JURNAL PETUALANGAN AGEN KOMIK 005 SUROSENA: ROMANTIKA MASA KLASIK: SULTAN BANTEN TERAKHIR

Surosowan Tb Arief Z-art
Sketsa-1 Romantika masa klasik
Surosowan-art doc
sketsa desain-1 Romantika masa klasik. By Tb Arief Z. 2007.
Surosowan Tb Arief Z-art
sketsa-1 hal komik petualangan agen 005 Surosena :Romantika masa klasik: Kedatangan Belanda di Banten. By Tb Arief Z (2012)
Surosowan-art doc
sketsa-1 hal : pertempuran kapal Belanda vs Inggeris di laut Jakarta. By Tb Arief Z.

TERPUKULNYA KESULTANAN BANTEN AKIBAT MELAWAN DAENDELS DAN TAWARAN INGGERIS MELALUI RAFFLES PADA KELUARGA KESULTANAN BANTEN DARUSSALAM

Ironis memang, di catatan sejarah, melalui web sejarah, ada yang menyebut kesultanan Banten memang terpukul, setelah di serbu Daendels dan pasukan Belanda. Seolah biarkan saja sudah nasibnya kerajaannya terpukul, di hapus.

Bahkan hingga ada yang mengatakan kesultanan Banten Darussalam sudah tiada.

Tapi, di tiadakannya oleh siapa, apa dengan kekuasaan yang sah dan hak si peniadanya.

Atau hingga pula mengabaikan rasa keadilan pada haknya keluarganya putera mahkotanya kesultanan Banten Darussalam, yang juga gunungsepuh di Jawa, dari Mojopahit atau Pajajaran, juga termasuk dzuriyah cucu Nabi SAW.

Padahal orang belajar agama juga tau, pamali atau haram mencurangi hak sesama. Berlaku adil, bersaksi adil juga amanat. Dan Nabi Muhammad SAW., juga bersabda,Jihad utama adalah pernyataan keadilan pada penguasa dholim.

Tapi ironis pula Daendels melakukan misi proyek pembangunan jalan rayanya dari Anyer ke Panarukan, dengan membuat penduduk Jawa di jadikan pekerja paksa, di pecut, di tindas, di aniaya, bahkan di bunuh dengan keji, hingga di jarah harta segenap penduduk Jawa.

Tapi siapa yang melawan Daendels waktu itu?

Sedangkan kerajaan-kerajaan di Jawa mulanya tidak bereaksi apa pun, di mana reaksinya Mataram,  tapi kesultanan Banten duluan yang menentang pada Daendels.

Akibat penduduk di Banten tinggal 40.000 keluarga dan mendengar penindasan Daendels pada segenap penduduk Jawa

Di segenap Jawa hampir habis dayanya di jarah hartanya, dan banyak penduduknya di jadikan pekerja paksa oleh Daendels.

Bahkan ketika di jadikan pekerja paksa pun, hingga ada yang di aniaya, di pecut, walau sakit di paksa terus bekerja atau di bunuh.

Tapi, Gubernur Jenderal Daendels kolot dengan rencananya untuk terus membangun proyek jalan raya penghubung dari Anyer ke Panarukan, Jawa Timur.

Bagaimanakah keadaan di kerajaan-kerajaan lain di Jawa?

Namun Gubernur Jenderal Daendels nampaknya jadi seringnya mengirim utusan ke istana Surosowan, kesultanan Banten Darussalam.

Kiriman utusannya dengan di pimpin Kapiten Du Puy, peranakan Belanda-Perancis, dengan regu pasukan, biasanya menagih pajak dan meminta tambahan penduduk untuk pekerja di proyek jalan rayanya.

Lama-kelamaan kedatangan utusan Daendels membuat Mangkubumi Banten kesal.

Ketika Kapiten Du Puy sudah masuk ke halaman istana, langsung di datangi Mangkubhumi dan melayangkan goloknya. Hingga langsung putus menggelinding jatuh ke tanah kepalanya.

Regu pasukannya tidak berani bereaksi. Padahal Mangkubumi Banten seorang diri memegang golok berlumuran darah Kapitennya.

Regu pasukan Belanda langsung membawa jenazah Du Puy sambil memungut kepalanya. Kemudian membawa jenazah Kapitennya tanpa kepala menghadap ke Daendels di Batavia.

