JURNAL KOMIK AGEN 005 SUROSENA : HUBUNGAN KRONOLOGI KERAJAAN SARASEN

TB Arief Z-art

Sampul Petualangan agen 005 Surosena : Kronologi kerajaan Sarasen, by TB Arief Z-flamming art

Ilustrasi cerita komik Petualangan Ksatria Surosena Metamorfosis. Jilid Episode : Hubungan Kronologi Kerajaan Sarasen.

Di Abad 10 masehi

Kejayaan dinasti kerajaan-kerajaan Islam

Di abad 10 masehi, negara-negara adidaya di dunia adalah kerajaan-kerajaan Islam.  

Di masa itu, kerajaan-kerajaan Islam juga sebagai kerajaan-kerajaan dan negara terkaya di dunia.

Tapi, di abad 10 masehi juga sempat terdapat perang perebutan kekuasaan antara kerajaan-kerajaan Islam, untuk memperebutkan batas perluasan wilayah.

Terdapat beberapa dinasti kerajaan-kerajaan besar Islam, seperti dinasti Abbasiyah, berpusat di Baghdad Irak yang menguasai wilayah Timur tengah hingga Suriah, Afganistan, dinasti Fatimiyah yang menguasai wilayah Afrika timur hingga ke Sumatera Perlak/Pasai, dinasti Cordoba yang menguasai daratan Eropa, dan dinasti Alawiyah di Afrika barat, meliputi Maroko, Tunisia, Aljazair, bahkan sempat menguasai Spanyol tenggara, dinasti Turki Utsmani.

Di dinasti Fatimiyah yang merupakan perwakilan kerajaan dzurriyah (cucu Nabi SAW)., mula-mula, dari keturunan keluarga Sayidina Hasan ra. Makanya dinasti Fatimiyah kekuasaanya mudah meluas hingga ke Sumatera, di Perlak atau Pasai awal.

Tapi, karena beraliran Syi’ah, membuat kekuasaan dinasti Fatimiyah juga di kontroversi dari kaum Sunah umat Islam.

Dari Sarasen, menjadi kesultanan Mamluk, kemudian menjadi kerajaan-kerajaan keturunannya, meliputi di Suronata Indonesia, kesultanan gunungsepuh Surosowan-Banten Darussalam, kesultanan Cirebon, Selo-Mataram, Deli Serdang, Palembang, Gowa, Ternate, Tidore, hingga Kaimana-Sorong, Papua barat. Tapi juga kembali menjadi kerajaan-kerajaan terpisah wilayah hak otonomi  asal-usul istimewa kedaerahan, seperti negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jika menurut pasal 18 UUD 45, BAB Otonomi Daerah di Indonesia. Di mana hak otonomi di kamus bahasa berarti hak/wewenang mengatur pemerintahan sendiri, seperti haknya kerajaan di Indonesia di wilayah kerajaannya.  Di mana juga terdapat hubungan kekerabatan antar kerajaan di Indonesia.

Kisah kronologi kerajaan Sarasen dan kepemimpinan Salah-Al-Din /Salahudin al-Ayub juga terdapat hikmat teladan baik di dalamnya.

Kerajaan Perlak Sunah dan Syi’ah

Bahkan di Perlak menjadi terbagi 2, Perlak luar dan Perlak dalam. Juga di tandai dengan seperti perang saudara antar kerajaan Perlak. Sedari abad 10 m., hingga berakhir di abad 11 m.

Mulanya Kerajaan Perlak Syi’ah yang berdiri, tapi karena Rajanya dari Sayid orang Arab yang menikah dengan puteri keturunan Mohrat / Mara (gelar bangsawan Islam di Sumatera dari keturunan Dharmasraya).

Tapi, masalahnya bukan karena ras dari Arab, tapi sifat dari orang Arab yang kasar, kejam, apalagi jadi penguasa kerajaan, pemerintah, negara. Maka jadi pertentangan internal juga seperti di Perlak.

Tapi tidak selalu terjadi peperangan, ada juga melalui masa perjanjian damai, tapi beberapa waktu kemudian rawan terjadi perang lagi, karena masih di kuasai kerajaan Perlak yang beraliran Syi’ah sebagai otoritas pemerintahan.

Di tandai dengan perebutan kekuasaan antar Raja-raja sesama turunan Mohrat, untuk menyatukan kedaulatan kerajaan Perlak, dari kelompok Raja yang beraliran Syi’ah dan berafiliasi dengan kerajaan Fatimiyah, dan dengan kelompok Raja yang beraliran Sunah.

Di mana, sejak abad 7 masehi, juga di Sumatera berperan sebagai pusat syi’ar penyebaran agama Islam ke penjuru Nusantara.

Tapi misi syi’ar penyebaran agama Islam tetap di jalankan. Perangnya cuma terjadi di antar kerajaan Perlak, sebagai simbol pusat pemerintahan kerajaan Islam di nusantara waktu itu.

Di abad 10 m., dari orang-orang Turki yang menguasai kota Syam, di Palestina, mengusir orang-orang Nasrani Eropa peziarah dari Palestina.

Pemerintah Kerajaan Turki Utsmani punya maksud untuk menjadikan kota Syam sebagai kota suci ke-2, Qudds, atau Kudus.

Kota yang juga situs peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW., tiba di masjid Al-Aqsho.

Kota Syam, memang dari sejarahnya terdapat latar lintas sejarah strategis berhubungan 3 agama samawi, Islam, Nasrani, dan Yahudi/ Taurat Nabi Musa ‘as. Yang bahkan Nabi-nabiyalloh penurun kitab-kitab samawi Al-Qur’an, Injil, Taurat, masih berhubungan kerabat, dari Nabi Ismail ‘as., dan Nabi Ishak ‘as., sesama putera Nabi Ibrohim ‘as.

Yang mana menurut kepercayaan umat Islam, Nabi Ibrohim ‘as., sebenarnya juga muslim, atau beragama Islam. Bahkan sejak Nabi Adam ‘as., ke nabi kemudian semuanya muslim, mengajarkan agama Islam, tapi bertahapan.

