Mbah Gunungsepuh Maulana Hasanuddin, by Tubagus Arief Z.

Mbah Gunungsepuh Maulana Hasanuddin, by Tubagus Arief Z..

TB Arief Z-art
cover Ksatria Surosena: Pertemuan dengan Fatahilah- Maulana Hasanuddin, by TB Arief Z. Sketsa pensil dan cat air, poster di kertas multimedia Canson A3
TB Arief Z-art

kaos hitam Maulana Hasanuddin, by TB Arief Z. Doc. lukisan Maulana Hasanuddin + Corel Draw X5 + Corel Photopaint X5

 

 

Di UUD 45 pasal 18, BAB Otonomi Daerah, tercantum isi pasal : Pemerintah, MPR, publik wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan.
Dan pasal-pasal UUD 45 telah termasuk di sahkan pengakuannya oleh HAM internasional.

Menurut temuan data Jas Merah dari sumber Sejarah Banten, sisa Gunung sepuh keluarga Raja Pajajaran, ialah Pangeran Maulana Hasanuddin/ Pangeran Sebakingkin, dari latar kakek dari ibunya, Sang Surosowan, putera dari pernikahan Prabhu Siliwangi dengan puteri kentring Manik Mayang Sunda/ puteri dari Prabhu Susuk  Tunggal.

Surosowan punya 1 kakak sulung, yakni Sang Surawisesa, Raja Pakuan Pajajaran yang tewas di perang, ketika Fatahilah merebut kota Surakarta menjadi Jayakarta. Karena Raja Surawisesa melakukan kerjasama dengan penjajah kapital ( Portugis waktu itu), maka di perangi lasykar Jawa.

Kemudian Raja Surawisesa di gantikan puteranya, Surawisesa II, yang sempat mengamuk di Ancol, dan melukai banyak pasukan Demak.

Tapi kemudian juga tewas kena serangan meriam Fatahilah, Panglima panji Macan Ali. Waktu itu Panji Macan Ali adalah panji pasukan khususnya Fatahilah, berbendera Macan Ali.

Dan pasukannya termasuk pasukan kasultanan Banten/ pasukan Surosowan. Dan disampingnya adalah pasukan Cirebon, dan kuningan ( pasukan Sunda). Setelah Raja Surawisesa terakhir tewas. Maka tiada lagi penerusnya Sang Surawisesa, hingga sisa keturunan Gunung sepuh sulungnya tinggal Maulana Hasanuddin/ Sultan Banten I.

Panji Macan Ali ini adalah panji  ( simbol bendera ) yang di gunakan ketika misi merebut kota Surakarta, kemudian mengubahnya menjadi kota Jayakarta. Jadi dari kesimpulan sejarah/ Jas merah, panji Macan Ali ini juga simbol panji lasykar Jakarta pertamakalinya.

Simbol ini di dapat dan mulai di gunakan Fatahilah sejak tiba di Cirebon, bertemu Ki Sunan Gunung Jati. Bahkan simbol ini di sebut di sejarah dari Ki Sunan Gunung Jati.

Simbol Macan ini juga di gunakan oleh Prabhu Siliwangi, Prabhu di masa keemasan Pajajaran. Konon Prabhu Siliwangi punya ilmu 10 macan siluman, bisa merubah wujudnya jadi berbagai macam macan, meliputi kumbang ( panther), tutul/ jagur ( leopard/ jaguar),  harimau, harimau putih, atau singa.

Makanya di sekitar jalur Jawa Barat, di temukan berbagai simbol Siliwangi dengan berbagai macam macan.

Simbol Macan juga di temukan di tugu Ashoka. Dan dari cerita sejarah juga terdapat hubungan silsilah kekerabatan dengan Raja-raja India dan Raja-raja Jawa, Kalimantan, bahkan Indonesia.

Adapun Pangeran Cakrabuana, kakak ibunya Ki Syarif Hidayatuloh/ Ki Sunan Gunung Jati, Nyi Rara Santang, keduanya dari isteri keduanya Prabhu Siliwangi, Nyai Rara Subanglarang yang di jadikan Permaisuri, karena mengikuti syarat nikahnya Prabhu Siliwangi dengannya.

Juga karena Nyai Rara Subanglarang ini turunannya Dipati Mertasinga/Singapura, yang kemudian jadi bawahan kerajaan Pajajaran.

Tadinya Mertasinga bernama Tumasik, bawahan Keprabon Mojopahit.

Kemudian lantaran situasi di Mojopahit makin kacau, dengan para pembesar/ pejabat korupsi, beberapa kerajaan yang tadinya bawahan melepaskan diri satu-persatu. Dan di antara yang melepaskan diri, termasuk wilayah Pajajaran di ambil Pajajaran jadi bawahannya.

Tadinya Tumasik sempat hendak di rebut oleh Raja Pahang/ Raja Siam/ Raja Thailand.

Tapi karena sifatnya Raja Pahang yang di cerita sejarah juga pernah berselisih dengan Paramisora yang kemudian jadi Raja I Malaka, juga kejam, semena-mena, maka Dipati Mertasinga memilih bergabung dengan kerajaan Pajajaran.

Terdapat cerita juga, Sultan Demak III, Trenggono ketika tiba di Jawa Barat, di cemooh oleh orang-orang Sunda, karena membuat krisis ekonomi pada penduduk Jawa.