Gubernur Jenderal Daendels menjadi gusar setelah mendapati pasukan utusannya membawa jenazah Kapiten Du Puy tanpa kepala.

Daendels langsung mengerahkan pasukan untuk menggempur istana Surosowan.

Di tengah jalan, regu pasukan Perancis di pimpin Letnan Du Puy, mendengar mengenai rencana Daendels ke istana Surosowan.

Entah Letnah Du Puy ini juga masih ada hubungan kerabat dengan Kapiten Du Puy yang peranakan Belanda Perancis. Atau memang nama perwira tinggi Perancis di sebutnya Du Puy.

Tapi, di sejarah sebelumnya pula telah terdapat hubungan antara kesultanan Banten dengan Perancis.

Bahkan di gambaran sejarah masa abad 17 m., nampak karya-karya seniman perupa Perancis membuat lithografi mengenai kesultanan Banten Darussalam. Tapi, memang sebagian orang Perancis juga nampak sombong, juga rasisme dan pro ke zionisme Israel.

Tapi ada pula yang bergaul dan tidak nampak sombong. Sama seperti orang Italia.

Biasanya orang Perancis yang tidak sombong seperti peranakan Aljazair, contoh Zinedine Zidane. Dulunya sejak masa Kaisar Louis XVI, di Perancis terdapat kegemaran mengkonsumsi cokelat. Dan cokelatnya juga berasal impor dari Jawa.

Kaisar Louis XVI bahkan pernah berkenalan dengan Kaisar Sultan Banten, Mohammad Syapah.

Tapi, kemudian nasib lain terjadi pada Kaisar Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette, dengan di kenai hukuman sanksi dari rakyatnya, kena penggal pisau guillotine.

Sedangkan Kaisar Sultan Banten, Mohammad Syapah masih di cintai rakyatnya. Padahal Kaisar Sultan Banten juga sedang kaya waktu itu.

Tapi, karena sistem kewenangan/ otonomi kekholifahan Sultan dengan menjalankan baitul mal ekonomi kerakyatan, menerapkan tradisi lingkaran saweran, ekonomi syari’ah dengan penegakkan rasa keadilan dan benar.

Juga berbeda dengan kekaisaran Perancis yang kaya raya tapi menjadi Dewa kapitalisme, arogansi borjuis elitisme kapitalisme sendiri, dengan korupsi pejabat, pemborosan sia-sia uang negara dan rakyat, tanpa abaikan demokrasi rasa keadilan rakyatnya, di samping menindas pula dengan penjara Bastille, maka demikian nasibnya.

Kemudian Letnan Du Puy mencoba menghadang melalui jalan lain di hutan.

Pertempuran sempat terjadi antara pasukan Perancis Letnan Du Puy dengan pasukan Daendels.

Tapi, karena jumlah pasukan dan kekuatan senjata tidak seimbang, regu pasukan Perancis bersama Letnan Du Puy habis di bantai pasukan Daendels.

Di perang Eropa pun, Napoleon mulai terdesak oleh Inggeris dan sekutu-sekutunya. Nampaknya Inggeris kembali menjadi pemenang perang dan kerajaan adidaya penguasa internasional, melalui Eropa.

Napoleon Bonaparte ialah pula serdadu keturunan Perancis-Italia kemudian mengangkat dirinya jadi Kaisar Perancis mengambil keuntungan dari manipulasi politik dari kejadian revolusi rakyat Perancis.

Napoleon yang menyerah, kemudian di buang ke Siberia. Hingga mangkat di pembuangan terakhirnya.

Inggeris pun mengalahkan sosok pemimpin diktator, Napoleon.

Di abad 17 m., sejak Oliver Cromwel dari Parlemen Inggeris menuntut Commonwealth, membuat kerajaan Inggeris menjadi monarki demokratis.

Apalagi di antara Raja Inggeris sebelumnya juga telah ada yang tewas terkena pemberontakan rakyatnya. Lantaran dulunya menjalankan monarki absolut imprealisme , tirani kolonialisme dan arogansi elitisme.

Makanya utusan Inggeris dulu di abad 16m., juga di jarah rayah kapalnya, dan di bakar di Banten. Di waktu Inggeris pun masih jadi kerajaan kolonial, arogan dan penindas termasuk di Amerika.