Orang-orang Turki, seperti dari kalangan umat Islam, juga ada yang menafsirkan, bahwa di kota Syam atau masih di sebut kota Yerusalem oleh kaum Nasrani dan Yahudi, sebenarnya tidak terdapat makamnya Nabi Isa ‘as.

Cuma simbol makam dengan di buat patung Yesus.

Tapi sebagai kota tempat Siti Maryam ra., melahirkan Nabi Isa ‘as., benar.

Maka kebetulan berhubungan untuk program kerajaan Turki Utsmani hendak menjadikan kota Syam sebagai kota Quds atau kota suci ke-2 setelah Mekah, bahkan bisa di sebut kota suci ke-3 setelah Madinah, orang-orang Turki mulai berlaku tegas mengusir para peziarah Nasrani dan Yahudi dari Quds.

Karena dengan alasan, mau menziarahi siapa, sedangkan makamnya Nabi Isa as., di sana palsu.

Tapi, juga buat orang-orang Eropa jadinya di rasa kecewa dan tidak adil atau kurang bijaksana juga, tidak bisa lagi berkunjung ke Palestina, atau misalkan mau mengunjungi misal situs tempat lahirnya Nabi Isa ‘as.,atau hingga indikasi makam Nabi Isa ‘as., di Mesir, sedangkan di waktu itu Mesir juga di kuasai oleh dinasti Fatimiyah, yang juga penguasaan orang-orang Arab yang kasar.

Karena tersinggung akibat peristiwa pengusiran itu, Paus Urbanus dari kerajaan Vatikan menyatakan perang Salib dengan mengumpulkan bangsa Eropa.

Kemudian menjadi pengiriman misi ekspedisi pasukan Salib.

Waktu itu, kekuasaan Gereja juga menjadi pusat kekuasaan bangsa Eropa.

Yang mungkin juga kecewa, karena kerajaan Islam, sebagai simbol negara adidaya, simbol pusat para penguasa dunia, justru mencontohkan saling perang berebut kekuasaan, kedudukan, kaya tapi bakhil, dan nampak sombong buat bangsa Eropa.

Juga di soal penguasa hukum, dan dengan penggunaan aparatnya yang mungkin di rasa sewenang-wenang, menindas, atau berkekerasan, paradoks tidak adil, jahat, bahkan di rasakan oleh orang-orang Eropa.

Di mana di wilayah Eropa pun, di kerajaan Cordoba, Andalusia, Sultannya juga dari Arab.

Mungkin sebenarnya bukan Islamnya yang jadi di kontroversi orang-orang Eropa, tapi kelakuan orang-orang elit, jahat di status di antara umat Islamnya yang malah memberi contoh pemerintahan yang buruk, tidak baik, korupsi, tamak, tidak adil, semena-mena.

Bahkan di buku The Golden age of Islam, juga nampak suatu gambar seperti oknum Ustad  bahkan nampak mengenakan sorban, jubah gamis, tapi berbuat homoseksuil atau gay di suatu kerajaan di Arab.

Latar krisis ekonomi parah bangsa Eropa

Alasan sebenarnya, di Eropa juga mengalami krisis ekonomi parah. Sedangkan kerajaan-kerajaan Islam dan umat Islam posisinya sebagai umat yang kaya waktu itu. Motivasi sebenarnya latar ekonomi.

Dan bangsa Eropa, walau miskin, tapi sebagai prajurit dengan membuat bekal persenjataan lebih unggul. Di samping  fisik tubuh orang-orang Eropa yang tinggi besar, kuat, sterk. Dan giat berolahraga. Apalagi juga menjalin persatuan. Maka jumlah pasukannya pun lebih banyak.

Sedangkan kerajaan-kerajaan Islam walau kaya waktu itu, tapi juga terpecah-pecah. Lantaran juga satu kerajaan, tidak cocok menjalin hubungan antar penduduk dengan kerajaan lain.

Ekspedisi & Invasi pasukan Salib (Crusaders).

Pasukan Salib berangkat dengan pasukan berkudanya. Baju perangnya terbuat dari besi yang berat.

Juga persenjataannya yang terbuat dari logam berat. Dari pedang, tombak, perisai.

Hingga pasukan pemanah.

Pedangnya pasukan salib, tegak lurus tapi besar, dan panjang.

Bahkan kudanya pun di pakaikan baju besi.

Dengan formasinya yang demikian kuat, nampak sukar menembus pertahanan pasukan Salib.

Pasukan salib terus menuju Yerusalem. Dan pertahanan di Palestina pun tidak mampu membendung gempuran pasukan salib.

Dengan di pimpin Sir Gotfried dari Inggeris, dengan pedang pusaka besarnya pasukan salib berhasil menduduki Palestina.

Setelah menduduki Yerusalem, pasukan salib membangun benteng-benteng besar dengan tembok tinggi di penjuru Yerusalem.

Justru dari perkenalannya dengan orang-orang Islam, dengan pasukan salib jadi kenal dengan rempah-rempah sebagai penyedap masakan.

Hingga ramuan obat-obatan. Misal herbal, jamu,dll.

Bahkan orang-orang Islam jadi di pekerjakan juga oleh orang-orang Eropa pasukan Salib.

Ada juga di antaranya di pekerjakan sebagai hamba sahaya.

Di abad 10 m., dan sebelumnya, orang Inggeris, sebagai juga negara feodal, tadinya di kaum bangsawan dan borjuis atau orang kaya mempekerjakan hingga punya hamba sahaya hanya dari sesama orang Eropa, setelah pendudukannya di Yerusalem jadi punya bawahan orang-orang Islam, hingga hamba sahaya.

Tapi, orang-orang Islam bawahan hingga hamba sahaya ini tetap di bolehkan melaksanakan ibadahnya, seperti mendirikan sholat 5 waktu, sholat Jum’at berjama’ah, tapi tetap di bawah pengawasan pasukan salib.

Di awasinya, karena di pendudukan pasukan Salib yang berlangsung hingga 2 abad, juga tetap muncul aksi-aksi gerilya perlawanan.

Yang tujuannya untuk merebut kembali hak tanah airnya Palestina.

Latar belakang Salahudin al-Ayub

Di sejarah di sebut, bahwa Salahudin juga keturunan suku Kurdi, berasal dari Irak.

