sebenarnya sejahtera, memilihnya naik vespa atau motor. Bahkan di rumahnya cuma punya motor, itu pun dulu belum banyak juga. Memang dulu di 1980-an penduduk di Jakarta masih imbang, belum padat, bahkan belum ada kemacetan.  Memang pengaruh juga bertambah kepadatannya penduduk di Jakarta, kemudian membebani aktifitas kota, seperti di kemacetan, ekonomi dan harmoni kota Jakarta.

Penduduk juga masih seimbang, jalan-jalan masih berjarak antar mobil melintas, sangat jauh berbeda sangat macet dengan masa kini. Jaman feodalisme ningrat masih berjaya dulu memang beda dengan kini tiba-tiba bermunculan banyak orang kaya baru malah jadi jalanan macet, orang kampung punya motor malah semrawut ugal-ugalan di jalan.

Kadang Syarif Arifin terlintas di pikirannya, kenapa Bapak sampai beranak 7, kenapa tidak cukup 2 -3-4-5 saja.  Atau tanpa kelahiran dirinya.

Ingat waktu kecil suka sekali mendengar lagu Bohemian Rhapsodynya Queen. Dulu ia juga tidak suka tentara, karena mendengar dari ibunya,  kakeknya Dr. Chaerul Saleh mangkatnya karena di racun dan di aniaya tentara, berdekatan masa gestapu 65 .

Maka pernah pula melalui masa pertumbuhannya di orde baru kadang melampiaskan kambing hitam pada Presiden waktu itu, Soeharto. Walau padahal jajan di waktu itu masih murah. Bapaknya setelah pernah di berhentikan dari tempat kerjanya karena di fitnah, kemudian mendapat pertolongan dari temannya dulu seangkatan di militer. Dan memberinya tanah. Tanah itu kemudian di jual setelah Bapaknya mangkat.

Bapaknya dulu pernah setelah Surosena lulus kuliah, menawarkan padanya, kamu mau nggak melukis di Petanahan, tapi kemudian ada juga pertimbangan bagaimana soal makannya, apalagi di Petanahan yang desa juga sepi, belum lagi kemudian adanya temuan masih terdapat peninggalan-peninggalan mistis, yang juga bersifat angker.

Tapi, masalah utamanya adalah di soal pemasaran karyanya. Bagaimana chanel cari uangnya dari desa.

Tapi, pertimbangan lain, adalah sambil berkarya dapat sambil belajar bertani, berkebun, memanjat pohon kelapa, dekat tempat nelayan, dekat ke sawah, dekat ke kebun.

Kemudian melihat film Robinson Crusoe, yang juga bercerita tentang orang kota dulu terdampar bahkan ke pulau yang belum terjamah prasarana kota. Belum lagi jalan ke desa Petanahan juga masih rusak, masih berbatu-batu kerikil besar, bahkan sejak melalui tugu Pangeran Diponegoro di atas kudanya dan mengacungkan keris pusakanya, melewati wilayah Tegalredjo, tempat Ibunya P. Diponegoro.

Ironis memang, Presiden RI banyak orang-orang Jawa, juga dengan pejabat-pejabatnya, tapi mungkin karena orang Jawanya bukan dari sekitar  kampung asal kelahirannya P. Diponegoro, justru selama berpuluh-puluh tahun (mungkin sejak masa orla atau sejak peristiwa asal-mula perang Diponegoro menentang pembangunan jalannya penjajah Belanda di masa kulturstelsel, penggantian pasak Belanda jadi tombak Diponegoro karena nyaris menyerobot masuk kawasan tanah makam Ibunya P. Diponegoro di Tegalredjo), hingga sekitar jalannya bahkan masih rusak, masih dari batu-batu kerikil, dari Tegalredjo hingga ke Kebumen, Petanahan, pantai Karanganyar, bersebelahan pantai Bantul, tempat makam Plered, Sultan Agung.

Pernah juga mendapat info, bahwa di antara turunan P. Diponegoro modern ialah Prof. Nugrohonotosusanto, mantan Mendikbud di masa orde baru.

Dan dari Nenek, Moelyowihardjo juga dari asal keraton kasepuhan Kota Gede. Juga nenek dari Ibunya Surosena, peranakan keraton kasepuhan Kota Gede.

Yang Surosena tau dari bacaannya, Keraton Kota Gede ialah keraton pertamanya kesultanan Mataram, bahkan sedari belum menjadi kesultanan, sejak masa Ki Gede Pemanahan, di dirikan sesuai namanya sebagai Kakek buyut Sepuhnya Mataram, yang juga berputera Raden Ngabehi Saloring Pasar, atau Sutawijaya.

Bahkan keraton Kota Gede masih di jadikan istana oleh Sultan Agung I, Hanyokrokusumo, di masa perang Batavia. Kemudian Sultan Agung di makamkannya di Plered, Bantul.