Daendels kemudian dengan pasukannya menggempur habis-habisan istana Surosowan. Bahkan sempat terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda, dengan penduduk yang telah ikut menolong menjaga istana Surosowan, Mangkubhumi dan Sultan Banten.

Tapi kemudian walau dengan susah payah pasukan Daendels menduduki istana Surosowan. Mangkubumi di suruh di tangkap, kemudian di keroyok serdadu Belanda dan di gantung di tiang istana Surosowan.

Mangkubhumi Banten pun gugur sebagai pahlawan. Tapi, anehnya namanya bahkan tidak di cantumkan sebagai pahlawan nasional.

Sultan Mohammad Rafiudin di tangkap, kemudian di buang ke penjara di Surabaya. Maka sejak itu pula, terdapat pula orang Surosowan dan Banten juga ada di Surabaya. Bahkan pula keluarga putera mahkota kesultanan Banten yang juga masih punya kerabat di Surabaya.

Banten memang terpukul sejak Daendels dengan curang memboikot takhta Sultan Banten dari haknya keluarga putera mahkota kesultanan Banten Darussalam, dengan turut menangkap dan membuang Sultan Mohammad Rafiudin.

  • Kedatangan Sir Thomas Stamford Raffles melalui Banten ke Jawa

Sejak Inggeris menjadi pemenang perang di Eropa, kerajaan Inggeris pun mengutus utusan kehormatannya, Sir Thomas Stamford Raffles, hingga ke Jawa.

Walau Perancis telah kalah di perang Eropa, tapi Raja Belanda masih berlindung pada Raja Inggeris, lantaran wilayahnya Belanda di duduki pasukan Perancis.

Raffles tiba pertamanya di Banten. Sama dengan Daendels melalui pendaratan kapalnya di Anyer.

Setelah tiba di Banten, kedatangan Raffles juga di sambut melalui kiriman surat Dipati Semarang, Suramenggala. Bahkan di suratnya buatan Dipati Suramenggala yang juga pandai melukis, ia juga melukiskan gambaran cerita Prabhu Watugunung dengan ujud brahala Batara Guru bertangan empat dengan ular-ular hijau. Sebagai penggambaran mengingatkan pada kisah kesultanan Banten Darussalam.

Cerita wayangnya, Prabhu Watugunung dengan pasukannya dengan berani menggempur negeri Suralaya. Bahkan nyaris mengalahkan kerajaan Suralaya. Kemudian gugur sebagai pahlawan wayang, bersama pasukannya.

Tapi masih ada sisa anaknya, Raden Sindula juga cucu Pandawa yang juga dari hasil pernikahannya Prabhu Watugunung dengan Dewi Suralaya, dengan di jaga pamong Semar dan punakawan. Seperti terdapat di cerita Manik Maya, tulisannya Tanto Panggelaran, Empu Majapahit abad 13 m.

Sir Thomas Stamford Raffles juga tertarik dengan seni budaya Jawa. Makanya ia juga melakukan penelitian. Bahkan mungkin misi-misi penelitian sejarah, arkeologi Jawa di mulai sedari masanya.

Nampak di lukisannya Raffles sangat menggemari pada arkeologi dari candi Borobudur. Padahal di masanya candi Borobudur juga belum di gali maksimal. Mungkin baru di temukan sebagian dari tanda arkeologinya berupa patung Budha emas dari candi Borobudur yang nampak di lukisannya Raffles.

Tapi, arca yang paling di sukai oleh Raffles adalah arca Prabhu Kahuripan, Airlangga. Nampak Raffles juga mendalami cerita-cerita purba Jawa. Dan yang paling di sukainya cerita Prabhu Airlangga. Karena di kisah Prabhu Airlangga juga terdapat makna seni budaya. Bahkan di ceritakan ada pula unsur mistisnya, bagaimana Prabhu Airlangga sedari memenangkan perang, dari sebelumnya bangkit dari kekalahan, bahkan dengan musuh sebangsanya kerajaan Wara-wuri yang pengkhianat, kemudian dengan di bantu Empu Bharada dan para Empu bisa menata air, membangun seni budaya di masa kerajaannya Kahuripan berdiri dengan menghasilkan kemajuan pesat.

Mungkin ada kesamaan dengan Inggeris yang juga baru memenangkan perang terhadap Perancis di Eropa.