Suku Kurdi, termasuk di antara suku bumiputera di Irak, dan di suku bangsa Persia. Tapi, semenjak penguasaan dari Arab, maka penduduk Irak juga bercampur orang Arab.

Di bangsa Persia, dulunya terdapat suku-suku natif seperti termasuk Sasanid, Kurdi, Majusi (yang penyembah api berhala).

Suku Sasanid dan Kurdi ini dulunya pernah menjadi anak pasukan Romawi, ketika di masa berkuasanya Romawi. Kemudian ketika Kholifah ke-2 Rasyidin, sayidina Umar al-Khotob ra., mengirimkan Kholid bin Walid ra., sebagai pasukan ekspedisi misi penaklukan kerajaan Persia, pasukan Sasanid dan Kurdi juga bergabung dengan pasukan umat Islam.

Suku Kurdi ini juga seperti suku pengelana umat Islam, seperti orang Persia atau dulunya di masa purba bangsa Funisia yang juga pengelana. Di antaranya ada yang berpindah menyebar hingga ke wilayah Rusia.

Salman al-Farisi radiyallohu ‘anhu juga berasal dari bangsa Persia, yang kabur menuju Nabi SAW., lantaran bertentangan iman dengan suku Majusi yang berkuasa di kerajaan Persia.

Salahuddin lahir di sebut kastil di Tikrit, tepi sungai Tigris di Irak pada 1137 masehi atau 532 Hijriyah.

Nama aslinya adalah Salah al-Din Yusuf bin Ayub.

Ayahnya Najam Al-Din masih keturunan Kurdi dan menjadi pengelola kastil bersama adiknya, Shirkuh.

Pada saat menjelang kelahirannya, terjadi peristiwa sedih dalam keluarga besarnya.

Shirkuh mendapat laporan dari seorang wanita yang di lecehkan Isfahsalar.

Shirkuh bertengkar dan kemudian membunuh komandan gerbang kastil yang bernama Isfahsalar.

Akibat peristiwa ini membuat Salahudin kecil bersama keluarga besarnya Najam Al-Din di usir dari kastil.

Pertemuan dengan Zangi, Panglima Sarasen

Mereka kemudian bertolak ke Mosul.

Di Mosul, mereka bertemu dan membantu Zangi, seorang pemimpin Arab yang mencoba menyatukan wilayah Islam yang tercerai berai dalam beberapa wilayah kerajaan kecil, seperti Suriah, Antiokia, Aleppo, Tripoli, Homs, Yerusalem dan Damaskus.

Zangi yang beraliran Sunni berhasil menjadi penguasa di seluruh dunia dan bersiap menghadapi Tentara Salib dari Eropa yang saat itu sudah memasuki tanah Palestina.

Laskarnya Sarasen, juga terdiri dari kumpulan prajurit-prajurit nomaden umat Islam, yang dulunya di sebut kelompok Mamluk.

Di antaranya bahkan pernah menjadi prajurit bayaran. Juga berpakaian zirah, hampir seperti prajurit Samurai di Jepang. Dengan terselip pedang juga hampir mirip pedang panjang katana Jepang.

Yang nasibnya juga hampir seperti prajurit Samurai, ketika tidak lagi di pakai kerajaan, kemudian menjadi kelompok pengelana, atau pendekar Samurai berjuang sendirian, atau bermukim di kampung.

Kemudian di masa itu di persatukan lagi ke laskar Sarasen.

Di bawah bimbingan Zangi dan Nuruddin, pelan-pelan Salahuddin yang bertubuh kecil, rendah hati, santun, penuh belas kasih namun juga cerdas ini menemukan jalan hidupnya.

Zangi meninggal tahun 1146 setelah menundukkan Edessa, sebuah propinsi pendukung Eropa, kemudian di gantikan oleh Nuruddin.

Pada tahun 1163, Nuruddin mengutus Shirkuh untuk menundukkan Mesir yang di pimpin kekholifahan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah.

Setelah mencoba kelima kalinya, Shirkuh berhasil menundukkan Mesir pada tanggal 8 Januari 1189.

Namun 2 bulan kemudian, ia meninggal secara mendadak dan di perkirakan di racun.

Masjid Al-Azhar yang juga terdapat sekolah hingga universitas di Kairo, Mesir, tadinya peninggalan Fatimiyah. Terus di pelihara, tapi kurikulumnya mulai di ganti kurikulum aliran sunah.

Di Mesir, juga dibangun benteng-benteng yang tinggi dan kokoh.

Termasuk untuk melindungi putera mahkota dari Fatimiyah, yang di duga masih keturunan dari sayidina Hasan ra.

Juga untuk melindungi keluarga dzuriyah Hasan dan Husain ra., di Mesir, dan di Irak.

Pengangkatan Salahudin

 

Nuruddin kemudian mengangkat Salahudin menggantikan Shirkuh.

Salahuddin di anggap masih sebagai bocah yang lembek dan lemah sehingga mudah di kontrol. Nuruddin tentu tidak mau mempunyai pesaing kuat yang mempunyai kekuasaan besar di Kairo. Namun prediksi Nuruddin salah.

Salahuddin segera mengorganisir pasukan dan mengembangkan perekonomian untuk menghadapi serbuan balatentera Mesir yang ingin merebut Mesir.

Dalam kurun waktu 1169-1674 itu, Mesir di bawah pimpinan Salahudin menjelma menjadi kerajaan yang kuat.

Serbuan tentara Salib berkali-kali dapat di patahkan.

Namun kegemilangan Salahudin malah membuat Nuruddin khawatir.

Hubungan keduanya memburuk dan pada tahun 1174 itu Nuruddin mengirim pasukan untuk menundukkan Mesir.

Malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat di raih. Saat armadanya tengah dalam perjalanan, Nuruddin meninggal dunia pada 15 Mei. Kekuasaan di serahkan pada puteranya yang baru berusia 11 tahun.

Pertempuran urung terjadi. Bahkan Salahuddin berangkat menuju Damaskus untuk menyampaikan belasungkawa.

Kedatangannya di elu-elukan dan di harapkan mau merebut kekuasaan.