Dan dari keturunannya kesekian, Pangeran Puger (II), atau Pakubhuwono, kemudian di dirikan keraton Ngayogyakarta.

Tapi, yang di keraton Kota Gede, tetap turunan dari keluarga kakak-kakak sepuhnya Mataram. Kemudian ada yang berpindah ke Jakarta, bahkan menjadi peranakan putera mahkotanya gunungsepuh kesultanan Banten, atau Surosowan.

Menyeberang dari kasepuhan Kota Gede, menjadi gunungsepuh Surosowan.

Ingat melalui masa remajanya juga sempat membaca buku-buku koleksi bapaknya dari jaman dulu, yang berupa buku-buku cerita petualangan intelijen agen Hawk di Kamboja, hingga buku stensil petualangan agen 007 James Bond, bahkan hingga buku beladiri Judo dan pelajaran teknik renang.

Dulu, waktu masih kerja menjadi manajer di HI, waktu baru berdirinya hotel Presiden di seberangnya, yang di dirikan oleh Presiden Soeharto, mungkin juga sebagai tandingan tanda gengsinya menyambangi HI yang di dirikan Presiden RI pertama Soekarno, karena orang hotel di sekitar juga segan dengan pegawai lama HI, termasuk dengan Bapaknya, sempat pula anak-anaknya di beri kesempatan gratis berenang di kolam renang tingkat atas Hotel Presiden yang baru berdiri.

Kini, hotel Presiden sudah menjadi ruang wawancara reporter TV One. Dan sudah di rubah konstruksi gedungnya.

Ingat dulu, bahkan waktu hotel Mandarin baru berdiri, juga mengundang bapaknya dengan sekeluarga datang ke peresmian pembukaannya hotel Mandarin.

Dan ketika sejak memasuki masa awal orba, HI dari BUMN berubah status, dan merger dengan hotel berbintang terkemuka dari AS, Sheraton.  Di mana bapaknya masih menjadi manajer, dan nampak pergaulannya dengan orang-orang Amerika Serikat. Padahal dulunya pernah jadi kubu berlawanan di antar militer.

Bahkan ketika membuka hotel cabang di pantai Pelabuhan Ratu, pantai selatan Jawa, bapaknya juga yang di tempatkan sekalian sebagai manajer pengawas di sana.

Di pantai selatan pelabuhan Ratu, juga ada kekhawatiran di soal mistis di sana, berhubung dengan legenda Nyai Roro Kidul. Dan bapaknya yang mula-mula di tempatkan menjadi manajer juga di hotel baru HI-Sheraton yang kebetulan pertama berdiri dan masih satu-satunya di sana.

Karena seperti jika bapaknya tiap ada di sana, suasana mistis legenda Nyai Roro Kidul seperti bisa di taklukkan. Mungkin juga karena bapaknya masih turunan hadiningrat Mataram. Dan kerabatan sesebayanya juga masih terdapat di sekitar. Mungkin juga kenal dengan orang ‘pandai.’

Ada saja cerita mengenai temuan keangkeran di pantai selatan Pelabuhan Ratu.

Misal ketika bertepatan malam Jum’at Kliwon, tiba-tiba dari laut membelah kemudian di tengahnya menjadi jalan, dan kemudian keluar kereta kencana emas. Dan kereta kencana emas juga membawa Nyai Roro Kidul yang senang dengan atribut pakaian warna hijau, hendak mengunjungi kamarnya yang juga di sediakan khusus buatnya di salah satu kamar di hotel Pelabuhan Ratu.

Pertanyaannya bagaimana dan siapa pertama perantara yang melakukan transaksi kerjasama ketenteraman dengan Nyai Roro Kidul, bahkan hingga khusus menyediakan kamar istimewa buatnya bahkan di hotel HI Pelabuhan Ratu sejak pertama berdirinya, di 1980-an.

Pantai pelabuhan Ratu yang juga di sekitar Gunung Kidul, dan di pesisir samping pantai Karang Anyar hingga Parangtritis. Dari Bantul, parangtritis, ke arah timur adalah gunung Merapi yang telah meletus dengan mengeluarkan wedus gembel yang juga berupa awan panas dan beracun.

Gunung Merapi juga di katakan terdapat kawasan angker. Bahkan di sebut bahwa markasnya cerita sosok Mak Lampir.

Memang di sekitar kawasan kerajaan Mataram dari masa purba hingga kini di sebut di lingkupi area-area kawasan angker dan bernuansa mistis.

Surosena sedang terbang di  langit sekitar Merapi.

Di pemandangan membumbungnya asap berlapis-lapis kehitam-hitaman ke abu-abuan, sekilas nampak beterbangan sosok-sosok.

Mereka adalah Mak lampir dan pasukan silumannya.  Mereka juga jaringan putera Iblis, Batara Kala.