Nyatanya, Inggeris melalui Raffles mendapat inspirasinya juga dari Jawa.

Ada yang pendapat kisahnya Prabhu Airlangga di sekitar abad 10 m., tapi ada pula orang Malang berpendapat justru lebih purba masanya, bahkan jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW., di abad 6 m.

Tapi ada pula dugaan dari buatan kolonial Belanda pula, seolah di masa kerajaan purba Jawa, telah pula tidak ke Islam, maka di manipulasi masa tanggalan tahunnya. Hingga juga ke penanggalan tahun masa kerajaan Mataram purba sedari masa wangsa Sanjaya.

Padahal ada pula temuan sejarawan, bahwa Islam telah masuknya ke Indonesia bahkan sejak awal abad 7 m.

Tapi, yang menarik adalah ketertarikannya Raffles menemukan terdapatnya harta karun di Jawa, yang bahkan belum seluruhnya terdapatkan.

Pemberontakan di daerah dengan merampok dan turut membuat orang-orang Belanda terbunuh

Tapi, di Cirebon pun terjadi pemberontakan. Orang-orang Belanda yang kena sasaran. Keluarganya ada yang di rampok bahkan di bunuh.

Namun kemudian pula Daendels menghasut Raffles, ketika orang-orang Surosowan kembali mentahbiskan putera mahkota menjadi Sultan Banten, untuk menindaknya.

Sekalian mempengaruhi Raffles untuk memadamkan pemberontakan di Cirebon. Padahal rentetan kejadian juga akibat biang dari ulahnya Daendels yang telah berusia tua.

Dan Raffles setuju, mengirimkan pasukan ke Cirebon, tapi sebelumnya bertindak di Banten dulu.

Kemudian Raffles duduk di singgasana Sultan Banten, dan berkata,”Sayalah Sultan Banten.”

Tapi, Raffles juga kemudian memberikan kedudukan pejabat-pejabat tinggi Bupati pada keluarga kesultanan Banten, termasuk dengan sekerabatan dekatnya P. Wijayakrama (P.Jayakarta), dengan menjanjikan upah gaji tinggi, dan syarat para Bupati juga mengumpulkan hasil pendapatan daerah dengan membayar pajak padanya setiap tahunnya.

Memang sejak dulunya, di antara keluarga P. Banten dan P.Jayakarta sepertinya ada yang di bagi-bagi tugas, ada yang di bagi mengikuti tawaran dari Raffles, jadi Bupati-bupati, ada juga yang menjadi pemimpin-pemimpin kelompok pendekar di Banten dan sekitar Jawa Barat. Ada pula karena memiliki ilmu bela diri tinggi, juga di tempatkan jadi mandor.

Tapi, sebagai mandor pun atasannya masih kerabatnya sendiri, dari sesama keluarga besar kesultanan Banten Darussalam. Karena setelah di angkat jadi Bupati bangsawan Bantennya juga punya sampingan jadi  tuan tanah / juragan. Kalau di Mataram istilahnya di sebut bendoro.

Memang ironisnya jika di jaman modern, yang namanya bos seolah hanya identik bos Tionghoa, bos bule, bos India. Dan seolah dari masa penjajahan juga identiknya struktur bangsa Indonesia demikian, padahal tidak.

Walau sejak sebelum datang Belanda, hingga masa kolonial, Hindia, tetap ada perusahaan kesultanan sendiri yang juga dengan susunan/struktur feodal bumiputera.

Memang dulunya prajurit Indonesia juga berasal dari pendekar-pendekar bela diri, mulanya. Dan para pendekar bela diri juga mulanya sejak dulu di suruh di baiat, di suruh berjanji juga mengabdi  buat kesultanan di tempatnya, asal gurunya.

Dasar bela diri juga self defense, tapi di Indonesia karena Sultan juga ada yang dzuriyah turunan Nabi SAW., di mana di baiatnya pula di suruh ucap kalimat syahadatain, dan bersholawat, secarat otomatis pula di baiat menjadi bawahan cucu Nabi SAW., juga keluarga Sultan.

Para Pangeran Banten jadi setuju menerima tawaran Raffles, karena Raffles dan Inggeris sikapnya lebih baik ketimbang Daendels dan Belanda yang kasar dan pelit, juga keterlaluan penjarah ketika menjadi penjajah / kolonial di Indonesia.