Namun Salahuddin yang santun malah berniat menyerahkan kerajaan pada raja yang masih belia namun sah.

Ketika raja belia tersebut tiba-tiba juga sakit dan meninggal dunia, mau tak mau Salahuddin di angkat menjadi Sultan bagi kekholifahan Suriah dan Mesir, pada tahun 1175.

Salahudin menciptakan baju zirahnya terbuat dari bahan kazaghan. Supaya dapat meringankan bobotnya, hingga dapat leluasa bergerak tangkas.

Juga untuk menyesuaikan iklim terik di Timur tengah.

Salahudin juga membuat pedang sabitnya besar juga dari logam berat.

Di suatu pertempuran, Salahudin beradu dengan Raja Yerusalem dari Inggeris, termasuk tentara Templar, juga kena di ciderainya, hingga cacat di bagian wajahnya. Hingga sejak itu beliau mengenakan topeng besi, dan di juluki Ksatria topeng besi.

Padahal Panglima Templar itu belum pernah kalah sebelumnya, bahkan termasuk prajurit Salib yang di segani.

Peristiwa ini juga mengejutkan pasukan Salib. Dan membuat sosok Salahudin jadi turut di segani pasukan Salib.

Tapi, Salahudin mesti meneruskan amanat yang di titipkan Zangi, Nurudin padanya.

Yakni, memimpin laskar Sarasen, untuk menghimpun persatuan umat Islam, dan untuk memerdekakan tanah airnya dari pendudukan penjajah.

Sarasen, Syarikat umat Islam. Syarikat umat manusia.

Pengaruh baiknya penguasaan Salahudin makin berkembang meluas.

Membuat pasukan Salib juga mulai urung untuk meneruskan pendudukannya di Palestina. Dan hendak pulang kembali ke negaranya masing-masing.

Apalagi pasukan hingga bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman, keluarga, isteri, anak-anaknya.

Salahudin memang sebagai Panglima, siasatnya di akui licik, hebat, tapi sebagai Panglima juga baik, dan tujuannya untuk kebenaran, hak merdeka tanah air.

Bahkan pernah beliau mengirimkan hadiah dan obat pula pada Raja Ksatria topeng besi. Obat termasuk untuk menyembuhkannya.

Juga pada Sir Gotfried ketika beliau mulai sakit di masa senjanya. Nampak ketika Sir Gorfried juga memakai jamu dari bahan rempah-rempah buat obat upaya penyembuhannya.

Utusan ke Bailan

Di suatu wilayah desa di Perancis, terdapat pemuda bernama Bailan yang juga menjadi tukang pandai besi. 

 

Bailan kedatangan pasukan Salib, yang juga memberikan pedang besar milik ayahnya, Gotfried, Pahlawan Ksatria Templar.  

Utusan juga menyampaikan kabar, mengenai ayahnya Gotfried yang sedang sakit keras.  

Bailan adalah putera dari hasil pernikahan Sir Gotfried dengan perempuan Perancis. 

Karena Ibunya juga cantik, maka Bailan juga bersosok pemuda tampan. 

 

Tapi Bailan juga merasa di telantarkan oleh ayahnya. Di mana karena kesibukannya di pasukan Templar, jadi meninggalkan ibunya, juga dirinya bahkan sejak kecil.

Hingga dengan susah payah utusan ayahnya membujuknya untuk membesuk ayahnya.

Akhirnya Bailan setuju untuk mengunjungi ayahnya.

Sir Gotfried terluka parah dalam misi perang

Pertemuan Bailan dengan putera mahkota sombong, Guy de Lusignan

Bailan di lantik sebagai ksatria Tempelar dan baron Ibelin

 

Terdamparnya kapal Bailan di badai lautan Arab

Dalam perjalanan melintasi lautan Arab, kapal yang juga mengangkut Bailan terombang-ambing badai di malam hari.

Hingga membuat kapalnya hancur.

Tapi, Bailan terdampar di pesisir pantai Suriah.

Ketika siuman, Bailan di selamatkan oleh kuda hitam dari kapal yang turut menyelamatkannya.

Tapi, waktu hendak mengambil kuda itu, tiba-tiba terdengar suara dari sesosok Arab, seperti tuannya di temani pengawalnya mengulang perintahnya.

Bailan di perintahkan memberikan kuda hitamnya.

Tapi, Bailan menolak dan menanyakan alasannya kenapa mesti memberikan kudanya.

Si pengawal  menjawab, Tuanku mengatakan, karena kuda itu sudah berada di wilayah kekuasaan Suriah. Maka mesti di berikan padanya.

Bailan tetap menolak bahkan menyatakan akan melawan, daripada mesti menyerahkan kuda miliknya.  Dan ia pun kemudian berposisi bersiap dengan mengangkat pedang besar Sir Gotfried.

Si Pangeran Suriah langsung memacu kudanya sambil mengibaskan pedangnya menyerang Bailan.

Lantaran merespon tantangan Bailan, baron dari Ibelin untuk berduel dengan adil. Pangeran Suriah, Mahmud al-Fasi kemudian turun dari kudanya.

Dengan berani, Pangeran Suriah menyerang Bailan, tapi Bailan mampu menangkisnya. Di samping pedangnya Gotfried yang besar, kuat berbesi tebal dan tajam di kedua bilahnya. Pedang Gotfried sebagai ksatria templar, tentunya di buat dengan tempaan khusus.

Pangeran Suriah terus menyerang dengan berani.

Berulang kali Pangeran Suriah menggerakkan sabetan-sabetannya tapi terus di tangkis oleh Bailan yang telah mewarisi bakat ayahnya dengan teknik ksatria tempelar.

Tapi, Pengawalnya yang di atas kudanya mengamati, mulai menjadi khawatir dengan jalannya pertarungan menjadi sangat emosional.

Pangeran Suriah sempat terlempar pedangnya, kemudian mengganti menyerang dengan tombaknya.

Tapi si Pengawal masih khawatir, bahkan ia sempat berkata memperingatkan pada Bailan, atau pada majikannya untuk mensudahi saja.

Justru Bailan yang sudah terlarut dalam pertarungan, juga terus meladeni, hingga tiba-tiba ia telah membunuh Pangeran Suriah.