Surosena tidak berani langsung menyerang gerombolan Mak lampir.

” Kamukah cucu Arjuna dari gunungsepuh Banten. Cucu pendekar yang pernah menaklukkan siluman di Cirebon.,,?” Mak Lampir menimpali. “Nasibmu sungguh beruntung cucu lurah,,,lompat jadi gunungsepuh.”

“Nenek tua, kau sudah pernah di kalahkan pendekar Sembara, Mak Lampir. Kali ini pun ada regenerasi pendekar hendak menjajalmu lagi,,,” Surosena menimpali.

” Jaga congormu bocah,,,” Mak Lampir langsung mengirimkan serangan tongkatnya.

Surosena berkelit. Tapi serangan lain di susul gerombolannya. Rupanya serangan depan Mak Lampir sebagai pengalih serangan gerombolannya.

#Recites #Islamic #Jumaat #Selawat #Nabi #last...
#Recites #Islamic #Jumaat #Selawat #Nabi #last #Prophet #Muhammad #SAW (Photo credit: DeadGoat)

Tapi Surosena membaca Takbir, gerombolan siluman sontak goyah kaget.

Kemudian Surosena melesat terbang berkelit.

Dan berubah formasi metamorfosis menjadi awan. Metamorfosis awannya di bacakannya Dho’a Basmalah, Wudhuk dan ayat Kursiy.

Kemudian di jadikannya hujan dengan angin menyebar air hujannya.

Tapi, gerombolan siluman itu hanya terkena sebentar. Tak lama mereka kembali dalam posisi menyerang.

Apalagi Mak Lampir. Dengan gerombolannya nampak termasuk jenis siluman kuat.

Ayat IlaHi juga penyampai perantara kalam IlaHi.

Surosena kembali ke jati dirinya.

Mak Lampir dan gerombolan silumannya menyerang bersamaan.

Tapi, begitu mendekati Surosena, mereka semua terpental.

Dari inti dayanya, inti cahaya Surosena bersinar.

Membuat Mak Lampir dan gerombolannya jadi berubah wajahnya. ” Itu Zat nurbuwah Al- Malik,,,,masih terdapat dalam dirimu,,,”

” Hati-hati, Zat nurbuwah juga di jaga para Malaikat, mungkin kita juga akan di serangnya,” setelah berucap, Mak Lampir dan gerombolan silumannya mundur melesat kabur.

Surosena mengucap Syukur. Mungkin juga karena karunia ALLOH, sisa Zat nurbuwah yang masih terdapat dalam dirinya pula kadang jika ia dalam tidurnya memimpikan memeluk perempuan, kemudian dapat terasa resapannya mendalam mengenakkan hingga ke terdalam sumsum hati si perempuan, menyebar ke segenap sendi-sendi jaringan tubuhnya. Apalagi jika sudah nyata dengan perempuan pilihan mimpi yang cocok.

Hingga membuatnya terasa beda jika di banding lelaki lain.  Juga jika di tinggalkannya perbuatan itu, turut membuat perempuannya gelisah. Atau seolah bahagia, padahal gelisah juga di dalam tubuhnya ada kehilangan penenteram di ruh spiritualnya.

Dan yang gelisah bukan hanya perempuannya, tapi juga segenap manusia di bumi ini, juga perasaan bumi dan alam raya, yang juga berjaringan rasa dengan Zat Nurbuwah.

Zat Nurbuwah yang juga bereaksi dengan hati nurani rasa keadilan.

Laut selatan juga sedang mengalami pasang ombak yang tinggi di masa perubahan iklim kini.

Surosena menceburkan dirinya masuk ke laut selatan.

Warna di dalam laut selatan nampak bercampur antara kehijauan dan kebiruan.

Tapi Surosena langsung mendapatkan belitan gulungan besar air di dalam laut.

Air di dalam laut seperti makhluk hidup raksasa yang juga sedang menggulung dirinya.

Dari menggulung kemudian terasa seperti ada daya menarik hingga makin ke dalam. Seperti di tarik oleh magnet mistis berkekuatan besar. Laut selatan juga terdapat palung-palung lautnya yang dalam.

Makin ke dalam warna laut nampak makin gelap.

Tapi sehabis gelap menjadi perubahan terang keemasan.

Surosena tadinya terbelenggu laut di hadapkan pada Ratu Kidul.

” Beruntung kau masih cucuku,,,,” kata Nyai Roro Kidul.

” Jadi Nyai benar nenek saya,,,” Surosena berkata.

” Kamu sebagai keturunan Raja seharusnya berhak istimewa sebagai Raja di muka bumi,” kata Nyai Roro Kidul yang nampak dengan busana berwarna gemerlap kehijauannya.

ANAK GUNUNG KRAKATAU MEMANAS DAN MENJADI OBYEK WISATA DADAKAN YANG JUGA RAWAN BAHAYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s