Lagipula Inggeris juga negara kaya, di samping punya kongsi persatuan dagang internasional, EIC. Kemunculan EIC juga termasuk membuat VOC jadi menurun. Bahkan di sebut oleh sejarawan pada masa kemudian VOC tiba-tiba bangkrut.

Berbeda dengan Belanda yang sedari merdeka dari Spanyol, berawal dari negara miskin, bahkan modalnya membangun pondasi hingga menjelma menjadi negaranya yang terkenal di bangun di bawah permukaan laut, dominan modalnya dari menjajah dan menjarah harta, penghasilan di Indonesia.

Sedangkan Raffles, memberi syarat pajak tahunan dari pendapatan daerah, di mana hartanya pula untuk di putar lagi ke bumiputera, untuk gaji-gaji bupati, pegawai, staf, menciptakan struktur lapangan kerja buat bumiputera. Walau kontroversinya sebagai kolonial.

Peninggalan masa Raffles yang terkenal adalah kebun raya Bogor, dan sarana-sarana penelitian tanaman. Seperti pula di Bosbow, dulunya pula Pangeran Mohammad Damien termasuk tuan tanah di sana.Makanya tempatnya bernama Bosbow, dekat jl. Pasirkudajaya.

Dulunya sekitar kabupaten Ciomas, jl. Pasirkudajaya, kebanyakan berfungsi sebagai wilayah perkebunan, penelitian pohon-pohon dari jenis tua hingga muda seperti di Bosbow.  Bahkan di Kebun raya Bogor juga pernah di sebut sebagai area asal berbagai jenis bibit tanaman yang di sebar ke segenap penjuru wilayah Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.

Di masa Raffles, juga menemukan semacam tanaman bunga langka raksasa di Jawa, yang juga di namai bunga Rafflesia Arnoldi. Tapi, kemudian bunga itu hilang.

Surosena jadi teringat Pakdenya dari keluarga ayahnya, yang lulusan UI yang dapat kesempatan sebagai mahasiswa pertama Indonesia mendapatkan beasiswa ke Universitas Michigan, AS, di jurusan Insinyur Pertanian (Agriculture Engineering).

Pakde seperti ayahnya sama berasal dari hadiningrat Yogyakarta, memang di generasinya jadi orang-orang hebat semua, bapak bisa jadi perwira AL, Om jadi perwira AU, dan Pakde lulus sebagai Profesor Insinyur Pertanian. Pakde kemudian di angkat menjadi dosen angkatan pertama di IPB.

Dulunya yang jadi mahasiswa hingga lulusan akademik berprestasi dari hadiningrat Yogyakarta semua, termasuk hingga mantan Presiden RI kedua,purn. Mayor Jenderal Pangkostrad Soeharto. Juga sebagai Komandan dan Panglima berprestasi dengan peristiwa serangan umum Maret 1946, dan Operasi Irian Barat 1963.

Tapi pula, seperti ada masanya, hadiningrat Yogyakarta juga bertemu hadiningrat Surakarta yang tak mau kalah, lantaran mungkin pula ada pengaruh pralaya dulu. Bahkan dari antara hadiningrat Surakarta itu yang memulai duluan kerjasama dengan VOC dulunya, ada yang seperti penjegal, atau pengkhianat internal, bermuka dua.

Apalagi ketika di masa pemerintahan kemudian pula di beri menempati posisi-posisi tinggi di pemerintahan, instansi-instansi, institusi. Maka seperti masa Mataram melalui perang Giyanti dan jadi terpecah-pecah, di mulainya akibat duluan dari keraton Surakarta bersekutu berantek dengan kapitalisme VOC.

Yang juga berintrik kolusi korupsi, katebelece dan korupsi pula. Makanya hingga ada istilahnya Sontoloyo.

Raffles tidak betah di Batavia karena juga tidak suka berdekatan dengan Daendels

Perjanjian Raja Inggeris dan tuntutan utama Raja Belanda untuk menyerahkan Hindia kembali buat Belanda

Tapi, kemudian Inggeris mesti menyerahkan lagi Hindia pada Belanda, melalui perjanjian Raja Inggeris dengan Raja Belanda, hingga sempat melalui masa Kulturstelsel di masa gubernur Van den Bosch, dengan perlawanan Pangeran Diponegoro, dan di bantu para Pangeran Mataram, Mangkubhumi, Kiai Maja, Sentot Prawiradirdja.