Bailan ganti mengarah pada si pengawal. Si pengawal yang sempat bersiap, malah di serang kudanya. Hingga membuatnya terjatuh dari kudanya.

Pedang Bailan yang berlumuran darah nampak terdapat dekat jantung si pengawal. Tapi si pengawal seperti si Pangeran sama saja tidak takut mati.

Bailan berkata, ku hargai ketenanganmu menghadapi kematian. Dan si pengawal juga berkata,” tunggu apalagi,,,ayo bunuhlah saya.”

” Tapi saya butuh pemandu buat mengantar saya ke Yerusalem. Maka tolong antar saya,” kata Bailan.

Pengawalnya dengan tenang juga menjadi pengikut Bailan.

Kutipan layout kesimpulan

Memang termasuk human naturenya manusia tidak takut mati. Tapi pertanyaannya jika menghadapi di situasi resiko tidak takut mati itu, buat perjuangan manfaat apa? Supaya dalam resiko tidak takut mati itu juga di dalam upaya jihad dan kemaslahatan, apalagi utamanya juga untuk di dalam rahmat dan keridhoan ALLOH SWT.

Karena buat apa lagi takut mati jika sudah ketemu di tempatnya.

Dalam upaya berjihad fisabilillah dan sudah terlibat ke pertempuran maka soal resiko mati ada bagian di nyali manusia menghilangkan rasa takutnya, tapi di segi lain juga dalam misi jihad fisabilillah, seperti menegakkan keadilan, membela pertahankan hak tanah air, apalagi menegakkan kalimatilah jika sudah sampai terlibat ke perang salib, melawan penjajah, atau penjahat.

Dan Nabi SAW., juga pernah sampai mengatakan pada sosok yang sengaja mati, atau sebenarnya berbuat bunuh diri sewaktu di perang fisabililah, bahwa ia sebenarnya menjerumuskan dirinya ke neraka, bukan syahid.

Walau nyatanya pernah kejadian seorang Ibu kecopetan di bus, kemudian ketika mengejar si pencopetnya, yang telah keburu masuk di bus lain, nampak pula sosoknya yang tinggi besar, bahkan memperlihatkan pisaunya sebagai tanda ancaman jika di kejar.

Dan yang mengejar juga seorang, seperti ingatan Surosena ketika dulu sempat.

Menemukan di lain kenyataan, ada juga muncul ciut nyalinya seorang diri. Dan ibanya pada si Ibu korban kecopetan tasnya, dengan selipan rasa bersalahnya tidak lagi berani mengejar si pencopet dengan pisau di tangannya.

Lantaran juga ada muncul rasa khawatir jika menghadapi malah mati sia-sia, apalagi jadi membuat badan berkeringatan, nafas ngos-ngosan berlari mengejarnya.

Apalagi pertimbangan resiko jika di tambah mengejar busnya, kemudian hinggap ke pintu malahan langsung di serang pisau.

Lagipula mestinya tugas polisi yang menindak. Sebagai sesama manusia presisinya juga berlaku obyektif (presisi keseimbangan).

Menghadapi realitas yang plural juga dengan subjektif seperti kata Georg Lukacs. Manusia juga makhluk khilaf, walau sejak pada Nabi Adam ‘as., telah di tunjuk sebagai kholifah di muka bumi.

Atau di modernnya bukan lagi perang salib tepatnya, perang vs penindas zionis Israel., untuk membela hak kemerdekaan setiap bangsa, termasuk yang menonjol tertindas kini adalah bangsa Palestina.

Seperti kata Nabi SAW., Jihad utama adalah pernyataan keadilan terhadap penguasa zolim. Beliau SAW juga bersabda, Perang itu siasat.

Dan beliau SAW., juga bersabda,Tiada agama tanpa akal sehat.

Toh, seperti di Palestina juga sudah di tindas, di jajah dan di curi hak merdeka tanah airnya oleh penindas pasukan Israel.

Dan di penelusuran, justru pada pembunuh profesional biasanya berlaku tenang-tenang, sabar.

Dan fokus pada sasaran, makanya juga memilih batasan sasaran di batasan anomali atau regu pembunuh profesional.

Di mana juga menggunakan siasat dan penyelidikan akurasi di misinya. Misalnya di hubungkan terdapatnya kelompok pasukan Jaladi Mantri di masa Majapahit.

Jaladi Mantri juga pasukan yang instruksi sasaran misinya berasal kewenangan istimewanya berasal dari Sang Prabhu, biasanya dari putera mahkota dari keluarga tersulung di keturunan kerajaan Majapahit.

Hal ini termasuk berhubungan dengan prinsip kerajaan Majapahit, gemah ripah loh janawi tata tenterem kerta raharja. Di mana munculnya pasukan Jaladi Mantri kemungkinan baru di masa Prabhu Hayam Wuruk, akibat setelah kontroversi kejadian insiden pasundan bubat, maka kewenangan misi membunuh kerajaan jadi di bawah  kewenangan Prabhu.

Juga untuk mencegah aksi pembunuhan liar, apalagi jika sampai melibatkan aparat negara yang mestinya berbaktinya pada negara juga sebagai pemelihara ketenteraman dan sesuai mandat negara.

Dan kewenangannya mesti di sesuaikan dengan prinsip utama negara Majapahit waktu itu, yaitu gemah ripah loh Janawi tata tenterem kerta raharja yang juga di ucapkan melalui Prabhu Hayam Wuruk, sebenarnya juga berdasar kitab hukum negara, Kutaramanawa (Pengabdian negara buat Sang Rama Prabhu) dari tulisan Gajah Mada, pemberiannya sebelum pensiun pada Prabhu Hayam Wuruk.

Sebelum pensiun akibat insiden pasundan Bubat, Gajah Mada jadi mengasingkan diri, dan melakukan perenungan akibat tindakannya justru mengecewakan Prabhu Hayam Wuruk di insiden pasundan Bubat, kemudian menuliskan kitab hukum Kutaramanawa dan memberikannya pada Sang Prabhu.

Sejak itu pun di angkat 4 Patih sebagai pengganti Mahapatih Gajah Mada.