English: Banten City, year 1724
English: Banten City, year 1724 (Photo credit: Wikipedia)

Jas Merah Maulana Hasanuddin sejak bertakhta jadi Sultan Banten pertama dan berdirinya kasultanan Banten, membuat kasultanan Banten yang sangat besar perkembangannya, di bandingkan masa-masa sebelumnya di perintah oleh Dipati-dipati Banten sebelumnya, bahkan di masa kerajaan pertama di Banten, Salakanegara.

Bahkan sejak menjadi Sultan pertama Banten, sepak terjang Maulana Hasanuddin langsung menguasai segenap Banten, dengan menaklukkan kerajaan Banten Girang ( Banten selatan/ kulon), yang pernah terkenal sebagai penghasil kerajinan emas dan logam yang kaya raya. Contohnya hingga kini, tambang besi Cilegon.

Kemudian Maulana Hasanuddin juga membuat kota Jayakarta (kini ibukota DKI Jakarta, Indonesia)  di bawah kekuasaan Sultan Banten. Di samping juga merebut wilayah eyang buyutnya Prabhu Siliwangi menjadi Raja Pajajaran, yang terkenal dengan hasil kerajinan ukirannya/ penghasil perkakas ukir dan seni), Jepara di Jawa Tengah.

Bantam (Banten) Xacatara (Jayakarta) Cherebum ...
Bantam (Banten) Xacatara (Jayakarta) Cherebum (Cirebon) Taggal (Tegal) Margam (Semarang) Damo (Demak) Iapara (Jepara) Tubam (Tuban) Sodaio (Sedayu, now near Gresik) Surubaya (Surabaya) (Photo credit: Wikipedia)
Bahasa Indonesia: Peta sejarah Kesultanan Bant...
Bahasa Indonesia: Peta sejarah Kesultanan Banten 1527–1813) Jawa bagian Barat. Dibuat dan disempurnakan berdasarkan “Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia”, PT Pembina Peraga Jakarta 1996. (Photo credit: Wikipedia)

Bahkan Demak, sejak Sultan Trenggono hingga wafatnya hanya pernah menguasai Semarang dan Demak. Tapi tidak menguasai Jepara.

Jepara ini juga tempat kelahiran tokoh emansipasi perempuan, penulis “Habis Gelap terbitlah terang,” Raden Ajeng Kartini.

Jepara juga terkenal dengan hasil kerajinan kacanya. Kalau di Cirebon dengan pelukis kacanya.

Di sekitar kawasan Malioboro, Jogjakarta, juga pernah nampak beberapa pembuat kerajinan kaca, secara spontan.

Karena latar untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, Maulana Hasanuddin kemudian melakukan ekspansi ke Sumatera, untuk menguasai wilayah perkebunan rempah-rempah, dan mendapatkan wilayah Lampung.

English: The grave of Maulana Hasanudin, Sulta...
English: The grave of Maulana Hasanudin, Sultan of Banten (1552-1570) Bahasa Indonesia: Repronegatif. Makam Maulana Hasanudin, Sultan Banten (1552-1570) Nederlands: Repronegatief. Het graf van Maulana Hasanudin, Sultan van Banten in the periode 1552-1570 Basa Sunda: Répronégatif. Pasaréan Maulana Hasanudin, Sultan Banten (1552-1570) (Photo credit: Wikipedia)
Surosowan art history doc
Doc. Sultan Banten Abdul Mufakhir. Sumber : lukisan seniman grafis Perancis abad 17 m. Dan efek Adobe Photoshop CS 6, by Tubagus Arief Z
Surosowan art history doc
Pasar Banten (doc. Surosowan art history ), efek Adobe Photoshop CS 6 by TB Arief Z.
 Surosowan art history doc
Doc. Rempah Pamarican cabang perusahaan kasultanan Banten Darussalam, by Tubagus Arief Z. Prince Throne and Art Director at Sultanate Surosowan palace, Banten Darussalam

Hingga kini pun, wilayah perkebunan di Lampung yang membesarkannya adalah petani-petani Jawa, juga sejak program transmigrasi yang di canangkan Presiden RI kedua, purn. Jenderal Soeharto. Termasuk pada konservasi gajah-gajah di Lampung, bahkan hingga pelatihan gajah-gajah menjadi hewan kendaraan tunggangan bahkan hewan sirkus. Hingga terdapat pertandingan sepakbola Gajah.

Di kulon, bahkan di beritahu saudara, telah terdapat pagar beton, walaupun populasi Badak Banten sebagai sisa Badak Jawa juga memperihatinkan dengan cuma sisa keberadaan 4 badak betina, buat badak jantan yang berjumlah lebih banyak, walau tidak banyak juga jumlahnya.

Tapi mungkin info pagar beton cagar satwa ini bisa berguna, seperti dengan cerita di pulau Komodo, antara sisa komodo dengan penduduk setempat.

Dan mungkin juga perlu impor Badak betina buat Badak jantan Banten/Jawa, seperti Pangeran Banten/ Jawa, dan pria Indonesia pernah impor perempuan mancanegara sebagai isteri pelaminannya.

Dan di sejarah pula di temukan informasi, bahwa di masa Sultan Banten kesekian, pernah terjalin hubungan erat dengan Raja Landak di Kalimantan.

Raja Landak tersebut kemudian menjadi Sultan Pontianak, atau bergelar Sultan Hamid.

Location of Banten in Indonesia
Location of Banten in Indonesia (Photo credit: Wikipedia)
Museum Fatahilah, Front Facade
Museum Fatahilah, Front Facade (Photo credit: DMahendra)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s