Setelah mendapatkan instruksi Rajanya, Sir Thomas Stamford Raffles dengan pasukan Inggeris dengan berat hati meninggalkan Jawa

MELALUI MASA PERANG DIPONEGORO (1825-1830) DAN PENGANGKATAN KEMBALI SULTANA RATU KAHINTEN DI KESULTANAN BANTEN DARUSSALAM

Belanda sebenarnya kewalahan menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro dan laskarnya. Hingga membuat Belanda mengerahkan konsentrasinya di Jawa Tengah.

Sekitar ratusan ribu serdadu Belanda di Jawa gugur menghadapi Pangeran Diponegoro dan laskarnya. Mulanya Pangeran Diponegoro dan laskarnya yang mendapatkan keunggulan menguasai medan pertempuran dengan Belanda.

Hingga membuat Belanda menambah pasukannya merekrut dari orang Afrika, yang di kebiasaan waktu itu di jadikan budak, kemudian di jadikan serdadu Belanda.

Pasukan Belanda menyerang dan menawan keluarga Sentot Prawiradirja di desanya.

Walau Belanda kehilangan banyak serdadunya, tapi dasar sifatnya orang Belanda keras. Tak mau kalah begitu saja.

Taktik Belanda adalah kemudian mengincar pada keluarganya di antara senopati andalannya Pangeran Diponegoro. Dan tertuju sasaran pada Sentot Prawiradirja.

Kisah pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman

Ketika Raden Saleh Syarif Bustaman berusia anak-anak, segenap keluarga bangsawan Mataram jadi turut di datangi dan di awasi  Belanda.

Tapi, Belanda rupanya juga tidak tahu jika masih ada peranakan Mataram di Banten. Yang ketat di awasi hanya yang di Jawa Tengah.

Kesultanan Banten menobatkan kembali takhta Sultana Banten Darussalam pada Ratu Kahinten

Justru ketika Belanda sangat sibuk berkonsentrasi di Jawa Tengah menghadapi Pangeran Diponegoro dan pasukannya, situasi di Banten jadi kembali kendur dari keberadaan kolonial Belanda dan pasukannya.

Dan waktu itu keluarga putera mahkota kesultanan Banten yang paling kuat di tahbiskan Ratu Kahinten.  Walau tradisinya kesultanan Banten, biasanya putera mahkota yang di tahbiskan menjadi Sultan Banten.

Ratu Kahinten juga peranakan keluarga putera mahkota istana Surosowan dan keraton Kota Gede, Mataram.

Seusai perang Pangeran Diponegoro, Belanda kemudian berupaya mengubah gaya pemerintahannya di Hindia.

Memang pernah nampak di foto hitam putih, dengan penampakkan orang-orangnya bendoro Mataram nampak dengan memegang cemeti juga mencambuk, tapi bukan pada pekerja atau rakyat kecil, melainkan pada terpidana pelaku kejahatan korupsi yang kena sanksi pengadilan kesultanan Mataram.

Bahkan orangnya nampak berpakaian seperti pejabat elit Jawa/ pejabat elit bumiputera.

Dan orang-orang pemegang cemetinya  juga seperti petugas aparat negara sendiri di masa kini. Tapi di bawah wewenang Sultan masa itu.

Kemudian si terpidana sanksi, karena pejabat laki-laki biasanya masa itu, yang bahkan pelaku korupsi, kemudian di suruh membuka pakaian beskapnya, kemudian di punggungnya yang terbuka di cambuk berkali-kali sesuai sanksi.

Hingga di punggungnya nampak bekas-bekas cambukan pula sebagai bekas tanda malunya sebagai koruptor.

Tapi, ironisnya hanya foto itu yang di tampakkan di buku pelajaran sekolah pada siswa.

Padahal jika melihat alat-alat penyiksaan yang bahkan tajam-tajam dan pengadilan subversif semena-menanya kolonial Belanda yang terang-terangan sebagai penguasa tidak sah di tanah air, malah tidak di perlihatkan di buku-buku sejarah. Contoh seperti yang terdapat di dalam museum Fatahilah.

Bersambung ke : Romantika Masa Klasik: Perang Dunia I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s