Gemah ripah loh janawi tata tenterem kerta raharja jika di artikan ke bahasa Indonesia, kiranya berarti Tegakkan keadilan pemerataan kesejahteraan dan pemeliharaan ketenteraman buat Sang Rama Prabhu (Kerta) dan negara.

Dan sejarah hukum dan tata negara Majapahit ini juga di pakai dalam ideologi negara, Pancasila dan UUD 45, bahkan tercantum hubungannya di pasal 18 UUD 45, BAB Otonomi Daerah, memandang asal-usul istimewa kedaerahan.

Makanya di kesultanan gunungsepuh Banten Darussalam, di bagian artilerinya kerap di beri cap Dul Fakhar ( misal Dul Fakhar Jagur), dari nama pedang Nabi SAW., yang di berikan beliau SAW., pada sayidina Ali ra., sebagai tanda pengangkatannya menjadi Panglima sejak itu.

Hubungannya di sejarah Majapahit dengan kesultanan Banten, di mana juga telah menjadi keturunan sulung / gunung sepuh di antara keluarga besar bangsawan Majapahit, bahkan di sisa keluarga Nabi Ibrohim ‘as., dan dzuriyah cucu Nabi Muhammad SAW dari Panglima Ali radiyallohu ‘anhu.

Dan pada kesultanan Banten juga hak kewenangan kesultanannya utamanya pada keluarga putera mahkotanya.

Makanya di kesultanan biasanya ada kasunyatan sebagai lembaga penasihat dan panduan bersumber agama Islam. Dan pada putera mahkota ada tradisinya belajar dan di bekali pengetahuan agama Islam sedari dini.

Bahkan hingga ke segenap kekeluargaan besar dzuriyah, hingga segenap umat Islam. Bahkan hingga di akademi barat pun terdapat memasukkan di mata kuliah hubungan internasional dengan Islam di kurikulumnya.

Menurut hukum agama Islam, melalui ayat Qur’an soal perkara pembunuhan itu, terdapat di ayat seperti, Di haramkan membunuh sesama manusia yang di haramkan ALLOH SWT., membunuhnya, kecuali dengan alasan yang di benarkan ALLOH SWT. Di agama Islam juga ada di ajarkan anjuran untuk tidak membunuh anak-anak karena sekedar alasan kemiskinan.

Tapi, di  Qur’an juga di kisahkan  Nabi Khidir ‘as., membunuh anak yang di jumpainya. Kemudian Musa ‘as., bertanya kenapa beliau ‘as., membunuhnya.

Dan Nabi Khidir ‘as., menjawab, bahwa beliau ‘as., juga dalam melaksanakan perintah ALLOH SWT., dan kemudian di dapati bukti kenyataan benar, bahwa si anak ternyata jahat, melakukan kedurhakaan dengan melakukan perbuatan dholim jahat membunuh orangtuanya sendiri dengan keji. Jadi ada hubungan hikmat penegakkan keadilan.

Bahkan di Islam di perang pun ada menyesuaikan adab hukumnya, yang juga meliputi banyak urusan, bahkan pula dengan kajian risalah, fiqih, ajaran Islam.

Makanya hingga ada kewenangan Panglima Dul Fakhar, sebagai juga pusat kontrol kekuasaan kekholifahan di muka bumi.

Cuma kontroversinya di masa orba terdapat misal penyimpangan kewenangan Dul Fakhar Jaladi Mantri, misal melalui apa yang di kenal peristiwa Petrus (penembakan misterius), hingga kasus tragedi Banyuwangi, kasus pembunuhan Munir Ketua Kontras, kasus-kasus penculikan dan orang hilang di tragedi 1998.

Atau di masa KIB dengan kasus pembunuhan Nasruddin dengan indikasi keterlibatan ‘Bigbos mafia korupsi. Di mana peristiwa gestapu, masa orba hingga KIB juga di naungi penyimpangan, bahkan korupsi wewenang kekuasaan KKN hingga mafia korupsi/ markus.

Padahal termasuk Presiden sebagai pemimpin Kepala negara pun mesti sesuai  dengan pertanggungjawabannya sebagai pengemban mandataris negara pula.

Tapi juga, posisinya si Pangeran Suriah ada nampak salahnya di hubungkan dengan adab hukum perang di Islam.

Kesalahannya adalah memaksa memalak si Bailan yang di posisinya sebagai Ibnussabil, atau musafir yang sedang kekurangan bekal.

Kesalahan lain, menyerang dengan bertindak kalap, emosional.

Kesalahan lain bertindak salah sebagai penguasa Sultan atau alat penguasa Sultan dengan kebolehan haknya meminta jizyah di wilayah kekuasaan kerajaannya atau sesuai hak kekuasaan kerajaan besarnya pada publik global dengan meminta bahkan memaksa pada jenis anak yatim miskin, fakir miskin, orang ibnussabil yang sedang miskin atau kekurangan perbekalan, atau di kasus pada Bailan sedang perlu satu-satunya kudanya untuk keperluan transportasinya mengantar ke tujuannya.

Bagaimanapun hak kewenangan kekuasaan atau otonomi kerajaan besar seperti pada haknya putera mahkota kesultanan gunungsepuh Banten Darussalam, di mana pula kebolehan penguasa meminta jizyah, hanya untuk keperluan ekonominya yang  juga di sesuaikan keadaannya bila masih miskin, dalam keadaan darurat,dengan mesti sesuai amanat dengan rasa keadilan, dan sesuai pada kebenaran haknya.

Misal di kisah babakan Nabi SAW., hendak menikah dengan Shufiyah binti Huyay ra., puteri pemimpin Yahudi  Khoibar, beliau SAW., pun menyuruh juga pada para sahabat, umat Islam, dan penduduk sekitar membawakan apapun keperluan ekonomi untuk kebutuhan pernikahannya.

Bahkan sebelumnya beliau SAW., juga sempat mengambil ghonimah pampasan dari Yahudi Khoibar. Itu pun mesti dengan mengutamakan menggunakan cara yang baik.

Manusia juga makhluk yang di berikan akal dari ALLOH SWT. Dan Nabi SAW., juga bersabda,” Tiada agama tanpa akal sehat.”

Kekuasaan juga bukan mutlak identik penggunaan kekerasan, yang bahkan di anjurkan di jauhi menggunakan kekerasan dalam kekuasaan oleh Syekh Ibnu Kholdun pada penulisan bukunya, Mukaddimah yang juga di berikan pada Sultan Mamluk di abad 13m., sebagai wasilah pada penggunaan kewenangan kekuasaan Sultannya.

Bahkan beliau juga menuliskan bahwa dengan membuat kesadaran pada masyarakat untuk membayar hak-hak sebagai amanat dengan berlaku adil, justru lebih efektif.

Daripada cenderung  banyak menggunakan kekerasan berlebihan.   Kemudian di Indonesia di lengkapi lagi dengan istilah demokrasi jujur adil.

Di Qur’an, ALLOH SWT., juga berfirman di surat Thoffif (golongan orang-orang curang): Wailulil muthoffifin. Celakalah orang-orang yang berbuat mencurangi pembagian jatah takaran hak masing-masing. Bahkan di lanjutan ayat, ALLOH SWT., juga berfirman, maka siapa berbuat demikian mencurangi takaran hak-hak, bakal di tempatkan di siksa neraka jahanam.

Hingga ke ayat, juga di beri air minumnya dari air minum yang sangat mendidih dan bercampur dengan nanah (nanahnya sesama penghuni neraka yang juga di siksa).

Lagipula di Alkitab Qur’an, ALLOH SWT., juga berfirman, Wahai orang-orang beriman jika menetapkan hukum hendaknya dengan adil. Dan sabda Nabi SAW., Jihad utama adalah pernyataan keadilan. Di samping sabda beliau SAW.,” Bayarlah hak (kebenaran) masing-masing !”

Amerika juga berpepatah,” There’s no peace without justice.”

Apalagi si Bailan juga habis korban kecelakaan. Dan kesalahan lainnya,orang seperti si Pangeran Suriah yang duluan menyulut keonaran, pemanas keadaan, penghasut zholim.

Atau seperti FPI radikal liar. Syiah radikal liar, terorisme dholim. Geng pengendara motor atau mobil vandal, ugal-ugalan mengusik di jalan umum, membuat resiko kecelakaan, yang bagusnya pada dirinya sendiri.

Pengusik hingga koruptor vandal.

Sebagai umat muslim dan sesama umat manusia perlu obyektif/ menilai imbang.

Perjalanan Bailan menuju Yerusalem

Bailan di antar ke kediamannya di Yerusalem dan bertemu Shabyla

Bailan menyaksikan prajurit-prajurit Templar di hukum gantung akibat semena-mena membunuhi orang-orang warga Arab.

Pertemuan dengan Tiberias yang sedang menegur Reginald de Chatilon dan hendak mengadukan pada Raja Yerusalem untuk menyita kastilnya di Karak.

Kenapa kau menyalahkanku Tiberias, kata Reginald. Lagipula saksimu ini orang Sarasen.

Perjamuan makan malam dengan Tiberias dan Shabyla, isteri Pangeran Guy.

Shabyla mengarahkan Bailan untuk bertemu dengan Raja Yerusalem

Raja Yerusalem mengatakan penyakit kustanya di sebut orang-orang Islam sebagai  ‘azab dari ALLOH SWT., yang belum sebanding siksaannya di neraka kelak

Raja Yerusalem mengatakan situasi sedang genting, sedangkan Sultan Salahuddin sedang di atas angin punya 200.000 pasukan di Damaskus., dan jika mau bisa mengambil alih kekuasaan di Yerusalem kapan pun beliau mau. Sementara mulai ada berdatangan duta-duta dari Eropa mendekati Sultan Mamluk, Salahudin.

Di Mesir, Salahudin membangun benteng-benteng bertembok tinggi untuk melindungi putera mahkota Mesir

Sejak Mesir di kuasai dinasti Fatimiyah, nampaknya asal-usul keluarga Raja di Mesir jadi berasal dari keluarga dzuriyah sayidina Hasan dan Husain ra.

Sedangkan Salahudin juga menganggap pengangkatannya sebagai Sultan I Mamluk hanya bersifat sementara.

Dan di Mesir dan Suriah, masih ada putera-putera mahkota yang masih berusia muda.

Di Mesir pun, Salahudin justru juga melakukan perbaikan pembangunan pada kota Mesir.  Tapi, lantaran situasinya masih rawan pecah perang salib kembali, apalagi di pasukan salib juga terdengar info terdapatnya orang-orang penguasa jahat di kubu pasukan Eropa, seperti Guy de Lusignan, Reginald de Chatilon, jadi membuat Salahudin juga mempersiapkan benteng-benteng, pengembangan pasukan dan persenjataannya.

Ksatria Surosena menemukan sumber energi Metamorfosis di Petra, Yordania

Dari pemberitahuan Mbah buyut Antaboga, di sekitar Petra tempat antara 3 raja, terdapat sumber energi Metamorfosis. Yang terkubur bersama para buyut Primus.

Di mana di piramida juga terdapat sumber energi jahat Nagakala.  Tapi piramida juga bangunan peninggalan bersejarah 7 keajaiban dunia di Mesir.

Tugas Ksatria Surosena adalah menghancurkan energi jahat Nagakala di piramida.

Juga para Metamorfosis nagakala yang sedang di siapkan membantu pasukan Salib, oleh Reginald de Chatillon.

Eropa juga punya jaringan penyihir, yang turut membantu ekspedisi pasukan Salib. Yang juga hendak membangkitkan para siluman aliansi Nagakala.

Orang-orang pada sibuk ke Suriah dan Mesir, untuk membantu Panglima besar Salahudin. Sementara di Yordania agak sepi di masa itu.

Ksatria Surosena menyempatkan melesat ke piramida. Sembari mode halimun kostumnya di nyalakan.

Para siluman Nagakala tidak berani mendekati tempat pasukan Salahudin. Karena pasukannya kerap membaca ayat-ayat Qur’an, berdho’a pada ALLOH.

Ayat-ayat Kitabulah yang juga menakutkan bagi siluman.

Tapi bahayanya ketika mereka justru hendak menggempur wilayah lain yang tak terjaga. Juga sebagai wilayah strategis dan kantung perbekalan.

Dan kelompok-kelompok mistis di sekitar Afrika, Timur tengah, Persia juga perlu di dekati oleh Ksatria Surosena.

  • Di masa gencatan senjata

Walaupun menjadi lawan, orang Eropa mengakui Salahuddin sebagai Sultan yang sangat berkuasa. Dalam gambar yang di buat pelukis Eropa, tampak Salahuddin menggenggam bola dunia. Lambang bahwa Salahuddin sangat berkuasa.

Salahudin mulai aksinya melakukan misi merebut benteng-benteng pasukan salib, di antaranya benteng di Homs.

Pada waktu Salahuddin berkuasa, Perang Salib telah memasuki fase kedua.

Walaupun tentara Salib berhasil menguasai kota suci Yerusalem (Perang Salib fase pertama), namun mereka tidak berhasil menaklukkan Damaskus dan Kairo. Bahkan Zangi berhasil membebaskan Edessa yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Eropa.

Kekuatan Muslim sedang menuju kemenangan menurut sejarawan Arab.

Dengan menguasai Mesir dan Suriah, Salahuddin mempunyai kekuasaan besar yang menyudutkan kekuasaan balatentara Eropa, yang di sebut kaum Frank, di Palestina.

Ketika di nobatkan menjadi Sultan, Salahuddin berujar, ” Saat Tuhan memberiku Mesir aku yakin Dia juga akan memberikan Palestina, Insya ALLOH !.”

Namun saat itu antara Salahuddin dan Raja Yerusalem Guy de Lusignan mengadakan gencatan senjata.

  • Fase ketiga Perang Salib

Fase ketiga Perang Salib di picu penyerangan rombongan peziarah dari Kairo yang hendak menuju Damaskus oleh Reginald de Chatillon, penguasa kastil di Kerak yang juga merupakan bagian kerajaan Yerusalem.

Kafilah yang hendak menunaikan haji ini juga membawa saudara perempuan Salahudin.

Pengawal kafilah di bantai dan anggota rombongan di tahan, termasuk saudara perempuan Salahudin.

Dengan demikian, gencatan senjata berakhir dan Salahudin sangat murka.

Pada Maret 1187, setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad.

Pasukan Muslim mulai bergerak, menaklukkan satu persatu benteng-benteng pasukan kristen.

Puncak kegemilangan Salahudin terjadi pada pertempuran di kawasan Hattin.

Tanggal 3 Juli yang kering, 25.000 tentara muslim mengepung tentara kristen yang berjumlah sedikit lebih besar, di daerah pegunungan Hattin yang menyerupai tanduk.

Pasukan muslim terdiri dari 12.000 kavaleri dan sisanya infanteri.

Kavaleri mereka yang merupakan pasukan utama, menunggang kuda Yaman yang gesit.

Mereka juga menggunakan pakaian katun ringan yang di sebut khazagand, untuk meminimalisir terik padang pasir.

Dan warnanya belum tentu hitam. Melainkan menyesuaikan situasi waktu dan tempat.

Mereka terorganisir dengan baik, karena menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Arab.

Dengan di bagi dalam skadron-skadron kecil, mereka menggunakan taktik hit and run.

Sementara pasukan kristen di bagi dalam tiga bagian.

Bagian depan pasukan terdiri dari ordo (kristen) Hospitaler yang di pimpin Raymond dari Tripoli.

Bagian tengah terdiri dari batalion kerajaan yang di pimpin oleh Raja Guy de Lusignan yang membawa Salib Sejati sebagai jimat pasukan.

Bagian belakang terdiri dari ordo (kristen) Templar yang di pimpin oleh Bailan dari Ibelin.

Namun bahasanya bercampur antara Inggeris, Perancis, dan bahasa Eropa lainnya.

Seperti lazimnya tentara dari Eropa, mereka semua mengenakan baju zirah besi.

Salahudin memanfaatkan celah-celah ini. Malam harinya, pasukannya membakar rumput kering di sekeliling pasukan kristen yang sudah sangat kepanasan   dan kehabisan air.

Keesokan harinya, Salahudin membagikan anak panah tambahan pada pasukan kavaleri. Gunanya untuk membabat habis kuda-kuda tunggangan musuh.

Tanpa kuda dan payah karena kepanasan, kristen tampak menyedihkan.

Akibatnya sungguh mengenaskan bagi pasukan kristen.

Hampir semua pasukan terbunuh.

Raymond dari Tripoli dan Bailan dari Ibelin lolos.

Namun Raja Guy dan Reginald de Chatilon berhasil di tangkap.

Jimat Salib Suci berhasil di rebut pasukan muslim dan di bawa ke Damaskus sebagai barang pampasan (Anfal).

Terhadap semua tawanannya, Salahudin memberi dua pilihan.

Menerima Islam dan di bebaskan atau menolak tapi di eksekusi.

Chatilon yang sombong, menolak langsung di pancung.

Namun pilihan itu tidak berlaku bagi Raja Guy. Salahudin memberi alasan, ” Sesama raja tidak boleh saling membunuh!”

Beberapa tahun kemudian, Raja Guy berhasil di tebus oleh pasukan kristen dan di bebaskan.

Yerusalem

Dari Hattin, Salahuddin bergerak membebaskan kota-kota Acre, Beirut, dan Sidon di Utara.

Dia juga bergerak membebaskan Jaffa, Caesarea, Arsuf hingga Ascalon di Selatan.

Sekarang saatnya membebaskan kota impian, Yerusalem.

Dalam membebaskan kota-kota tersebut, Salahudin senantiasa mengedepankan, jalan diplomasi, yaitu penyerahan kota secara sukarela daripada pasukannya menyerbu kota.

Pasukan Salahudin mulai mengepung Yerusalem pada tanggal 26 September.

Saat itu pasukan kristen di kota suci di pimpin oleh Balian dari Obelin dan mempertahankan kota dengan gigih.

Namun pada tanggal 30 September, Salahudin menerima tawaran perdamaian Bailan.

Yerusalem di serahkan dan orang kristen di bebaskan dengan tebusan tertentu.

Di mana fragmen ini pernah di filmkan Hollywood dengan judul Kingdom of Heaven.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s